Banjir Pejaten Timur Capai 260 Cm, BPBD DKI Jakarta Pantau Ketinggian Air
Banjir Pejaten Timur kembali merendam sejumlah wilayah di Jakarta Selatan pada Jumat pagi, dengan ketinggian air sempat menyentuh 320 cm sebelum berangsur surut, memaksa warga mengungsi dan membersihkan sisa lumpur.
Banjir kembali melanda kawasan Pejaten Timur, Jakarta Selatan, pada Jumat pagi (30/1), dengan ketinggian air yang signifikan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat, banjir di RT 05/RW 08, Jalan Jembatan Gantung, sempat mencapai 320 sentimeter (cm) pada pukul 05.00 WIB. Peristiwa ini terjadi akibat curah hujan tinggi dan luapan Kali Ciliwung yang tidak tertampung.
Kepala BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji, mengonfirmasi bahwa ketinggian muka air (TMA) di lokasi tersebut kini berangsur surut menjadi 260 cm. Lokasi terdampak berada di dekat Kali Ciliwung, seberang Pasar Minggu, tepat di bawah rel kereta api. Kondisi ini menyebabkan aktivitas warga terganggu dan menimbulkan genangan luas di permukiman.
Selain Pejaten Timur, BPBD DKI Jakarta juga melaporkan delapan RT lainnya di Jakarta Selatan turut terendam banjir. Wilayah tersebut meliputi empat RT di Pejaten Timur, dua RT di Rawajati, dan dua RT di Tanjung Barat, dengan ketinggian air bervariasi antara 150 hingga 350 cm. Kejadian ini menuntut respons cepat dari berbagai pihak terkait untuk membantu masyarakat.
Kondisi Terkini dan Dampak Langsung Banjir
Berdasarkan pantauan langsung di lokasi, jembatan arah Condet-Stasiun Pasar Minggu terlihat dipadati oleh kendaraan sepeda motor yang tetap berusaha melintas. Meskipun ketinggian air mulai surut, sisa-sisa lumpur tebal masih terlihat menutupi jalanan dan permukiman warga. Kondisi ini menghambat mobilitas dan aktivitas sehari-hari penduduk setempat.
Sejumlah warga terlihat bahu-membahu membersihkan sisa lumpur yang terbawa arus banjir menggunakan ember. Mereka berupaya mengembalikan kondisi lingkungan seperti semula meskipun dengan peralatan seadanya. Upaya pembersihan ini menunjukkan semangat gotong royong yang kuat di tengah musibah.
Tidak sedikit warga yang memilih untuk mengungsi ke ruko-ruko terdekat demi keselamatan diri dan barang-barang berharga mereka. Mereka membawa serta barang-barang esensial untuk sementara waktu. Tindakan evakuasi mandiri ini menjadi pilihan utama bagi mereka yang rumahnya terendam cukup parah.
BPBD DKI Jakarta merinci bahwa dampak banjir tidak hanya terbatas di Pejaten Timur saja. Wilayah Rawajati dan Tanjung Barat juga mengalami genangan serius, menunjukkan skala dampak yang cukup luas di Jakarta Selatan. Ketinggian air yang bervariasi menunjukkan karakteristik topografi dan kerentanan wilayah yang berbeda terhadap banjir.
Penyebab Utama dan Respons BPBD DKI Jakarta
Penyebab utama dari kejadian banjir di Pejaten Timur dan sekitarnya adalah curah hujan yang sangat tinggi dalam beberapa waktu terakhir. Intensitas hujan yang ekstrem ini menyebabkan debit air Kali Ciliwung meningkat drastis. Akibatnya, sungai tidak mampu menampung volume air yang besar, sehingga meluap ke permukiman warga di sekitarnya.
Kepala BPBD DKI Jakarta, Isnawa Adji, secara aktif memantau perkembangan situasi banjir di lapangan. Pihaknya terus berkoordinasi untuk memastikan penanganan yang cepat dan tepat. Pemantauan ketinggian muka air secara berkala menjadi kunci untuk mengantisipasi potensi dampak lebih lanjut dan memberikan informasi akurat kepada masyarakat.
BPBD DKI Jakarta telah menyiagakan personel dan peralatan untuk membantu warga yang terdampak. Fokus utama adalah pada evakuasi warga, penyediaan logistik, dan pembersihan pasca-banjir. Langkah-langkah ini diambil untuk meminimalisir kerugian dan mempercepat pemulihan kondisi di area terdampak.
Sumber: AntaraNews