Tuntut Kenaikan Gaji, Ribuan Pekerja di Pabrik Hyundai Mogok Kerja
Hyundai baru saja merayakan pencapaian penjualan yang luar biasa di Amerika Serikat, namun keadaan di Korea Selatan tidak sebaik itu.
Hyundai baru-baru ini merayakan pencapaian rekor penjualan di Amerika Serikat, namun situasinya berbeda di Korea Selatan. Di sana, anggota serikat pekerja berencana melaksanakan serangkaian aksi mogok terbatas. Menurut informasi dari Carscoops, mogok yang dilakukan oleh para pekerja Hyundai ini akan mempengaruhi tiga fasilitas, yaitu yang berada di Asan, Jeonju, dan Ulsan. Akibatnya, beberapa model yang akan terdampak termasuk Kona, Tucson, Santa Fe, Palisade, Sonata, dan Grandeur. Selain itu, mogok ini juga akan berpengaruh pada model Genesis G70, G80, G90, GV60, GV70, dan GV80.
Dalam tuntutannya, serikat pekerja meminta diubahnya jadwal kerja menjadi 4,5 hari dalam seminggu dan meningkatkan usia pensiun dari 60 menjadi 64 tahun. Mereka juga menuntut kenaikan gaji sebesar 141.300 won, yang setara dengan Rp1,5 juta per bulan, serta bonus kinerja sebesar 30 persen dari laba bersih perusahaan pada tahun lalu. Keputusan untuk melakukan aksi mogok ini didukung oleh mayoritas pekerja, dengan 86 persen anggota serikat menyetujui langkah tersebut. Meskipun manajemen telah mengajukan tawaran untuk kenaikan gaji dan bonus, tawaran tersebut dianggap belum memenuhi harapan, sehingga serikat pekerja memilih untuk melakukan aksi parsial.
Hyundai Motor terakhir kali mengalami pemogokan total terkait isu upah hampir sepuluh tahun yang lalu. Sejak saat itu, hubungan industrial di perusahaan tersebut relatif stabil, sehingga mogok parsial kali ini dianggap sebagai strategi untuk memberikan tekanan kepada manajemen tanpa menghentikan produksi secara keseluruhan.
Dampak dari aksi mogok ini menjadi perhatian utama karena berkaitan dengan pasokan beberapa model terlaris dari Hyundai. Meskipun sifatnya terbatas, mogok ini diperkirakan dapat memengaruhi proses produksi. Saat ini, industri otomotif lokal sedang menantikan perkembangan dari negosiasi antara serikat pekerja dan manajemen Hyundai, yang dapat berfungsi sebagai indikator tren tenaga kerja di Korea Selatan.