Baru Tiba dari Vatikan, Menag Baru Tahu Atap Asrama Pesantren di Situbondo Ambruk hingga 1 Santriwati Wafat
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengaku sudah merencanakan untuk mengunjungi dan melihat kondisi asrama ponpes tersebut.
Tragedi ambruknya bangunan di pondok pesantren dan menyebabkan korban jiwa kembali terjadi di Jawa Timur. Kali ini atap Asrama Santriwati Pondok Pesantren Syalafiah Syafi'iyyah Syeh Abdul Qodir Jaelani, Dusun Rawan, Desa Blimbing, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo, ambruk dan mengakibatkan satu santriwati meninggal dunia.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengaku baru mengetahui informasi adanya insiden ambruknya atap asrama santriwati di Ponpes Syalafiah Syafi'iyyah Syeh Abdul Qodir Jaelani itu. Sebab, ia baru tiba dari kunjungannya ke Vatikan.
"Saya baru datang kan," ujarnya usai meresmikan Bangunan Baru Gereja Katedral Makassar, Kamis (30/10) malam.
Segera Berkunjung
Nasaruddin mengaku sudah merencanakan untuk mengunjungi dan melihat kondisi asrama santriwati Ponpes Syalafiah Syafi'iyyah Syeh Abdul Qodir Jaelani yang ambruk. Direncanakan, Nasaruddin Umar akan ke Situbondo setelah kunjungan kerjanya di Kota Makassar selesai.
"Iya pasti (kunjungi Ponpes Syalafiah Syafi'iyyah Syeh Abdul Qodir Jaelani). Jadi saya baru mau ke sana," ucapnya.
Atap Asrama Pesantren di Situbondo Ambruk
Sebelumnya diberitakan, insiden tragis terjadi di Pondok Pesantren Syalafiah Syafi'iyyah Syeh Abdul Qodir Jaelani, Dusun Rawan, Desa Blimbing, Kecamatan Besuki, Kabupaten Situbondo, Rabu (29/10) dini hari. Atap bangunan asrama putri di pesantren tersebut tiba-tiba ambruk dan menimpa para santriwati yang sedang beristirahat. Satu orang dilaporkan meninggal dunia.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno, mengatakan peristiwa itu terjadi sekitar pukul 01.00 Wib. Dugaan sementara, atap ambruk karena tidak mampu menahan terpaan hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur wilayah Besuki.
"Bangunan asrama putri diduga roboh akibat hujan intensitas tinggi disertai angin kencang," ujar Satriyo, Rabu (29/10).
Menurutnya, kondisi bangunan sebelumnya memang sudah mengalami keretakan pascagempa berkekuatan 5,7 magnitudo yang mengguncang Situbondo pada 25 September 2025 lalu. Keretakan itu membuat struktur bangunan semakin rapuh ketika diterpa cuaca ekstrem.
1 Santriwati Meninggal Dunia
Data BPBD Jawa Timur mencatat, total korban dalam kejadian ini sebanyak lima orang. Dua santriwati mengalami luka ringan, dua lainnya luka berat, dan satu meninggal dunia atas nama PHO (13), warga Dusun Rawan, Desa Blimbing, Kecamatan Besuki.
"Korban meninggal dunia atas nama PHO, usia 13 tahun, asal Dusun Rawan," jelas Satriyo.
Petugas BPBD Provinsi Jawa Timur bersama tim BPBD Kabupaten Situbondo langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan evakuasi, pendataan, serta penanganan awal terhadap para korban dan bangunan yang terdampak.
"Tim BPBD masih melakukan pemantauan dan pendataan lanjutan di lokasi untuk memastikan tidak ada korban tambahan maupun kerusakan susulan," tambah Satriyo.
Kondisi ini pun mengingatkan adanya peristiwa ambruknya bangunan Pondok Pesantren Al Khoziny di Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur yang menelan korban jiwa puluhan santri beberapa waktu lalu.