BRIN Kembangkan Sel Surya Organik: Lebih Ramah Lingkungan, Fleksibel, dan Efisien hingga 22 Persen!
Peneliti BRIN sukses kembangkan sel surya organik (OSC), teknologi baru yang diklaim lebih ramah lingkungan, fleksibel, dan berpotensi efisien hingga 22 persen. Akankah ini jadi solusi energi masa depan yang dapat diproduksi massal?
Peneliti Pusat Riset Elektronika, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Yuliar Firdaus, tengah gencar mengembangkan riset sel surya organik atau organic solar cell (OSC). Inovasi ini digadang-gadang menawarkan solusi energi terbarukan yang tidak hanya lebih ramah lingkungan, tetapi juga memiliki potensi besar untuk diproduksi secara massal di Indonesia.
Pengembangan OSC ini berfokus pada material organik yang mampu menyerap cahaya dan menghasilkan listrik, berbeda dengan sel surya konvensional. Yuliar Firdaus menyatakan, “Studi terdahulu yang telah saya lakukan menunjukkan efisiensi OSC bisa menembus batas teoretis lebih dari 22 persen jika rekombinasi permukaan dapat ditekan dan mobilitas muatan terus ditingkatkan.”
Riset ini bertujuan untuk menciptakan teknologi energi yang efisien, stabil, murah, dan fleksibel, serta mendukung kemandirian energi nasional. Dengan demikian, OSC diharapkan dapat diaplikasikan secara luas dalam berbagai sektor, mulai dari bangunan hingga perangkat elektronik portabel.
Keunggulan Sel Surya Organik (OSC) yang Fleksibel
Sel surya organik (OSC) merupakan sel surya generasi baru yang memanfaatkan material organik, seperti polimer donor dan akseptor molekul kecil, untuk mengubah cahaya menjadi energi listrik. Teknologi ini membawa sejumlah keunggulan signifikan dibandingkan sel surya berbasis silikon yang telah ada sebelumnya.
Salah satu kelebihan utama OSC adalah sifatnya yang lebih fleksibel dan ringan, memungkinkan pemasangan di berbagai lokasi dan permukaan. Proses produksinya juga lebih sederhana dan murah, bahkan dapat dilakukan menggunakan teknik printing, yang sangat efisien untuk skala besar.
Selain itu, Yuliar menjelaskan bahwa warna dan tingkat transparansi sel surya organik dapat diatur sesuai kebutuhan. Fitur ini menjadikannya sangat cocok untuk aplikasi building-integrated photovoltaics (BIPV) dan perangkat portabel, di mana estetika dan bobot menjadi pertimbangan penting.
Berbeda dengan sel surya konvensional berbasis silikon yang kaku, berat, dan memerlukan proses manufaktur bersuhu tinggi, OSC dapat diproses dengan teknik larutan (solution-processed). Hal ini memungkinkan aplikasi pada permukaan yang tidak rata, seperti kaca lengkung atau plastik, membuka peluang baru dalam desain dan fungsionalitas.
Peningkatan Efisiensi dan Tantangan Pengembangan OSC
Perkembangan teknologi sel surya organik telah menunjukkan lonjakan efisiensi yang luar biasa dalam beberapa tahun terakhir. Yuliar Firdaus menyoroti, “Teknologi ini sudah berkembang pesat, dari era penggunaan poli (3-heksiltiofen) (P3HT)-fullerene dengan efisiensi 3–7 persen. Hingga kini mencapai lebih dari 20 persen berkat hadirnya non-fullerene acceptors (NFAs) dan donor polimer baru.”
Peningkatan signifikan ini membuka jalan bagi OSC untuk menjadi kompetitor serius di pasar energi terbarukan. Namun, di balik potensi besar tersebut, terdapat beberapa kendala yang masih perlu diatasi untuk mencapai produksi massal dan aplikasi yang luas.
Yuliar mengungkapkan bahwa stabilitas jangka panjang menjadi salah satu tantangan utama dalam memproduksi OSC. Selain itu, tantangan scaling-up ke ukuran yang lebih besar tanpa mengurangi performa juga menjadi fokus riset. Ketersediaan material interlayer yang murah, ramah lingkungan, dan mudah diproduksi juga masih terbatas.
Harapan dan Dukungan untuk Masa Depan Energi Nasional
Melihat potensi dan tantangan yang ada, Yuliar Firdaus berharap sel surya organik dapat terus dikembangkan menjadi teknologi energi terbarukan yang efisien, stabil, murah, dan fleksibel. Riset mendalam pada interlayer, rekayasa bahan penyerap, dan proses rekayasa untuk scale up menjadi kunci keberhasilan.
Dengan dukungan yang tepat, teknologi ini berpotensi besar untuk diproduksi massal di Indonesia. Aplikasi OSC dapat merambah berbagai sektor, termasuk integrasi dalam bangunan, perangkat elektronik, dan infrastruktur, yang secara signifikan akan mendukung kemandirian energi nasional.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Yuliar menekankan pentingnya dukungan komprehensif. “Untuk itu, diharapkan dukungan menyeluruh dari segi fasilitas dan pendanaan dari BRIN dan pemerintah,” pungkasnya, menunjukkan bahwa kolaborasi adalah kunci untuk mengantarkan inovasi ini ke tahap implementasi yang lebih luas.
Sumber: AntaraNews