BoP Jadi Hambatan? DPR Nilai Iran Tak Mudah Terima Indonesia sebagai Mediator
Namun, ia mempertanyakan kesiapan serta peluang Iran menerima peran mediasi Indonesia di tengah ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, menyatakan niat Presiden Republik Indonesia untuk menjadi fasilitator dalam konflik yang sedang berlangsung di Teheran sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif dan amanat konstitusi dalam menjaga perdamaian dunia. Namun, ia mempertanyakan kesiapan serta peluang Iran menerima peran mediasi Indonesia di tengah ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
"Niat Presiden menjadi fasilitator konflik ke Teheran sudah sesuai dengan prinsip bebas aktif dalam menjaga perdamaian dunia sebagaimana diamanatkan konstitusi. Akan tetapi, niatan tersebut juga membutuhkan kalkulasi yang matang," ujar TB Hasanuddin dalam keteranganya, Sabtu (28/2).
Dialog Harus Diterima
Ia menyampaikan tiga pertimbangan utama. Pertama, menjadi fasilitator dialog harus diterima oleh kedua belah pihak yang berkonflik.
“Dengan gerak diplomasi Indonesia yang saat ini dinilai lebih condong ke poros Amerika dan Israel melalui keterlibatan dalam BoP, sulit rasanya membayangkan Iran bisa menerima dengan mudah,” katanya.
Kedua, fasilitator konflik membutuhkan komitmen serius. “Harus meluangkan waktu, tenaga, bahkan anggaran untuk memfasilitasi pihak-pihak yang berselisih. Dialog tidak hanya satu atau dua kali. Pertanyaannya, apakah Presiden atau Menteri Luar Negeri sudah benar-benar siap?” lanjutnya.
Kepentingan Nasional
Ketiga, perlu kejelasan mengenai kepentingan nasional dan kalkulasi strategis Indonesia.
“Apa kepentingan nasional Indonesia atau kalkulasi strategis yang menjadi pertaruhan sehingga kita harus turun menjadi fasilitator? Setiap langkah diplomasi besar harus jelas manfaatnya bagi kepentingan nasional,” tegas TB Hasanuddin.
Ia menambahkan, apabila Indonesia mengambil peran sebagai fasilitator dalam konflik perbatasan Thailand dan Kamboja yang masih bergejolak, langkah tersebut dinilai lebih relevan.
“ASEAN adalah pekarangan kita. Kawasan ini harus damai dan stabil. Itu lebih langsung berkaitan dengan kepentingan nasional Indonesia,” pungkasnya.
Diketahui, Presiden RI Prabowo Subianto menyatakan kesiapannya menjadi fasilitator dialog di tengah kondisi tegang dan membara di kawasan Timur Tengah menyusul konfirmasi serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran. Prabowo bahkan siap bertolak ke Teheran, Iran.
"Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Presiden Republik Indonesia, menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi dialog bagi terciptanya kembali kondisi keamanan yang kondusif dan apabila disetujui kedua belah pihak, Presiden Indonesia bersedia untuk bertolak ke Teheran untuk melakukan mediasi," dikutip dari akun X @Kemlu_RI, Sabtu (28/2).