Demi Tugas Negara: Kaki Kanan Rumah Sakit, Kaki Kiri Kuburan
Hampir dua dekade Ipda Maulana bertugas, tak terasa dua anaknya mulai tumbuh besar.
Seragam coklat yang melekat di badan menuntun Ipda M. Maulana Kesuma Bakti, pada dua pilihan yakni keluarga dan tugas negara. Ia kerap ‘mengorbankan’ anak dan keluarga demi mematuhi tugas dari atasan.
Hampir dua dekade Ipda Maulana bertugas, tak terasa dua anaknya mulai tumbuh besar. Hingga kerap kali, ia mendengar keluhan dari sang anak. Dan itu amat mengiris batinnya.
“Ayah, kapan kita punya waktu bersama?” kata Maulana menirukan suara anaknya di Mapolda Jambi, Jumat (20/6).
Pertanyaan itu tidak muncul begitu saja, kata Maulana, sebab selama dia menjalani tugas negara, sebagai polisi lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Rasa rindu tentu saban hari menyergap relung jiwanya, tapi tugas harus menjadi prioritas.
Kegelisahan sang anak ini, kata Maulana, bermula karena ia jarang pulang ke rumah. Kemudian pada hari-hari besar yang bernilai penting dan sakral, ia jarang menemani keluarganya.
“Lebaran Idul Fitri dan Idul Adha itu jarang sekali bersama keluarga,” kata Maulana.
Hal inilah, yang kadang membuat anaknya merasa kehilangan sosok ayah. Dan pada momen yang sakral, dalam lubuk hatinya yang terdalam, juga ingin bersama-sama keluarga.
Keluarga lain, kata dia pada libur hari Minggu bisa menghabiskan waktu bersama keluarga. Berbeda dengan dirinya, yang kadang tetap harus bertugas.
“Dan anak saya tidak mendapatkan itu, waktu bersama,” kata Maulana.
Ia bercerita di suatu mal, salah satu kota di Indonesia, Maulana sedang merayakan ulang tahun anaknya. Ketika belum lama di mal, tiba-tiba panggilan tugas datang. Dengan berat hati, ia meninggalkan anak dan istrinya di mal, tanpa sempat meniup kue ulang tahun bersama anaknya.
Semenjak kejadian itu, lelaki yang pernah kuliah di Universitas Jambi ini menjelaskan tugasnya kepada sang anak. Ia memiliki beban kerja yang menuntut dedikasi tinggi selama 24 jam dan seminggu penuh agar senantiasa siaga dalam tugas.
Jadi Superhero
Sebagai polisi dan ayah, Maulana mendahulukan kepentingan tugas, baru kemudian keluarga. Oleh karena itu, jika ada celah waktu meskipun sempit, Maulana akan menemani anak-anaknya beraktivitas.
Kalau tak bisa hadir secara fisik, minimal bisa bertatap muka melalui sambungan telepon internet (video call). Kasih sayang tetap harus mengalir kepada keluarga, meskipun dalam masa pengabdian tugas.
“Berkumpul bersama keluarga menjadi sumber semangat. Mereka bukan hanya penerima pengorbanan tapi sumber kekuatan,” kata dia.
Seiring bertambahnya usia anak, mereka mulai memahami tugas orangtuanya. Maulana memandang setiap tugas yang diemban telah merenggut waktunya bersama keluarga, tetapi karena tugas ini pula, anak-anak lain bebas dari ketakutan dan terhindar dari kekerasan.
Anaknya akhirnya mengerti, waktu yang telah dirampas darinya, ternyata untuk memberi rasa aman kepada anak-anak lainnya.
“Saya kini superhero di mata mereka,” kata Maulana bangga.
Kerja karena panggilan jiwa. Sebagai ayah yang tak memiliki waktu banyak untuk keluarga, membuatnya harus memikul beban batin saban hari. Kendati demikian, ia tetap profesional saat bertugas. Lantaran keinginan menjadi polisi merupakan panggilan jiwa.
“Saya menjadi polisi karena panggilan jiwa, ada alasan mengapa saya begitu mencintai pekerjaan ini,” kata lelaki dua anak ini.
Ia menceritakan kisah sebelum menjadi polisi. Ketika tamat kuliah pada 2003 silam, ia mendaftar ke satuan polisi. Namun ia mengalami kegagalan.
Hidup harus terus lanjut, setahun kemudian ia diterima Universitas Jambi sebagai mahasiswa. Dalam tahun yang sama, ada penerimaan polisi.
“Saya daftar dan Alhamdulillah lulus,” kata lelaki yang kini bertugas di bagian Humas, Polda Jambi.
