Anggota DPR Dorong Nilai Nasionalisme Developer Gim, Sinergi AI Jadi Kunci Ekonomi Kreatif
Anggota DPR RI Samuel Wattimena menekankan pentingnya pembekalan nilai nasionalisme bagi developer gim di Indonesia, seiring bonus demografi dan perkembangan AI untuk ekonomi kreatif.
Anggota Komisi VII DPR RI Samuel Wattimena baru-baru ini menyoroti urgensi pembekalan nilai-nilai nasionalisme bagi para pencipta gim di Indonesia. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah bimbingan teknis di Semarang pada hari Minggu, 16 November, yang membahas peluang dan tantangan sinergi gim dan AI. Ia menekankan bahwa bekal nasionalisme sangat krusial dalam setiap kreativitas yang dihasilkan oleh developer gim.
Menurut Samuel Wattimena, Indonesia harus mampu mengikuti laju perkembangan teknologi, terutama mengingat adanya bonus demografi yang besar. Industri gim dipandang sebagai salah satu sektor yang akan menjadi pilar penting dalam pergerakan perekonomian nasional di masa mendatang. Oleh karena itu, para pembuat gim diharapkan memiliki pemahaman mendalam tentang kedaulatan politik dan kemandirian ekonomi.
Selain itu, Samuel juga menyoroti pentingnya mengangkat kepribadian di bidang kebudayaan melalui karya-karya gim. Ia menambahkan bahwa kecerdasan buatan (AI) juga memegang peranan vital sebagai teknologi penyerap informasi. "Oleh karena itu, informasi yang dihimpun haruslah informasi yang benar," tegas Samuel Wattimena, menekankan akurasi data dalam pengembangan AI.
Membangun Identitas Bangsa Melalui Industri Gim
Samuel Wattimena secara tegas menyatakan bahwa developer gim di Indonesia harus dibekali dengan nilai-nilai nasionalisme yang kuat. Hal ini bukan hanya sekadar retorika, melainkan sebuah fondasi penting untuk menciptakan karya yang tidak hanya menghibur tetapi juga berkarakter kebangsaan. Pembekalan ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa cinta tanah air pada setiap produk gim yang dihasilkan.
"Developer gim harus kita bekali, harus punya bekal nasionalisme," kata Samuel Wattimena saat membuka bimbingan teknis di Semarang. Ia melihat industri gim sebagai potensi besar untuk mendukung ekonomi kreatif, namun harus diiringi dengan pemahaman akan kedaulatan politik dan kemandirian ekonomi. Ini berarti gim yang dibuat harus mampu merefleksikan dan memperkuat identitas bangsa.
Pentingnya nilai nasionalisme ini juga berkaitan dengan upaya mengangkat kepribadian di bidang kebudayaan. Melalui gim, unsur-unsur budaya lokal dapat diperkenalkan secara luas, baik di dalam maupun luar negeri. Dengan demikian, developer gim tidak hanya sekadar programmer, tetapi juga duta budaya yang memperkenalkan kekayaan Indonesia.
Sinergi Kecerdasan Buatan dan Unsur Kebangsaan dalam Gim
Selain nasionalisme, peran kecerdasan buatan (AI) juga menjadi sorotan dalam diskusi ini. Samuel Wattimena menekankan bahwa AI adalah teknologi yang menyerap berbagai informasi, sehingga kebenaran informasi yang dihimpun menjadi sangat krusial. Pemanfaatan AI harus dilakukan secara bijaksana untuk mendukung pengembangan gim yang berkualitas dan relevan.
Direktur Gim Kementerian Ekonomi Kreatif, Luat Sihombing, menambahkan bahwa banyak unsur ke-Indonesia-an sudah dimasukkan dalam berbagai gim yang ada saat ini. Meskipun tidak selalu dipasarkan secara eksplisit, esensi budaya dan nilai lokal telah terintegrasi. Hal ini menunjukkan potensi besar untuk lebih mengoptimalkan konten lokal dalam gim.
Terkait penggunaan AI, Luat Sihombing menyebutkan bahwa pemanfaatannya sudah cukup luas dalam industri kreatif, termasuk gim. Namun, ia mendorong agar AI dimanfaatkan sebagai alat bantu yang bijaksana dan etis. Penggunaan AI yang tepat dapat mempercepat proses pengembangan dan meningkatkan kualitas gim, sekaligus memastikan informasi yang diolah tetap akurat.
Sinergi antara nilai nasionalisme, kreativitas developer, dan teknologi AI diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia. Dengan bekal yang kuat, developer gim dapat menciptakan karya yang tidak hanya kompetitif di pasar global, tetapi juga bangga akan identitas dan kebudayaan Indonesia. Ini merupakan langkah strategis untuk menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang di era digital.
Sumber: AntaraNews