Anggota DPR RI Ajak Warga Bukittinggi Aktif dalam Pengawasan Program Makan Bergizi Gratis
Anggota Komisi IX DPR RI Ade Rezki Pratama mengajak masyarakat Bukittinggi untuk berperan aktif dalam Pengawasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna memastikan keberhasilan dan meminimalkan kekurangan program.
Anggota Komisi IX DPR RI Ade Rezki Pratama mengajak warga Kota Bukittinggi untuk ikut berperan aktif dalam pengawasan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang baik di kota itu. Ajakan ini disampaikan saat sosialisasi bersama Badan Gizi Nasional (BGN) di Gulai Bancah, Kecamatan Mandiangin Koto Selayan, Bukittinggi, pada Jumat.
Sosialisasi tersebut bertujuan untuk melibatkan masyarakat secara langsung dalam mengawasi pelaksanaan program MBG. Peran serta warga diharapkan dapat membantu evaluasi berkelanjutan demi kesuksesan program di lapangan.
Ade Rezki Pratama menekankan pentingnya perhatian bersama dan evaluasi terus-menerus untuk meminimalkan risiko serta memastikan program berjalan optimal sesuai tujuannya.
Peran Penting Masyarakat dalam Pengawasan MBG
Ade Rezki Pratama mengakui bahwa program MBG, meskipun untuk Kota Bukittinggi tidak terdapat laporan pengaduan resmi atau masalah dari 46.000 penerima manfaat yang telah disalurkan, masih terdapat kekurangan di skala nasional. Oleh karena itu, partisipasi aktif masyarakat sebagai "dewan pengawas" sangat dibutuhkan.
"Mari kita semua agar bisa jadi dewan pengawasnya MBG. Program ini butuh perhatian bersama dan terus dievaluasi agar sukses terselenggara," kata Ade. Ia menegaskan bahwa segala sesuatu yang diolah manusia tentu tidak sempurna, namun menjadi tanggung jawab bersama untuk meminimalkan risiko buruk.
Keterlibatan warga Bukittinggi dalam Pengawasan Program Makan Bergizi Gratis akan memastikan transparansi dan akuntabilitas program. Ini juga menjadi langkah proaktif untuk mengidentifikasi dan mengatasi masalah sejak dini di tingkat lokal.
Tujuan dan Dampak Program Makan Bergizi Gratis
Pemerintah berupaya menjadikan MBG sebagai instrumen vital untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat, khususnya anak sekolah dan ibu hamil. Program ini dirancang untuk mengatasi masalah stunting yang masih menjadi perhatian nasional.
Selain aspek gizi dan kesehatan, MBG juga bertujuan mendorong kemandirian ekonomi lokal. Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai pemasok bahan pangan menjadi salah satu strategi utama dalam pelaksanaan program ini.
Frinadyani, perwakilan Badan Gizi Nasional (BGN), mengapresiasi permintaan masyarakat Bukittinggi untuk melibatkan potensi kuliner daerah setempat di dalam kemasan MBG. "Memang diprioritaskan nantinya kekayaan dan kuliner daerah seperti sayur mayur khas setempat. MBG selain memberikan dampak perbaikan gizi juga mendorong penguatan ekonomi lokal," jelas Frinadyani.
Capaian dan Target Nasional MBG
Hingga awal Maret 2026, Program Makan Bergizi Gratis telah menjangkau lebih dari 61,2 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia. Ini menunjukkan skala program yang masif dan komitmen pemerintah dalam pemenuhan gizi nasional.
Target total penerima manfaat MBG ditetapkan mencapai 82,9 juta orang pada akhir tahun 2026. Angka ini mencerminkan ambisi pemerintah untuk memastikan cakupan gizi yang luas bagi kelompok rentan di seluruh pelosok negeri.
Badan Gizi Nasional (BGN) sendiri merupakan lembaga pemerintah nonkementerian yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2024, bertugas melaksanakan pemenuhan gizi nasional. BGN bertanggung jawab atas penyelenggaraan pemenuhan gizi masyarakat, termasuk program MBG untuk peserta didik, anak-anak, ibu hamil, dan menyusui.
Sinergi Kuliner Lokal dan Ekonomi Daerah
Keterlibatan potensi kuliner daerah dalam MBG tidak hanya memperkaya variasi menu, tetapi juga memberikan dampak ekonomi langsung bagi UMKM lokal. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk menggerakkan roda perekonomian dari tingkat bawah.
Dengan memprioritaskan bahan pangan dan produk lokal, program ini menciptakan permintaan yang stabil bagi petani dan pelaku UMKM di daerah. Hal ini dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat setempat secara signifikan.
Sinergi antara program gizi nasional dan pemberdayaan ekonomi lokal menjadi model pembangunan yang holistik. Pendekatan ini memastikan bahwa manfaat program tidak hanya dirasakan dalam aspek kesehatan, tetapi juga dalam pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews