Asa Suci Pedagang Rujak Cirebon: Bertahun-tahun Mengulek, Kini Siap Naik Haji
Kisah inspiratif Machmudah dan Istoifah, dua pedagang rujak ulek di Cirebon yang gigih menabung selama puluhan tahun, kini mewujudkan impian mereka untuk naik haji ke Tanah Suci.
Dua perempuan tangguh asal Cirebon, Machmudah (62) dan Istoifah (57), membuktikan bahwa niat kuat dan kerja keras dapat mengantar mereka menuju impian suci. Bertahun-tahun lamanya, tangan mereka cekatan meracik bumbu dan menyiangi sayuran di lapak rujak ulek sederhana, demi mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk biaya ibadah haji. Kisah mereka menjadi inspirasi tentang ketekunan dan kesabaran dalam mewujudkan panggilan ke Baitullah.
Machmudah, pedagang rujak dari Desa Marikangen, telah berjualan selama puluhan tahun dengan celemek merah polkadotnya sebagai saksi bisu perjuangan. Sementara itu, Istoifah yang berjualan di Jalan Evakuasi, telah menyambung hidup dari lapak rujaknya sejak 1997. Keduanya memiliki satu tujuan mulia: berangkat haji dengan hasil jerih payah sendiri.
Penantian panjang itu kini berbuah manis. Pada Mei 2026, Machmudah dan Istoifah dijadwalkan akan menjadi bagian dari ribuan calon haji asal Cirebon yang diberangkatkan menuju Tanah Suci, menggenapi asa yang telah lama mereka dambakan.
Kisah Machmudah: Rujak Ulek Antar ke Tanah Suci
Sejak pagi hari, rutinitas Machmudah dimulai dengan menyiapkan dagangan rujak uleknya. Dari kios beratap seng yang sederhana, ia tak hanya menyajikan rasa pedas yang menggugah selera, tetapi juga memendam asa sakral untuk menunaikan ibadah haji. Meskipun seringkali rujaknya belum sepenuhnya siap, pembeli sudah datang silih berganti, bahkan tak jarang dagangannya habis sebelum tengah hari.
Bagi Machmudah, berjualan rujak bukan sekadar urusan mencari nafkah, melainkan jalan untuk mengumpulkan ongkos menuju Baitullah. Dengan sabar, ia menyisihkan uang hasil penjualan, kadang Rp30 ribu, kadang Rp50 ribu, bahkan lebih saat pelanggan ramai. Ia juga sempat mengikuti arisan mingguan sebesar Rp300 ribu untuk menjaga disiplin dalam menabung.
Hampir 16 tahun lamanya Machmudah menyisihkan rezeki, hingga tabungannya cukup untuk pelunasan biaya haji pada tahun 2025. Niatnya yang kuat untuk berhaji selalu menjadi motivasi, bahkan ketika lelah melanda atau dagangan sepi. Ia percaya, niat yang dijaga sungguh-sungguh akan menemukan jalannya sendiri.
Di usianya yang ke-62 tahun, Machmudah akan berangkat haji pada 19 Mei 2026, menjadi salah satu dari 2.576 calon haji asal Cirebon. Persiapan telah dilakukan, mulai dari pakaian hingga perlengkapan mandi, namun tasbih menjadi benda paling penting baginya untuk menjaga zikir tetap hidup selama di Tanah Suci.
Perjuangan Istoifah: Dari Lapak Rujak ke Baitullah
Tak jauh berbeda dengan Machmudah, Istoifah (57) juga memiliki kisah inspiratif dalam mewujudkan impian haji. Dari lapak sederhananya di Jalan Evakuasi, Cirebon, ia telah berjualan rujak buah, karedok, sambal asam, hingga gorengan sejak tahun 1997. Omzet usahanya bisa mencapai Rp2 juta sehari, namun uang tersebut tidak sepenuhnya untuk dirinya.
Istoifah memiliki tanggung jawab besar untuk menghidupi banyak kepala, termasuk anak kandungnya, tiga keponakan yang disekolahkan, empat keponakan lain yang dibantu, dan dua cucu yang ditanggungnya. Meski demikian, ia tetap menyelipkan tabungan untuk haji, kadang Rp300 ribu atau Rp500 ribu, jumlah yang tidak tetap namun terus dilakukan dengan konsisten.
