Pemerintah Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, mengambil langkah strategis dalam upaya percepatan pencegahan dan penurunan stunting (PPPS). Inisiatif ini diwujudkan melalui pelaksanaan kegiatan Pra-Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Pra-Musrenbang). Langkah ini menunjukkan komitmen daerah untuk mengatasi masalah gizi kronis pada anak.
Wakil Bupati Kotabaru, Syairi Mukhlis, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi bagian penting bagi pemerintah daerah. Tujuannya adalah menyelaraskan program percepatan penurunan stunting agar lebih efektif dan terarah. Hal ini sejalan dengan visi pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
Pembangunan sumber daya manusia menjadi prioritas utama dalam visi tersebut, dengan penguatan sektor kesehatan dan gizi. Percepatan penurunan stunting secara khusus ditekankan dalam asta cita ke-4. Ini menunjukkan urgensi masalah stunting dalam agenda pembangunan nasional.
Advertisement
Advertisement
Pemerintah telah menetapkan target ambisius untuk menurunkan prevalensi stunting secara signifikan. Target nasional adalah mencapai 14,4 persen pada tahun 2029. Selanjutnya, prevalensi stunting diharapkan dapat ditekan hingga 5 persen pada tahun 2045.
Wakil Bupati Syairi Mukhlis menekankan bahwa target ini bukan sekadar angka belaka. Ini merupakan komitmen kuat untuk memastikan generasi masa depan Indonesia tumbuh sehat, cerdas, dan produktif. Upaya ini menjadi investasi penting bagi masa depan bangsa.
Visi pembangunan nasional "Bersama Indonesia Maju Menuju Indonesia Emas 2045" menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai prioritas utama. Penguatan sektor kesehatan dan gizi, termasuk percepatan penurunan stunting, menjadi pilar penting dalam mewujudkan visi tersebut.
Advertisement
Advertisement
Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia, prevalensi stunting di Kabupaten Kotabaru menunjukkan fluktuasi yang memerlukan perhatian serius. Pada tahun 2021, angka prevalensi tercatat sebesar 21,8 persen. Angka ini kemudian meningkat pada tahun 2022 menjadi 31,6 persen.
Meskipun sempat menurun pada tahun 2023 menjadi 20,1 persen, prevalensi stunting kembali naik pada tahun 2024 menjadi 23,2 persen. Data ini mengindikasikan bahwa upaya yang telah dilakukan memang memberikan hasil. Namun, hasilnya belum konsisten dan memerlukan penguatan yang lebih terarah.
Syairi Mukhlis menjelaskan bahwa data tersebut menunjukkan perlunya pendekatan yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan. Konsistensi dalam program dan intervensi menjadi kunci untuk mencapai penurunan stunting yang signifikan dan stabil di Kotabaru.
Advertisement
Advertisement
Wakil Bupati berharap berbagai permasalahan dan kendala yang masih dihadapi di tingkat kecamatan dan desa dapat diidentifikasi secara menyeluruh. Identifikasi ini krusial untuk merumuskan solusi yang komprehensif. Solusi tersebut harus dapat dijalankan secara bersama-sama oleh seluruh pihak terkait.
Melalui forum Pra-Musrenbang, diharapkan dapat dihasilkan rumusan program prioritas yang benar-benar menyentuh akar permasalahan. Program ini harus berbasis data yang akurat dan dapat diimplementasikan secara efektif di tingkat desa dan kecamatan. Pendekatan ini akan memastikan efisiensi dan dampak yang maksimal.
Syairi Mukhlis mengajak seluruh pihak untuk terus memperkuat komitmen dan kerja sama dalam upaya percepatan penurunan stunting di daerah. Kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya sangat penting. Sinergi ini akan mempercepat pencapaian target penurunan stunting.
Advertisement
Sumber: AntaraNews