Mencetak Generasi Emas dari Kaum Dhuafa
Program Sekolah Rakyat sendiri adalah bentuk nyata kehadiran negara dalam menjawab kesenjangan pendidikan.
Dalam upaya memperkuat pendidikan inklusif dan transformatif bagi masyarakat prasejahtera, Kementerian Sosial Republik Indonesia (Kemensos RI) meluncurkan langkah inovatif melalui program Retreat Kepala Sekolah Rakyat. Melalui kolaborasi dengan ESQ Leadership Center, para kepala sekolah dibekali pendekatan baru dalam manajemen talenta berbasis Artificial Intelligence (AI) melalui teknologi Talent DNA.
Acara yang digelar di Jakarta ini menghadirkan Ary Ginanjar Agustian, Pendiri ESQ Corp, sebagai pembicara utama. Dalam pemaparannya, Ary menekankan pentingnya paradigma baru dalam dunia pendidikan Indonesia: mengenali potensi anak sejak dini, bukan semata-mata berdasarkan nilai akademis.
“Selama ini kita hanya mengukur IQ dan nilai sekolah. Tapi dengan pendekatan ini, kita bisa menemukan siapa saja yang jenius di bidang apa,” ujar Ary Ginanjar, Jumat (4/7).
Talent DNA, menurut Ary, mampu memetakan gaya belajar, potensi alami, kecenderungan karier, hingga kebutuhan emosional anak, sehingga setiap peserta didik dapat berkembang secara optimal. Teknologi ini menjadi tulang punggung transformasi pendidikan Sekolah Rakyat—sebuah program nasional yang digagas Presiden Prabowo Subianto dan diimplementasikan oleh Menteri Sosial Saifullah Yusuf bersama Prof. Dr. Mohammad Nuh.
Sekolah Rakyat: Pendidikan Berbasis Kemanusiaan
Program Sekolah Rakyat sendiri adalah bentuk nyata kehadiran negara dalam menjawab kesenjangan pendidikan. Fokusnya adalah pada pemberdayaan kaum dhuafa melalui pendidikan bermutu yang berbasis nilai, teknologi, dan talenta individu.
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf, menyatakan bahwa Sekolah Rakyat akan mulai beroperasi di 100 titik pertama mulai 14 Juli 2025, dengan berbagai instrumen pendukung termasuk aplikasi Manajemen Talenta. Aplikasi ini memetakan siswa berdasarkan:
- Gaya belajar dan potensi karier
- Kebutuhan emosional dan sosial
- Minat ekstrakurikuler
- Roadmap pengembangan jangka panjang
“Hari ini kita berdiskusi dengan banyak pihak, termasuk Pak Ary Ginanjar dan Prof. Nuh, untuk menyempurnakan pendekatan ini. Alhamdulillah, banyak masukan berharga,” kata Saifullah, Selasa (1/7).
Ary Ginanjar mengapresiasi peran aktif pemerintah, khususnya Presiden Prabowo, Mensos Saifullah, dan Prof. Nuh, dalam mendesain masa depan bangsa dari akar rumput. Ia menyebut Sekolah Rakyat sebagai langkah monumental dalam menciptakan keadilan pendidikan sekaligus meningkatkan daya saing bangsa.
“Langkah ini adalah bagian dari ikhtiar besar menuju Indonesia Emas 2045. Dimulai dari Sekolah Rakyat, untuk melahirkan generasi emas dari kaum dhuafa,” tegas Ary.
Prof. Dr. Mohammad Nuh, Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat, pun mengamini pernyataan tersebut. Baginya, pendekatan berbasis pemetaan talenta ini merupakan revolusi dalam dunia pendidikan sosial.
“Hari ini kita melihat betapa dahsyatnya potensi Sekolah Rakyat. Apa yang dulu diragukan, insyaallah kini akan terbukti,” tutur mantan Mendiknas tersebut dengan optimis.
Melalui kolaborasi antara Kemensos dan ESQ, serta dukungan lintas elemen masyarakat, Sekolah Rakyat tidak hanya menjadi ruang belajar—tetapi juga ruang tumbuh bagi anak-anak bangsa. Dengan teknologi Talent DNA, mimpi Indonesia Emas 2045 kini semakin nyata: membentuk pemimpin masa depan dari mereka yang hari ini nyaris tak terlihat.