BKKBN Maluku Bentuk 12 Tim Kerja Dukung Percepatan Penurunan Stunting
BKKBN Provinsi Maluku membentuk 12 tim kerja baru untuk meningkatkan efektivitas program kependudukan dan keluarga, khususnya dalam upaya percepatan penurunan stunting di wilayah tersebut.
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Maluku telah membentuk 12 tim kerja baru di Ambon pada Jumat (9/1). Pembentukan tim ini merupakan langkah strategis untuk mempercepat penurunan stunting dan memperkuat pelaksanaan program kependudukan serta pembangunan keluarga di daerah. Inisiatif ini menjadi bagian penting dari upaya penyegaran organisasi BKKBN Maluku.
Kepala BKKBN Maluku, dr. Mauliwaty Bulo, menjelaskan bahwa penyegaran organisasi melalui pembentukan tim kerja ini krusial. Tujuannya agar pelaksanaan tugas dan fungsi BKKBN berjalan lebih efektif, adaptif, dan selaras dengan tantangan program kependudukan ke depan. Penyerahan Surat Keputusan (SK) Penugasan dan Rolling Aparatur Sipil Negara (ASN) menandai resmi dimulainya tim-tim ini.
Penugasan dan rolling ASN tidak hanya ditujukan untuk pemerataan beban kerja di lingkungan BKKBN Provinsi Maluku. Lebih jauh, langkah ini juga bertujuan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia. Diharapkan setiap ASN mampu menjalankan tugas pokok maupun tugas tambahan secara optimal, saling berbagi pengetahuan, serta memperkuat kolaborasi lintas fungsi.
Strategi BKKBN Maluku dalam Penguatan Organisasi
Pembentukan 12 tim kerja ini merupakan inisiatif strategis BKKBN Maluku untuk tahun 2026. Tujuannya adalah mendukung keberlanjutan berbagai program penting BKKBN. Ini mencakup pembangunan keluarga, pengendalian penduduk, hingga fokus utama percepatan penurunan stunting di Provinsi Maluku yang masih menjadi isu prioritas nasional.
Nantinya, 12 tim ini akan memiliki peran krusial dalam mendata keluarga di Maluku. Selain itu, mereka juga bertanggung jawab memberikan penyuluhan komprehensif. Penyuluhan tersebut berkaitan erat dengan pengetahuan gizi dan pembangunan keluarga yang sehat, memastikan informasi penting sampai ke masyarakat.
Menurut dr. Mauliwaty Bulo, kerja tim yang solid menjadi kunci utama keberhasilan program. Oleh karena itu, seluruh ASN diharapkan dapat berkontribusi aktif, menjaga sinergi, dan menjunjung tinggi profesionalisme dalam menjalankan setiap tugas yang diemban. Semangat kolaborasi ini diharapkan membawa dampak positif yang signifikan.
Tantangan dan Intervensi Percepatan Penurunan Stunting di Maluku
Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) terbaru yang dirilis pada 2025, prevalensi stunting di Provinsi Maluku masih berada pada 26 persen. Meskipun menunjukkan tren penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, angka ini tetap menjadi perhatian serius. Kondisi ini mendorong BKKBN Maluku untuk memperkuat intervensi spesifik dan sensitif secara lebih terarah dan terintegrasi.
BKKBN Maluku fokus pada intervensi spesifik dan sensitif yang lebih terarah dan terintegrasi. Upaya ini mencakup penguatan pendampingan keluarga berisiko stunting melalui Tim Pendamping Keluarga (TPK). Optimalisasi Program Bangga Kencana juga menjadi prioritas utama untuk mencapai target penurunan stunting.
Percepatan pelaksanaan Program Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak juga terus digalakkan. Selain itu, penguatan koordinasi lintas sektor sangat penting. Koordinasi ini melibatkan pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan pemangku kepentingan terkait hingga tingkat desa, demi efektivitas program.
Dengan langkah-langkah komprehensif tersebut, BKKBN Provinsi Maluku sangat optimistis. Mereka yakin dapat meningkatkan kinerja organisasi secara signifikan. Tujuannya adalah memastikan program pembangunan keluarga dan percepatan penurunan stunting berjalan berkelanjutan serta memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat Maluku.
Sumber: AntaraNews