Banjir Pejaten Timur: BPBD DKI Ungkap Kenaikan Debit Air Ciliwung Jadi Pemicu Utama

Banjir Pejaten Timur melanda empat RW di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, dengan ketinggian air mencapai 320 cm. BPBD DKI Jakarta menjelaskan penyebab utamanya adalah kenaikan debit air Ciliwung.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Banjir Pejaten Timur: BPBD DKI Ungkap Kenaikan Debit Air Ciliwung Jadi Pemicu Utama
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan hujan deras memicu Banjir Cirebon, Bekasi, dan Jakarta. Ratusan rumah terendam, ribuan warga terdampak, dan peringatan cuaca ekstrem masih berlaku. (AntaraNews)

Banjir kembali melanda Kelurahan Pejaten Timur, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, pada Jumat (30/1). Peristiwa ini menyebabkan genangan air tinggi di sejumlah wilayah rukun warga (RW) dan mengganggu aktivitas masyarakat setempat. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta segera memberikan respons cepat terhadap situasi darurat ini.

Menurut BPBD DKI Jakarta, penyebab utama banjir Pejaten Timur kali ini adalah kenaikan signifikan debit air Sungai Ciliwung. Kondisi ini dipicu oleh status Siaga 3 di Bendung Katulampa dan Pos Pantau Depok, yang mengakibatkan limpasan air sungai ke permukiman warga. Informasi ini disampaikan langsung oleh PIC Kelurahan Pejaten Timur BPBD DKI Jakarta, Taufik.

Kenaikan muka air mulai terdeteksi sejak pukul 20.00 WIB dengan ketinggian awal sekitar 40 sentimeter, dan terus meningkat hingga mencapai puncaknya pada pukul 06.00 WIB. Warga di RW 5, RW 6, RW 7, dan RW 8 menjadi yang paling terdampak oleh banjir Pejaten Timur ini, khususnya di Jalan Masjid Al-Makmuriyah. Petugas telah mengimbau warga untuk evakuasi mandiri ke tempat yang lebih aman.

Kenaikan debit air Sungai Ciliwung menjadi faktor krusial penyebab banjir Pejaten Timur. Taufik dari BPBD DKI Jakarta menjelaskan bahwa status Siaga 3 di Bendung Katulampa dan Pos Pantau Depok mengindikasikan volume air yang sangat tinggi. Limpasan air dari Kali Ciliwung tidak dapat dihindari, mengingat kondisi geografis permukiman yang berdekatan dengan sungai.

Genangan air terparah tercatat di Jalan Masjid Al-Makmuriyah, tepatnya di RT 17/RW 07, RT 16/RW 07, dan RT 5/RW 08. Di lokasi tersebut, ketinggian air mencapai 320 sentimeter, jauh melebihi rata-rata genangan di area lain. Kondisi ini memaksa banyak warga untuk segera mencari perlindungan di rumah kerabat atau keluarga yang berada di lokasi lebih tinggi.

Meskipun ketinggian air cukup ekstrem, proses evakuasi berjalan lancar. Petugas BPBD telah memberikan imbauan dini, sehingga warga memiliki waktu untuk mempersiapkan diri. Sebagian besar warga memilih untuk mengungsi secara mandiri, menunjukkan kesadaran tinggi terhadap keselamatan.

Dalam menghadapi banjir Pejaten Timur, BPBD DKI Jakarta telah mengambil langkah-langkah penanganan awal. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pemasangan tali sebagai jalur evakuasi. Jalur ini sangat membantu warga yang membutuhkan bantuan untuk berpindah ke lokasi yang lebih aman, terutama bagi mereka yang kesulitan bergerak di tengah arus air.

Taufik menambahkan bahwa hingga saat ini, tidak ada hambatan berarti dalam proses evakuasi. Petugas terus memantau situasi dan siap memberikan bantuan jika diperlukan. Fokus utama saat ini adalah memastikan keselamatan warga dan memfasilitasi proses pengungsian.

Mengenai penggunaan pompa air, BPBD DKI Jakarta belum mengerahkan alat tersebut. Pengerahan pompa baru akan dilakukan setelah air benar-benar surut, khususnya untuk membantu proses pembersihan lumpur dan sisa-sisa banjir. Strategi ini diambil untuk memaksimalkan efektivitas penggunaan pompa.

Salah satu tantangan jangka panjang yang diidentifikasi adalah tidak adanya pembatas fisik antara sungai dan permukiman warga di kawasan terdampak. Kondisi ini menyebabkan luapan air dari Sungai Ciliwung dengan mudah langsung masuk ke rumah-rumah penduduk. Permasalahan struktural ini memerlukan solusi komprehensif untuk mencegah banjir serupa di masa mendatang.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi