Perjuangan Mbah Satumi: Calon Haji Tertua Lumajang yang Nabung Selama 16 Tahun
Mbah Satumi juga mengandalkan hasil kebun sengon dan ternak sapi miliknya. Meski penghasilan tak besar, ia tidak pernah menyerah menabung.
Ketekunan dan kesabaran menjadi kunci bagi Mbah Satumi, seorang perempuan berusia 95 tahun asal Desa Grati, Kecamatan Sumbersuko, Lumajang, untuk mewujudkan impian seumur hidup: menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci.
Lahir pada 1930, Satumi telah melewati masa penjajahan, kemerdekaan, hingga era modern. Namun satu hal yang tak pernah surut adalah tekadnya untuk naik haji.
“Sudah lama nabung, dari Sengon, dari sapi, bantu cucu kupas pisang buat kripik. Alhamdulillah akhirnya cukup,” ujarnya sambil menyeka air mata haru, Sabtu (10/5).
Menabung dari Kupas Pisang dan Ternak Sapi
Keinginan itu mulai ia rajut sejak 16 tahun lalu, dengan cara sederhana: membantu usaha keripik pisang milik cucunya. Dari bayaran kecil sebagai pengupas pisang, ia sisihkan sedikit demi sedikit.
Tak hanya itu, Mbah Satumi juga mengandalkan hasil kebun sengon dan ternak sapi miliknya. Meski penghasilan tak besar, ia tidak pernah menyerah menabung untuk berangkat haji.
"Setiap rupiah yang dikumpulkan adalah langkah kecil menuju Mekkah," begitu keyakinannya.
Calon Haji Tertua Lumajang
Kini, kerja keras itu berbuah manis. Pada musim haji 2025, Satumi tercatat sebagai calon jemaah haji tertua asal Lumajang. Persiapan keberangkatan dipenuhi suasana haru dan syukur.
Di rumah sederhananya, koper dan perlengkapan ibadah mulai disusun. Senyum bahagia menghiasi wajah tuanya yang penuh keriput—saksi perjuangan panjang menuju impian.
“Senang sekali bisa berangkat. Semoga diberi kesehatan selama di sana dan bisa pulang dengan selamat,” ucapnya penuh harap.
Simbol Cinta dan Keteguhan Iman
Menurut Sulis, anak Mbah Satumi, impian sang ibu telah dinantikan sejak hampir dua dekade lalu.
“Alhamdulillah senang banget cita-cita ibu saya ini bisa terkabul. Semoga ibadah beliau mabrur,” katanya.
Keberangkatan Mbah Satumi bukan sekadar perjalanan ke Mekkah, tetapi juga simbol dari kekuatan doa, keteguhan hati, dan cinta kepada Tuhan. Kisahnya menjadi bukti bahwa usia bukanlah penghalang, dan tidak ada usaha yang sia-sia jika dilakukan dengan niat tulus dan istiqamah.