Keinginan untuk berhaji muncul tanpa rencana, saat hatinya tergerak mendengar lantunan selawat rombongan calon haji. Pada tahun 2013, ia memantapkan niat untuk mendaftar haji, meski tabungannya belum besar. Sempat mengalami kendala dengan uang yang tertahan di asuransi, Istoifah tetap sabar dan akhirnya dana tersebut kembali.
Kini, dengan tahun keberangkatan 2026 yang tertera di lembar identitasnya, Istoifah mempersiapkan diri tidak hanya dengan barang bawaan, tetapi juga dengan menyiapkan hati yang ikhlas dan tawakal. Ia percaya, selama niat dirawat dan usaha tak berhenti, selalu ada kesempatan untuk pergi ke Tanah Suci.
Persiapan Haji Cirebon dan Peran Kemenag
Geliat persiapan keberangkatan haji di Cirebon mulai terasa sejak April 2026, khususnya di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati. Suasana haru bercampur bahagia menyelimuti rombongan pertama calon haji asal Jawa Barat yang memulai perjalanan ibadah haji tahun ini. Kloter pertama dari Indramayu, yang terdiri dari 441 calon haji dan empat petugas, telah resmi diberangkatkan.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Jawa Barat, Boy Hary Novian, memastikan seluruh calon haji telah melalui pemeriksaan kesehatan dan dinyatakan layak terbang. Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI) adalah kementerian dalam Pemerintah Indonesia yang membidangi urusan agama, termasuk penyelenggaraan haji dan umrah. Proses keberangkatan berjalan lancar karena paspor setiap calon haji sudah diaktifkan. Koordinasi yang kuat antara petugas, mulai dari ketua regu hingga pendamping kloter, ditekankan untuk memastikan seluruh jamaah dapat menjalani ibadah dengan baik dan kembali dalam jumlah yang sama.
Penyelenggaraan ibadah haji tidak hanya fokus pada keberangkatan, tetapi juga pada aspek pengelolaan dana. Keterbukaan informasi menjadi kunci agar masyarakat memahami bagaimana dana tersebut dikelola untuk mendukung layanan haji. Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan ibadah haji.
Transparansi Pengelolaan Dana Haji oleh BPKH
Komisi VIII DPR RI, yang membidangi masalah agama dan sosial, bersama Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) aktif meningkatkan literasi publik tentang tata kelola dana umat. Anggota Komisi VIII DPR RI, Selly Andriany Gantina, menggelar diseminasi UU Nomor 34 Tahun 2014 di Cirebon pada awal Maret 2026, bertujuan agar masyarakat mengetahui bahwa dana yang disetorkan dikelola dengan prinsip akuntabilitas dan kehati-hatian.
Sebagai mitra kerja BPKH, Komisi VIII DPR RI memiliki fungsi pengawasan untuk memastikan pengelolaan dana haji sesuai regulasi dan melindungi dana umat. Forum ini juga menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyampaikan pertanyaan dan masukan langsung kepada BPKH, menghilangkan keraguan mengenai mekanisme pengelolaan dana haji.
Anggota Badan Pelaksana BPKH, Arief Mufraini, menjelaskan bahwa pihaknya terus mengembangkan penguatan regulasi untuk memperbesar kapasitas pengelolaan dana haji, tanpa mengurangi prinsip transparansi dan tata kelola yang baik. Penguatan ini diharapkan dapat menciptakan nilai manfaat yang lebih besar bagi jamaah. BPKH berkomitmen mengoptimalkan pengembangan dana haji untuk mendukung operasional haji tahun berjalan dan meningkatkan kualitas layanan di musim haji berikutnya.
Ikhtiar bersama ini, melalui layanan haji yang tertata, dukungan operasional keberangkatan yang mantap, serta optimalnya pengelolaan dana umat menjadi ikhtiar bersama agar langkah para calon haji lebih ringan.
Sumber: AntaraNews