Cara Sehat Menggunakan Paylater: Hindari Jebakan Utang Konsumtif
Kemudahan Paylater kian diminati, namun risiko utang mengintai. Pahami cara sehat menggunakan Paylater agar tidak terjebak masalah finansial jangka panjang.
Fenomena "beli dulu, bayar belakangan" melalui layanan Paylater semakin populer di masyarakat digital, terutama di kalangan pekerja muda dan generasi produktif. Fitur ini menawarkan kemudahan transaksi tanpa uang tunai, hadir di berbagai platform belanja hingga hiburan. Kemudahan ini memungkinkan masyarakat memenuhi kebutuhan hanya dengan beberapa klik saja.
Namun, di balik kemudahan tersebut, risiko penumpukan utang menjadi ancaman serius bagi pengguna Paylater. Tanpa perencanaan yang matang, Paylater yang awalnya membantu justru dapat berubah menjadi beban finansial. Ini berpotensi menjerat pengguna pada masalah utang berkepanjangan yang sulit diatasi.
Perencana keuangan Rista Zwestika menekankan pentingnya pemahaman mendalam tentang utang, kemampuan membayar, dan kesiapan menghadapi risiko. Kunci utama penggunaan Paylater secara sehat adalah memahami jenis utang yang diambil. Membedakan utang produktif dan konsumtif menjadi langkah awal yang krusial.
Membedakan Utang Produktif dan Konsumtif
Perencana keuangan Rista Zwestika menjelaskan bahwa utang terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu utang produktif dan utang konsumtif. Utang produktif adalah jenis utang yang saat diambil justru mampu menghasilkan pemasukan tambahan bagi penggunanya. Sebaliknya, utang konsumtif tidak memberikan tambahan penghasilan dan hanya memenuhi keinginan sesaat.
"Tidak ada pemasukan yang dihasilkan dari utang konsumtif tersebut. Flexing tidak serta-merta membuat seseorang bertambah income-nya,” jelas Rista. Pembelian yang bersifat konsumtif seringkali hanya didasari oleh keinginan sesaat tanpa mempertimbangkan dampak finansial jangka panjang. Hal ini perlu diwaspadai agar tidak terjebak dalam lingkaran utang.
Contoh utang produktif adalah membeli ponsel dengan cicilan 24 bulan yang digunakan untuk menunjang pekerjaan sebagai videografer atau konten kreator. Jika pendapatan dari pekerjaan tersebut mencapai Rp5 juta per bulan, sementara cicilan hanya Rp3 juta, maka ada selisih Rp2 juta sebagai keuntungan. “Inilah yang disebut utang produktif, karena ada return dari utang yang diambil,” ujar Rista.
Pentingnya Dana Darurat dan Batasan Cicilan
Menurut Rista, tidak ada perencana keuangan yang melarang seseorang untuk berutang, asalkan memenuhi dua syarat utama. Utang harus bersifat produktif atau skalanya memang mendesak dan urgent, seperti saat tidak memiliki dana darurat untuk kebutuhan mendadak. Namun, banyak kasus utang dapat dihindari dengan memiliki dana darurat yang memadai.
Ketiadaan dana darurat sering menjadi alasan utama masyarakat bergantung pada Paylater atau pinjaman instan. Padahal, dana darurat berfungsi sebagai penyangga keuangan saat kondisi tak terduga terjadi. Kesiapan finansial ini sangat krusial untuk menghindari ketergantungan pada pinjaman yang berisiko.
Prinsip penting lain yang wajib diperhatikan sebelum menggunakan Paylater adalah total cicilan tidak boleh melebihi 30 persen dari pendapatan bulanan. Lebih dari batas ini, risiko gagal bayar akan semakin besar dan berpotensi mengganggu kestabilan keuangan pribadi. Disiplin dalam batasan ini sangat diperlukan.
Rista juga menekankan pentingnya melakukan financial check-up sebelum berutang. Ini meliputi memastikan sumber pembayaran cicilan, alokasi anggaran bulanan, serta menyiapkan rencana jika terjadi risiko gagal bayar. Perencanaan yang matang dapat meminimalisir potensi masalah di kemudian hari.
Kesiapan Mental dan Skenario Terburuk Penggunaan Paylater
Masyarakat juga perlu memikirkan skenario terburuk jika terjadi gagal bayar Paylater. Pertanyaan seperti "Kalau gagal bayar, apakah ada aset yang bisa dijual?" jarang dipikirkan saat seseorang tergiur kemudahan Paylater. Mempersiapkan jawaban atas pertanyaan ini sejak awal sangat penting.
Pengalaman pengguna Paylater seperti Syuwaikar Al Abqary menunjukkan bahwa kemudahan cicilan bisa sangat menggoda, membuat akses terhadap barang menjadi jauh lebih cepat. Awalnya ia merasa aman karena yakin setiap tagihan pasti bisa dibayar, dan selalu disiplin memenuhi kewajiban pembayaran. Ia memastikan cicilan dibayar tepat waktu sehingga tidak pernah terkena denda keterlambatan.
Meski demikian, Syuwaikar akhirnya memutuskan berhenti menggunakan layanan Paylater bukan karena gagal bayar, melainkan karena merasa tidak nyaman dengan ikatan utang. "Saya berhenti karena tidak ingin terikat dengan utang apa pun, baik itu untuk barang maupun waktu,” katanya. Keputusan ini menunjukkan pentingnya kenyamanan psikologis dalam mengelola keuangan.
Risiko berutang tidak hanya berdampak pada keuangan, tetapi juga kesehatan mental. Tekanan penagihan, rasa cemas, hingga konflik personal kerap muncul akibat utang yang tidak terkelola dengan baik. “Kalau tidak siap menghadapi konsekuensi seperti didatangi penagih utang atau tekanan psikologis, sebaiknya jangan berutang,” tegas Rista.
Sumber: AntaraNews