Kelulusan membuat Maulana harus meninggalkan bangku kuliah tahun 2004. Setahun berselang ia mulai menjalani pendidikan polisi. Dan segera ingin membanggakan orang tuanya.Ia tak memiliki latar keluarga kepolisian. Orangtuanya pegawai negeri dan hidup pas-pasan.
Risiko Jadi Polisi
Maulana kecil merasakan betul, jika kehadiran polisi telah memberikan rasa aman dan damai pada keluarganya.Tekadnya telah bulat, Maulana ingin menjadi polisi yang mengayomi masyarakat.
Sehingga ketika bertugas di bagian kehumasan, ia membangun citra positif di tengah masyarakat.Sudah 20 tahun Maulana menjadi polisi. Menurutnya seragam bukan lambang kekuasaan di bidang hukum, tetapi pelaksanaan dari rasa tanggung jawab untuk menjaga harapan masyarakat.
“Hukum hanyalah kerangka. Yang memberinya makna adalah harapan, rasa aman, dan kepercayaan yang hidup di tengah masyarakat,” katanya.
Apabila seragam coklat yang melambangkan kekuasaan hukum tidak didasari tanggung jawab dan welas asih, maka hasilnya bukan pelayanan bagi masyarakat, tetapi penindasan.
“Jangan sampai polisi kehilangan makna, jangan sampai berubah dari pelayanan menjadi penindasan bagi masyarakat,” sebutnya.
Risiko pekerjaan polisi begitu tinggi, karena ia harus melindungi dan mengayomi masyarakat. dengan demikian, harus bertindak sebagai perisai keamanan di tengah masyarakat.
“Satu kaki kami di rumah sakit, satunya lagi di kuburan, tak ada yang tahu kapan bahaya datang. Dan kami harus selalu siap,” katanya.
Kekuatan sebenarnya, tidak terletak pada pangkat maupun jabatan, tetapi kepada kerelaan hati untuk melindungi pihak yang lemah.
Pekerjaan untuk menjadi jembatan komunikasi antara masyarakat dan polisi membutuhkan ketelitian, salah sedikit orang bisa salah paham dan terjadi pertikaian.
Maulana pun saban hari memantau keluh kesah masyarakat di media sosial, pesan langsung hingga laporan dari lapangan. Semua laporan yang dibawa ke meja pimpinan itu amanah. Bentuk harapan masyarakat yang harus didengar dan diwujudkan.
Polisi Bukan Simbol Ketakutan
Ia menyadari bagian kecil masyarakat menjadikan polisi sebagai simbol ketakutan. Menurut dia, itu bukan prestasi melainkan kegagalan institusi.
“Jika masyarakat takut dengan polisi, itu bukan keberhasilan. Itu tanda kita gagal menghadirkan rasa aman,” jelasnya.
Makanya, transformasi institusi menjadi hal yang mutlak. Harus mengubah pola pikir, bukan maunya dilayani masyarakat, tetapi bertindaklah sebagai pelayan masyarakat.
“Dari simbol kekuasaan menjadi simbol harapan. Dari formalitas ke humanitas,” tegasnya.
Untuk mengubah pandangan masyarakat, ia menjalankan berbagai strategi, diantaranya terbuka pada kritik dan komunikasi publik yang empatik.
“Polisi harus hadir, dan hadirnya itu membawa tenang,” jelasnya.Transformasi lain yang dilakukan, harus menindak tegas setiap aparat “nakal”, yang kehadirannya bukan untuk melindungi masyarakat, justru memberikan trauma yang mendalam.
Maulana meyakini dengan tugas-tugas yang ia telah kerjakan, kepercayaan publik terhadap polisi akan kembali. Masyarakat tidak lagi memandang polisi sebagai musuh, tapi penjaga harapan.
Setelah puluhan tahun mengabdi, ia menyaksikan institusi ini tumbuh, berubah dan kadang goyah. Namun keyakinan dalam hatinya tak hilang, yakni polisi adalah jalan hidup.
Dari data Survei Litbang Kompas tahun 2025 mencatat bahwa tingkat kepercayaan publik terhadap Polri mencapai 65,7 persen. Sebuah angka yang menggembirakan, tetapi masih menyisakan pekerjaan rumah yang besar.
Kepercayaan itu bukan angka di atas kertas, sambung Maulana, melainkan sesuatu yang harus dijaga setiap hari dengan tindakan nyata.
Untuk menjaga harapan dan kepercayaan masyarakat, kata Maulana maka polisi harus menjadi terang bagi yang takut, bahu bagi yang lemah dan suara bagi yang tak didengar.
Sosok Maulana menjadi lentera di ruang yang gelap. Namun namanya hilang dari pusaran catatan prestasi di institusi kepolisian. Di mata anak dan istrinya, ia adalah pahlawan sejati, karena bekerja dengan hati. Seragam bukanlah alat kekuasaan untuk melakukan penindasan.