BPKW Kaltim Perkuat Perlindungan Cagar Budaya Gua Prasejarah Kaltim dengan Juru Pelihara
Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV Kaltim-Kaltara menugaskan juru pelihara untuk enam cagar budaya gua prasejarah di Kutai Timur, memastikan Perlindungan Cagar Budaya Gua Prasejarah Kaltim dan edukasi sejarah yang berkelanjutan.
Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah (BPKW) XIV Kalimantan Timur-Kalimantan Utara mengambil langkah proaktif untuk melestarikan enam cagar budaya gua prasejarah yang berlokasi di Kabupaten Kutai Timur. Upaya ini dilakukan melalui penugasan juru pelihara di setiap situs bersejarah tersebut. Langkah strategis ini bertujuan untuk menjaga warisan budaya berharga di kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat tetap lestari.
Kepala BPKW XIV Kaltim-Kaltara, Titit Lestari, menjelaskan bahwa penempatan juru pelihara ini krusial untuk memastikan keberlanjutan situs-situs tersebut. Para juru pelihara tidak hanya bertugas menjaga fisik cagar budaya, tetapi juga memberikan pendampingan informasi yang komprehensif kepada masyarakat. Inisiatif ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran publik akan pentingnya pelestarian sejarah.
Enam situs bersejarah ini berada di Desa Tepian Langsat, Kabupaten Kutai Timur, yang merupakan bagian integral dari kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat. Kawasan ini dikenal memiliki potensi arkeologi yang sangat tinggi, menyimpan jejak peradaban prasejarah yang tak ternilai. Perlindungan ini menjadi prioritas mengingat nilai historis dan edukatifnya yang besar.
Enam Situs Gua Prasejarah dan Penjaga Setianya
BPKW XIV Kaltim-Kaltara telah menugaskan individu-individu yang berdedikasi untuk menjaga setiap situs gua prasejarah di Kutai Timur. Gua Tewet, yang terkenal dengan keindahan gambar cadas purba yang memukau, kini berada dalam pengawasan Rusdiansyah. Keberadaan juru pelihara ini memastikan keindahan dan keaslian seni prasejarah tetap terjaga dari kerusakan.
Di atas Gua Tewet, terdapat Gua Tewet Atas, sebuah ceruk penting yang pengawasannya dipercayakan kepada Johansyah. Selain itu, Ceruk Pindi, yang memiliki bentuk terowongan unik, dirawat secara khusus oleh Satriadi. Peran mereka sangat vital dalam melestarikan peninggalan arkeologis yang terkandung di dalamnya.
Situs lain yang mendapatkan perhatian adalah Gua Tengkorak, tempat banyak jejak aktivitas prasejarah ditemukan, kini dijaga oleh Sugianor. Ceruk Karim, yang juga merupakan situs penting, dipelihara oleh Muhammad Hendra. Hendra juga siap mendampingi pengunjung yang ingin menjelajahi lokasi tersebut.
Gua Gerigi Saleh, dengan ruang luas dan ratusan motif gambar cadas purba, dijaga oleh Stepanus Gung. Setiap juru pelihara bertanggung jawab penuh atas situs yang ditugaskan, memastikan setiap detail warisan budaya ini tetap lestari untuk generasi mendatang.
Peran Edukasi dan Partisipasi Publik dalam Pelestarian
Kehadiran para juru pelihara di kawasan Kutai Timur tidak hanya sebatas penjaga fisik situs, melainkan juga berfungsi sebagai pemandu wisata edukasi yang berharga. Lestari mengungkapkan bahwa pengunjung dapat memperoleh informasi mendalam mengenai sejarah, nilai penting, serta kondisi terkini dari masing-masing cagar budaya. Hal ini memperkaya pengalaman wisatawan yang datang.
Para penjaga situs bersejarah ini juga siap sedia membantu pengunjung dalam proses pengambilan foto dokumentasi selama menjelajahi area prasejarah. Layanan ini menambah nilai bagi pengalaman pengunjung, memungkinkan mereka untuk mengabadikan momen sambil belajar. BPKW XIV juga mengimbau masyarakat dan pengunjung untuk memberikan penilaian objektif terhadap kualitas layanan yang diberikan.
Masukan dari pengunjung sangat dibutuhkan oleh pengelola sebagai bahan evaluasi berkelanjutan. Lestari menegaskan bahwa upaya ini bertujuan untuk terus meningkatkan kualitas layanan pelestarian situs bersejarah. Evaluasi ini penting untuk memastikan bahwa pengelolaan cagar budaya selalu relevan dan efektif.
Melalui program pendampingan yang berkelanjutan, BPKW XIV Kaltim-Kaltara berupaya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi aktif. Tujuannya adalah bersama-sama menjaga dan merawat jejak peradaban yang sangat berharga ini. Kolaborasi antara pemerintah, juru pelihara, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam pelestarian warisan budaya.
Sumber: AntaraNews