BRIN Ungkap Pangan Lokal Dapat Penuhi Mikronutrien Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Peneliti BRIN menekankan bahwa pemenuhan mikronutrien dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat dioptimalkan melalui pemanfaatan pangan lokal yang kaya gizi, memastikan anak-anak Indonesia tumbuh sehat dan cerdas.
Jakarta, 06 Maret (ANTARA) - Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Fitrah Ernawati, menyatakan bahwa kebutuhan zat gizi mikro dalam menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat terpenuhi secara efektif. Pemenuhan ini bisa dilakukan dengan melakukan penyesuaian pada bahan pangan lokal yang tersedia di berbagai daerah. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah diskusi di Jakarta pada hari Jumat.
Menurut Fitrah, banyak contoh pangan lokal yang memiliki kandungan gizi mikro tinggi dan sangat dibutuhkan oleh anak-anak. Pemanfaatan sumber daya pangan dari lingkungan sekitar menjadi kunci untuk memastikan asupan gizi yang optimal bagi peserta program. Pendekatan ini juga mendukung keberlanjutan program dengan memanfaatkan potensi daerah.
Kekurangan zat gizi mikro dapat berdampak negatif pada konsentrasi dan energi anak, sehingga pemenuhan nutrisi ini sangat krusial. Program MBG diharapkan mampu memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG) dari zat gizi mikro penting. Hal ini bertujuan untuk mencegah anak mengalami kondisi seperti mengantuk, kurang konsentrasi, letih, dan cepat lelah.
Potensi Pangan Lokal untuk Mikronutrien Anak
Prof. Fitrah Ernawati menyoroti beberapa jenis pangan lokal yang kaya akan gizi mikro esensial. Salah satu contoh utamanya adalah hati ayam, yang meskipun harganya terjangkau, mengandung vitamin A, zat besi, B12, tembaga (Cu), dan selenium yang tinggi. Kandungan nutrisi ini sangat vital untuk tumbuh kembang anak.
Selain hati ayam, ikan-ikan kecil seperti ikan teri atau bilis juga merupakan sumber gizi mikro yang sangat baik, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir. Ikan-ikan ini menyediakan protein dan mineral penting yang mudah diakses. Pemanfaatan ikan lokal ini dapat mendukung program pangan lokal MBG secara signifikan.
Untuk asupan sayur-mayur, daun katuk menjadi pilihan yang direkomendasikan karena kandungan gizinya. Alternatif lain yang tak kalah bergizi adalah kangkung dan bayam, yang kaya akan vitamin C, zat besi, kalsium, kalium, dan fosfor. Keberagaman sayuran ini penting untuk memastikan spektrum gizi yang lengkap dalam menu MBG.
Fitrah menegaskan bahwa dengan mengonsumsi pangan yang beragam, termasuk protein, sayur, buah, dan sumber pangan lokal lainnya, kepadatan mikronutrien akan meningkat. Hal ini secara langsung mendukung perbaikan status gizi anak. Peningkatan status gizi ini pada akhirnya akan memengaruhi konsentrasi belajar dan performa akademis anak-anak.
Implementasi Program MBG di Bulan Ramadan dan Peran BGN
Pemerintah telah memastikan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan terus berjalan selama bulan Ramadan, serta pada masa libur dan cuti bersama. Namun, terdapat penyesuaian mekanisme penyaluran di beberapa wilayah untuk mengakomodasi kondisi spesifik masyarakat. Penyesuaian ini menunjukkan fleksibilitas program dalam memenuhi kebutuhan penerima manfaat.
Di wilayah yang mayoritas penduduknya menjalankan ibadah puasa, penyaluran MBG dilakukan melalui paket makanan kemasan sehat yang dapat dibawa pulang. Paket ini dirancang untuk dikonsumsi saat berbuka puasa, memastikan anak-anak tetap mendapatkan asupan gizi yang diperlukan. Sementara itu, sekolah-sekolah di daerah mayoritas non-Muslim tetap menjalankan program secara normal tanpa perubahan mekanisme.
Badan Gizi Nasional (BGN) secara aktif terlibat dalam peningkatan kualitas menu dan kemasan MBG. Upaya ini dilakukan untuk menjamin keamanan pangan dan memastikan bahwa setiap sajian memenuhi standar gizi nasional yang telah ditetapkan. BGN berperan penting dalam menjaga kualitas dan efektivitas program.
Evaluasi yang dilakukan oleh BGN mencakup berbagai aspek, mulai dari kemasan makanan, komposisi gizi, hingga transparansi penggunaan anggaran. Evaluasi menyeluruh ini bertujuan untuk memastikan bahwa program berjalan sesuai standar kesehatan dan tepat sasaran. BGN adalah lembaga pemerintah yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2024 untuk melaksanakan tugas pemenuhan gizi nasional.
Sumber: AntaraNews