Benteng Pendem Cilacap: Jejak Sejarah Kolonial yang Ramai Dikunjungi Saat Lebaran
Benteng Pendem Cilacap, sebuah situs bersejarah peninggalan Belanda, kini menjadi destinasi wisata favorit, terutama saat libur Lebaran. Temukan cerita di balik bangunan unik yang pernah menjadi pertahanan militer ini.
Benteng Pendem di Cilacap, Jawa Tengah, berdiri sebagai saksi bisu jejak sejarah kolonial yang masih kokoh hingga kini. Bangunan pertahanan Belanda ini menyimpan kisah panjang tentang strategi militer di pesisir selatan Pulau Jawa. Keunikan arsitekturnya yang sebagian besar berada di bawah tanah menjadikannya daya tarik tersendiri bagi para pengunjung.
Situs bersejarah ini tidak hanya menawarkan pengalaman menelusuri lorong-lorong masa lalu, tetapi juga menjadi tujuan wisata yang populer. Terutama saat momen libur panjang seperti Hari Raya Idul Fitri, Benteng Pendem Cilacap ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah.
Transformasi dari benteng pertahanan menjadi objek wisata ini menunjukkan bagaimana warisan budaya dapat terus hidup dan memberikan manfaat. Pengunjung dapat menikmati suasana berbeda sambil mengenal lebih dekat salah satu peninggalan sejarah penting di Indonesia.
Sejarah Pembangunan dan Penamaan Benteng Pendem
Benteng Pendem dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda antara tahun 1861 hingga 1879. Pembangunan ini memakan waktu sekitar 18 tahun dan bertujuan sebagai bagian dari sistem pertahanan untuk menghadang kapal musuh yang hendak memasuki Pelabuhan Alam Cilacap. Pada masa itu, jalur laut merupakan satu-satunya akses utama transportasi, menjadikan wilayah pesisir memiliki peran strategis yang vital.
Nama “Pendem” berasal dari cara pembangunannya yang tidak biasa. Setelah seluruh struktur benteng selesai didirikan, bangunan tersebut kemudian ditimbun dengan tanah hingga tampak terkubur. Dalam bahasa Jawa, kata "pendem" sendiri berarti timbun.
Benteng ini juga dikenal dalam bahasa Belanda sebagai Kussbatterijj op de Lantong te Tjilatjap. Masyarakat setempat kemudian secara turun-temurun menyebutnya Benteng Pendem karena kondisinya yang tertimbun tanah.
Benteng Pendem merupakan pertahanan kedua setelah benteng yang lebih dahulu dibangun di kawasan Nusakambangan. Lokasinya yang berada di atas kontur tanah menjorok ke laut menyerupai lidah, dimanfaatkan sebagai titik pertahanan strategis untuk mengawasi pergerakan kapal.
Jejak Dua Penjajah: Belanda dan Jepang
Keunikan utama Benteng Pendem terletak pada konstruksinya yang sebagian besar berada di bawah tanah. Bangunan ini baru digali kembali pada tahun 1986 hingga 1987 setelah tertimbun selama puluhan tahun.
Di dalam kawasan benteng seluas sekitar 10,5 hektare ini, terdapat sekitar 102 bangunan yang merupakan peninggalan tentara Belanda dan Jepang. Kedua negara penjajah tersebut memiliki metode pembangunan yang berbeda secara signifikan.
Aris, Sub Koordinator Lapangan Benteng Pendem Cilacap, menjelaskan, “Kalau Belanda membangun dulu baru ditimbun, kalau Jepang membuat lubang dulu baru dibangun.” Perbedaan juga terlihat dari material yang digunakan; Belanda memakai batu bata dengan berbagai ukuran dan warna, sementara Jepang menggunakan beton untuk struktur pertahanan mereka.
Di dalam benteng, pengunjung dapat menemukan berbagai fasilitas militer, seperti barak prajurit, ruang penyimpanan logistik, hingga penjara dengan dinding setebal sekitar 2,5 meter. Penjara tersebut terdiri dari tiga ruangan yang mampu menampung hingga 30 tahanan. Salah satu bagian yang paling menarik perhatian adalah terowongan sepanjang kurang lebih 150 meter yang dilengkapi ruang meriam serta beberapa akses keluar-masuk, termasuk empat pintu masuk dan satu pintu keluar menuju arah laut untuk kondisi darurat.
Daya Tarik dan Pengelolaan Benteng Pendem
Benteng Pendem telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional berdasarkan Surat Keputusan Menteri Nomor PM.57/PW.007/MKP/2010 yang diterbitkan pada 22 Juni 2010. Status ini menegaskan pentingnya pelestarian situs bersejarah ini. Saat ini, pengelolaan Benteng Pendem dilakukan secara mandiri dengan biaya operasional yang berasal dari pendapatan tiket pengunjung.
Pengelola menerapkan aturan ketat untuk menjaga kondisi bangunan, termasuk tidak menggunakan bahan kimia dalam membersihkan area tertentu. “Pembersihan rumput tidak boleh menggunakan obat, harus dicabut manual,” ujar Aris. Hal ini menunjukkan komitmen untuk merawat benteng dengan metode yang ramah lingkungan dan tidak merusak struktur asli.
Sejumlah titik di dalam benteng menjadi lokasi favorit pengunjung untuk berfoto, seperti area depan terowongan, ruang barak, dan kawasan penjara. Keberadaan rusa yang kerap muncul di area benteng juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, menambah pengalaman unik saat berkunjung.
Benteng Pendem sebagai Destinasi Wisata Lebaran
Meskipun cenderung sepi pengunjung selama bulan Ramadhan, jumlah wisatawan di Benteng Pendem dapat meningkat signifikan setelah Hari Raya Idul Fitri. Aris menyebut jumlah pengunjung dapat mencapai 500 hingga 1.000 orang per hari saat Lebaran.
Mayoritas pengunjung berasal dari wilayah sekitar seperti Cilacap, Banyumas, dan Banjarnegara. Namun, tidak sedikit pula wisatawan dari luar daerah, seperti Jakarta, yang datang saat momen mudik. “Biasanya terlihat dari plat kendaraan, banyak dari luar kota,” kata Aris.
Benteng Pendem dibuka setiap hari mulai pukul 06.00 hingga 17.00 WIB dengan harga tiket masuk sebesar Rp7.500 per orang. Keberadaan tempat seperti Benteng Pendem ini memberikan alternatif bagi para pemudik untuk singgah sejenak jika melewati jalur pantai selatan. Pengunjung dapat mengenal sejarah sekaligus menikmati suasana berbeda sebelum melanjutkan perjalanan.
Sumber: AntaraNews