Bosan Lihat Jalan Rusak, Warga Kupang Bersatu Perbaiki
Semangat gotong royong kembali terlihat di Desa Tunbaun, Kecamatan Amarasi Barat.
Semangat gotong royong kembali terlihat di Desa Tunbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (17/7).
Warga setempat yang sudah bosan dengan kondisi tersebut, secara swadaya memperbaiki jalan rusak yang selama ini menjadi jalur utama penghubung empat kecamatan. Aksi ini dilakukan tanpa bantuan dana dari pemerintah, murni dari inisiatif dan iuran masyarakat.
Jalan yang diperbaiki merupakan akses penting bagi anak-anak sekolah, petani yang membawa hasil kebun, serta warga yang bepergian ke Kota Kupang dan Kabupaten Kupang.
Kerusakan jalan berupa lubang-lubang besar dan permukaan tanah yang licin, kerap menyulitkan kendaraan dan membahayakan keselamatan pengguna jalan, terutama saat musim hujan.
Dengan peralatan sederhana seperti cangkul, sekop dan gerobak, warga yang dibantu penjabat kepala desa, siswa-siswi dan guru SMA Negeri Amarasi Barat, bergotong royong menimbun lubang-lubang dengan tanah, batu hingga campuran semen dan pasir.
Warga yang menginisiasi perbaikan jalan secara swadaya Veky Tibuneno mengatakan, beberapa warga menyumbang material bangunan, sementara yang lain menyumbangkan tenaga dan waktu.
"Ini jalan utama satu-satunya jadi kalau rusak aktivitas ekonomi tidak berjalan. Masyarakat bawa pisang dari kampung ke kota untuk dijual, tapi karena kondisi jalan rusak, pisang juga rusak," kata Veky Tibuneno.
Menurutnya, jalan itu menghubungkan empat kecamatan di Kabupaten Kupang yakni, Amarasi, Amarasi Selatan, Amarasi Barat dan Nekamese. Kerusakan jalan ini juga sudah banyak menyebabkan kecelakaan.
"Jalan tersebut kami perbaiki atas sumbangan sukarela yang datang dari warga lokal, Diaspora Desa Tunbaun di luar wilayah NTT, hingga komunitas-komunitas yang peduli terhadap pembangunan di desa," ujar Veky Tibuneno.
"Kami galang dana lewat media sosial. Puji Tuhan, semua dikumpulkan melalui grup Facebook, WA dan jejaring sosial lainnya," tambahnya.
Masih menurut Veky Tibuneno, inisiatif perbaikan jalan itu bermula dari keluhan masyarakat yang disampaikan kepada komunitas Fortuna terkait buruknya akses jalan hingga menghambat aktivitas warga.
"Daripada kami protes di pemerintahan di kantor gubernur kemudian tidak ada hasilnya, mendingan kami protes secara diam-diam dengan kerja seperti ini dan ada hasilnya. Pemerintah itu lama sekali prosesnya," celetukannya.
Penjabat Kepala Desa Tunbaun Leonardus Dirman mengatakan, kegiatan ini dipelopori oleh orang muda Fortuna, yang merupakan anak muda di desa tersebut.
Dia menjelaskan, bahwa komunitas ini sejak tahun 2024 sudah menginisiasi untuk memperbaiki infrastruktur di desa secara mandiri.
"Tahun ini, fokus mereka tertuju pada sejumlah titik tanjakan curam dan rawan kecelakaan yang selama ini sulit dilalui kendaraan, terutama saat musim hujan," tutupnya.