DLH Mataram Optimalkan Penanganan Sampah di TPS Bintaro Pasca Pembatasan TPA
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram terus mengoptimalkan penanganan sampah di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Bintaro. Langkah ini diambil menyusul normalisasi operasional TPA Kebon Kongok setelah sempat memberlakukan pembatasan ritase buang samp
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), mengambil langkah sigap dalam mengoptimalkan penanganan sampah di Tempat Penampungan Sementara (TPS) Bintaro. Upaya ini dilakukan untuk mengembalikan kondisi TPS agar dapat beroperasi normal setelah sebelumnya mengalami penumpukan. Fokus utama DLH saat ini adalah membersihkan TPS Bintaro secara menyeluruh dan efisien.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, Nizar Denny Cahyadi, menjelaskan bahwa pihaknya terus melakukan upaya maraton dalam menangani persoalan sampah di kota. Pembersihan TPS Bintaro menjadi prioritas utama untuk mengatasi dampak dari kebijakan pembatasan ritase di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok, Kabupaten Lombok Barat.
Kebijakan pembatasan ritase buang sampah di TPA Kebon Kongok mulai diberlakukan sejak Desember 2025 karena adanya penataan landfill. Pengurangan ritase dari empat menjadi hanya satu ritase membuat Kota Mataram harus mencari alternatif lahan penampungan sementara untuk volume sampahnya.
Strategi Penanganan Sampah di TPS Bintaro
Pemanfaatan TPS Bintaro sebagai lokasi penampungan sementara menjadi solusi darurat bagi DLH Mataram. Selain TPS Sandubaya, TPS Bintaro dipilih meskipun sempat menuai kritik karena lokasinya yang berada di jalur utama menuju kawasan wisata internasional Senggigi. Nizar Denny Cahyadi menegaskan bahwa tidak ada lahan alternatif lain yang memadai untuk menampung volume sampah yang signifikan.
Pembatasan ritase di TPA Kebon Kongok, yang berlaku sejak Desember 2025, secara drastis mengurangi kapasitas pembuangan sampah dari Kota Mataram. Situasi ini memaksa DLH Mataram untuk mencari solusi cepat agar sampah tidak menumpuk di jalanan kota. Penggunaan TPS Bintaro, meski tidak ideal, menjadi pilihan terbaik dalam kondisi darurat tersebut.
Setelah operasional TPA Kebon Kongok kembali normal dengan empat ritase sejak awal Maret, DLH Mataram langsung bekerja optimal. Pihaknya fokus untuk menuntaskan pengangkutan sampah di TPS Bintaro yang sempat menumpuk. Peningkatan ritase pengangkutan sampah kini dilakukan secara drastis untuk mempercepat pengosongan lokasi tersebut.
Progres dan Target Pembersihan TPS Bintaro
Saat ini, progres pembersihan di TPS Bintaro telah mencapai lebih dari setengah volume sampah yang ada. Sisa sampah yang tertinggal diperkirakan hanya sekitar 1.000 ton, dengan target penyelesaian segera. Peningkatan ritase pengangkutan sampah menjadi kunci, di mana petugas mampu melakukan hingga empat ritase pengangkutan dalam sehari.
Dengan kapasitas satu truk yang mencapai 2 hingga 3 ton, DLH Mataram mampu mengangkut sekitar 120 ton sampah setiap harinya. Angka ini menunjukkan komitmen dan upaya keras dalam mengatasi penumpukan sampah. Target penyelesaian pembersihan TPS Bintaro diharapkan dapat tercapai seiring dengan dibukanya akses penuh di TPA Kebon Kongok.
Selain upaya di TPS Bintaro, DLH Mataram juga terus mengoptimalkan pengurangan volume sampah di TPS Sandubaya. Dua mesin insinerator yang telah memenuhi baku mutu standar lingkungan, termasuk unit bantuan dari Korea, digunakan untuk mereduksi sampah. Mesin-mesin ini mampu mereduksi sekitar 20 ton sampah per hari, dengan kapasitas masing-masing mesin 10 ton melalui dua kali pembakaran.
Sumber: AntaraNews