Asrama Pesantren Ambruk di Aceh: Ratusan Santri Selamat dari Longsor, Kerugian Capai Rp6 Miliar

Gedung asrama pesantren ambruk di Aceh akibat longsor tebing sungai, namun ratusan santri Dayah Najmul Hidayah Al Aziziyah berhasil dievakuasi. Simak kronologi dan kebutuhan mendesak mereka.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Asrama Pesantren Ambruk di Aceh: Ratusan Santri Selamat dari Longsor, Kerugian Capai Rp6 Miliar
Asrama Dayah Najmul Hidayah Al Aziziyah di Bireuen, Aceh, ambruk ke sungai akibat longsor. Beruntung, ratusan santri selamat karena telah dievakuasi sebelumnya, namun kini membutuhkan bantuan darurat. (AntaraNews)

Sebuah insiden longsor telah menyebabkan ambruknya gedung asrama putra di Dayah Najmul Hidayah Al Aziziyah, Bireuen, Aceh. Peristiwa tragis ini terjadi setelah wilayah tersebut diguyur hujan deras selama sepekan terakhir. Bangunan asrama tersebut kini ambruk ke sungai yang meluap.

Beruntung, ratusan santri yang menghuni asrama tersebut berhasil diselamatkan dan tidak ada korban jiwa dalam musibah ini. Mereka telah dievakuasi ke masjid pesantren sejak malam sebelumnya. Pembina Dayah, Tgk Adli Abdullah, mengonfirmasi keselamatan para santri.

Longsor diduga kuat akibat runtuhnya pengaman tebing sungai yang berada persis di samping bangunan asrama. Kejadian ini menimbulkan kerugian materiil yang diperkirakan mencapai miliaran rupiah. Kini, para santri membutuhkan bantuan darurat.

Kronologi Ambruknya Asrama Pesantren di Bireuen

Gedung asrama Dayah Najmul Hidayah Al Aziziyah di Meunasah Subung Cot Meurak Blang, Kabupaten Bireuen, Aceh, ambruk ke sungai pada Rabu (26/11). Kejadian ini dipicu oleh longsor tebing sungai setelah Aceh dilanda hujan deras berkepanjangan. Hujan deras telah menyebabkan sembilan kabupaten mengalami banjir dan longsor.

Menurut Pembina Dayah, Tgk Adli Abdullah, lokasi bangunan asrama putra memang sangat dekat dengan tepi sungai. Arus sungai yang sangat deras selama musim hujan ini menjadi pemicu utama. Pengaman tebing sungai yang seharusnya melindungi bangunan tidak mampu menahan tekanan air.

Adli menjelaskan bahwa pengaman tebing sungai berupa batu gajah tersebut hancur dan diduga tidak sesuai standar. "Longsor disebabkan batu gajah yang dipasang (pengaman tebing sungai) tidak sesuai," ujarnya. Ia menambahkan bahwa proyek pembangunan tembok pengaman sungai pada tahun 2016 ini bahkan pernah bermasalah hukum.

Tembok pengaman tersebut sebelumnya juga pernah jebol akibat banjir bandang yang melanda sungai Krueng Batee Iliek. Kondisi ini menunjukkan adanya masalah struktural pada pengaman tebing yang berujung pada ambruknya asrama pesantren ini. Untungnya, evakuasi santri telah dilakukan lebih awal.

Dampak dan Kebutuhan Mendesak Bagi Santri Terdampak Longsor

Meskipun tidak ada korban jiwa, insiden ambruknya asrama pesantren ini menyebabkan kerugian material yang sangat besar. Tgk Adli Abdullah memperkirakan kerugian akibat robohnya bangunan asrama tersebut mencapai lebih dari Rp6 miliar. Angka ini mencakup nilai bangunan serta fasilitas di dalamnya.

Sebanyak 329 santri yang menghuni asrama kini kehilangan tempat tinggal dan sebagian besar harta benda mereka. Mereka telah dievakuasi ke masjid dayah setempat sebelum bangunan runtuh sepenuhnya. Pakaian dan peralatan pribadi mereka ikut terbawa longsor.

Adli menegaskan bahwa pesantren saat ini sangat membutuhkan penanganan darurat dari pemerintah dan masyarakat. Kebutuhan paling mendesak adalah dapur umum untuk menyediakan makanan bagi para santri. Selain itu, pakaian pengganti juga sangat diperlukan.

"Kita butuh dapur darurat dan pakaian pengganti bagi santri yang menghuni asrama ini mencapai 329 orang," kata Adli Abdullah. Bantuan cepat diharapkan dapat meringankan beban para santri yang kini menghadapi situasi sulit pasca-longsor.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi