Ignatius Kardinal Suharyo: Saya Menangis Waktu Dipilih Sebagai Uskup dan Kardinal
Di usia yang ke-75 tahun, Igantius Kardinal Suharyo juga bicara tiga kata yang menggambarkan perjalanan hidupnya. Yakni anugerah, panggilan, dan perutusan.
Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo genap berusia 75 tahun. Kardinal Suharyo awalnya bercita-cita menjadi seorang Polisi. Namun jalan Tuhan membawanya menjadi seorang pastor.
Ignatius Suharyo selalu melibatkan Tuhan di setiap perjalanan hidupnya. Dari seorang pastor menjadi uskup hingga dipilih Paus Fransiskus menjadi seorang kardinal. Ignatius Suharyo adalah orang ketiga yang menjadi kardinal di Indonesia.
Di usia yang ke-75 tahun, Ignatius Kardinal Suharyo juga bicara tiga kata yang menggambarkan perjalanan hidupnya. Yakni anugerah, panggilan, dan perutusan.
Berikut petikan wawancara jurnalis Liputan6 SCTV Gracia Bern dengan Uskup Agung Jakarta Ignatius Kardinal Suharyo.
Bapak Kardinal, selamat ulang tahun yang ke-75. Doa saya sama dengan semua umat lainnya, semoga Bapak Kardinal selalu sehat, panjang umur, dan senantiasa diberikan sukacita oleh Tuhan. Kalau bisa menggambarkan 75 tahun perjalanan hidup, tiga kata yang bisa menggambarkan kira-kira apa?
Sesudah 75 tahun menjalani hidup ini, saya sampai kepada kesimpulan bahwa hidup adalah anugerah, panggilan, dan perutusan. Tiga kata.
Luar biasa. Hidup adalah panggilan, perutusan. Dan kalau bisa kita refleksikan perjalanan hidup Bapak Kardinal, pasti sudah melewati banyak pengalaman. Cerita-cerita awal Bapak Kardinal dulu cita-citanya menjadi polisi. Kemudian menjadi seorang imam. Bagaimana ceritanya?
Itulah mungkin yang harus diungkapkan dengan bahasa iman. Tadi kan saya mengatakan, tiga kata kunci bagi saya mengenai hidup adalah anugerah dan panggilan, dan kemudian perutusan.
Hidup itu adalah panggilan, artinya, sekurang-kurangnya bagi saya, hidup ini mesti dijalani tidak sekedar dengan rencana sendiri. Tetapi karena hidup itu berasal dari Tuhan. Tuhan yang memberi anugerah kehidupan. Sehingga jalan hidup itu sudah semestinya, sekurang-kurangnya bagi saya pribadi, tidak direncanakan oleh saya sendiri.
Karena nyatanya selama sekian lama ini, semua yang saya rencanakan itu tidak pernah jadi. Seperti tadi dikatakan, saya ingin jadi polisi, tapi hidup saya dibelokkan oleh Tuhan yang memanggil saya. Saya masuk seminari tinggi, masuk di dalam lingkungan imam diosesan Keuskupan Agung Semarang waktu itu. Saya ingin jadi pastor paroki, karena ingin melayani umat. Itu pun tidak jadi. Karena pimpinan saya, menyuruh saya belajar, dan ketika saya belajar, destinasi saya sudah jelas, yaitu untuk mengajar para calon imam, mendampingi mereka. Jadi sudah dibelokkan yang kedua.
Ketika saya menjadi dosen, 16 tahun, saya merasa itulah hidup saya, sampai nanti masa purna bhakti sebagai pengajar. Tetapi sesudah 16 tahun, saya ditunjuk oleh Paus Yohanes Paulus II sebagai Uskup keuskupan Agung Semarang. Sudah dibelokkan lagi. Jadi itulah panggilan. Dalam arti itu, saya yakin bahwa hidup siapapun sebetulnya tidak boleh direncanakan dengan rencana-rencananya sendiri.
Mesti memberi tempat kepada Tuhan yang selalu memanggil, dan setiap kali berdoa, salah satu yang didoakan adalah, Tuhan kau mengendaki saya, memanggil saya untuk memilih jalan hidup apa, dan ketika memilih jalan hidup tertentu, lalu langkah-langkah hidup jenis mana yang mesti saya tempuh supaya saya tetap mengikuti panggilan Tuhan. Kedengarannya suci sekali ya.
Sejauh ini, apa keinginan Bapak Kardinal yang belum terwujud?
Nah, ini juga sangat sulit dijawab. Soalnya cara berpikir saya, itu mungkin agak berbeda ya. Begini, ketika saya sudah menjadi imam, saya janji, waktu saya ditahbiskan menjadi imam, untuk selalu taat kepada pimpinan. Itu janji di hadapan sekian banyak umat ketika saya ditahbiskan. Jadi janji untuk taat kepada pimpinan. Itu kan artinya saya tidak boleh mempunyai keinginan-keinginan sendiri, kan?
Tetapi saya menempatkan diri saya di dalam rangka perutusan gereja, saya bergabung dengan gereja waktu itu, Keuskupan Agung Semarang saya menempatkan diri di dalam perutusan gereja Keuskupan Agung Semarang. Ketika pimpinan memandang bahwa diperlukan pengajar dan diperlukan formator untuk mendampingi calon-calon imam, keinginan saya mesti saya tinggalkan, (keinginan) tadi itu menjadi Pastor paroki.
Sehingga di dalam rangka itu, saya tidak mempunyai keinginan apapun. Sehingga kalau ditanyakan apa yang belum terwujud, semuanya sudah terwujud. Karena saya sudah taat kepada pimpinan saya. Dan itulah keinginan saya. Cita-cita saya itu sama dengan cita-cita Gereja di mana saya mengabdikan diri.
Kehidupan menjadi seorang imam selain melayani umat, pasti juga butuh waktu-waktu tersendiri untuk mungkin kontemplasi, merenung. Kalau anak muda, Gen Z nyebutnya me-time. Bapak Kardinal setiap harinya punya waktu me-time?
Kalau saya dari lingkungan orang Jawa ya. Jadi di dalam lingkungan budaya Jawa itu ada tiga kata yang sangat dalam maknanya. Neng, dari kata meneng itu diam. Ning, itu artinya bening, wening. Nung, itu artinya dunung, arah hidup. Saya dengan latar belakang budaya Jawa saya yakin mengenai hal itu.
Jadi siapapun yang ingin menghayati hidupnya dengan baik dan benar, mesti memberi waktu untuk meneng, diam. Namanya kontemplasi atau meditasi atau apapun supaya hatinya itu bening. Nah ketika hati bening itu tahu jalan hidup, tahu arah hidup. Seperti air keruh ya. Kalau digoncang-goncang terus itu kan tetap keruh. Tetapi kalau air keruh itu diletakkan satu malam lah di meja, kotorannya akan mengendap dan air itu akan menjadi bening. Dan kita bisa memandang tembus air yang sudah bening itu untuk melihat yang di balik sana. Itu filsafat budaya Jawa.
Tidak omong tentang me-time, tetapi bicara tentang perlunya waktu untuk diam. Supaya hatinya bening dan melihat arah hidup ini melenceng atau tetap. Kami sudah dilatih untuk hal seperti itu sejak kelas 1 SMP. Jadi sudah sangat biasa menempatkan semuanya di dalam diam.
Mungkin itu yang sekarang namanya me-time, tapi bukan healing. Healing itu kan untuk orang bingung ya. Kalau kami memikirkannya berbeda. Jadi memang dilatih untuk diam untuk supaya bisa wening. Nah, dalam hal ini kalau kita mau menggunakan istilah yang me-time atau apa. Itulah yang sebetulnya kalau me-time itu kan kedengarannya egois banget ya.
Memang perlu waktu untuk dirinya sendiri. Itu penting, tetapi saya tidak suka menggunakan istilah itu karena sangat egois, menurut saya. Saya bisa salah ya. Apalagi kata healing. Memangnya kita ini sakit? Saya lebih suka menggunakan kata rekreasi. Itu kan lebih bermakna ya. Rekreasi. Menciptakan kembali.
Menciptakan kembali itu artinya apa? Kalau kita saya orang katolik ya, jadi bahasanya selalu dicari latar belakangnya dengan bahasa iman. Rekreasi, menciptakan. Ketika Tuhan menciptakan semuanya menjadi baik. Rekreasi itu artinya menciptakan kembali, sehingga apapun yang kelihatannya dalam diri saya tidak baik, misalnya kelelahan, misalnya terlalu banyak pekerjaan, kita membutuhkan waktu untuk rekreasi.
Sehingga beban-beban yang dirasa terlalu berat itu bisa pelan-pelan dengan rekreasi, bisa terangkat ya, jadi saya menjadi baik lagi, menjadi tenang lagi, bisa mempunyai kekuatan yang memadai untuk melanjutkan pekerjaan. Jadi saya jauh lebih suka menggunakan istilah rekreasi daripada healing, daripada me-time.
Kalau orang melihat seorang imam, apalagi seorang Kardinal, pasti banyak waktu yang dihabiskan untuk berdoa atau juga mungkin punya waktu spiritual sendiri. Seberapa sering Bapak Kardinal melakukan itu setiap harinya? Kemudian apakah ada doa-doa khusus yang dipanjatkan kepada Tuhan?
Ya, pasti ya. Setiap hari. Kami, para klerus artinya imam, uskup, diakon itu mempunyai kewajiban untuk mendoakan yang namanya ibadat harian. Secara ringkas, artinya pagi, siang, sore, malam. Kalau yang tidak ringkas itu di pertapaan-pertapaan seperti Rowo Seneng, itu mereka para rahib mempunyai kewajiban berdoa bukannya lima kali sehari, tujuh kali sehari. Tapi kami imam yang aktif melayani umat kalau waktunya tujuh kali sehari berdoakan habis untuk berdoa ya bukan melayani.
Maka diberi rumusan-rumusan yang singkat, itu artinya singkat itu berdoa seperempat jam, seperempat jam dua puluh menit gitu ya. Itu pagi, siang, sore, malam. Itu kewajiban. Jadi tanpa berinisiatif sendiri mengikuti yang diwajibkan saja. Kadang-kadang bolong-bolong juga kalau terlalu lelah. Lalu doa Tobat saja bahwa tidak menjalankan tugas berdoa hari ini.
Ada doa-doa khusus yang Bapak Kardinal panjatkan?
Doa persembahan harian ya. Rumusannya Allah Bapak kami kupersembahkan doa, pikiran, perkataan tindakan maupun suka dukaku hari ini dalam kesatuan dengan persembahan diri Yesus yang selalu mempersembahkan dirinya dalam Ekaristi bagi keselamatan dunia. Kiranya roh kudus yang menjiwai Yesus juga menjadi kekuatan bagi aku agar aku dapat didorong untuk memberikan kesaksian kasih. Itu doa sesudah bangun tidur, doanya itu.
Saya Menangis Waktu itu..
Saya ingin bertanya soal jabatan Bapak Kardinal Ignatius Suharyo, ini kan jabatan kehormatan tertinggi kedua dalam Gereja Katolik setelah Paus. Bapak Kardinal Suharyo adalah orang Indonesia ketiga dalam sejarah Indonesia yang dipilih menjadi seorang kardinal. Nah di momen sebelum menjadi seorang kardinal, apakah ada momen-momen spesial pada akhirnya Bapak memutuskan oke, saya ambil tanggung jawab besar ini menjadi seorang kardinal?
Tidak ditanya. Jadi saya pun mendengarkan penunjukan itu bukan dari resmi langsung dari Paus. Tapi Paus langsung mengumumkan di sana tanpa tanya saya. Itulah gereja katolik taat kepada pimpinan. Semuanya harus diterima dan dicoba dijalankan sebaik-baiknya kalau taat begitu kan sebetulnya dalam arti tertentu mudah.
Berarti Bapak kardinal punya sesuatu yang menarik yang unik yang pada akhirnya membuat Paus pada saat itu memilih Bapak Kardinal?
Tidak pernah mengatakan apa-apa mengenai itu kepada saya. Mungkin, saya tidak tahu apakah betul begitu atau tidak, waktu itu kan Paus akan ke Indonesia tahun 2020, tapi tidak jadi karena COVID. Nah waktu itu saya masih Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia dan diminta untuk menyiapkan semboyan kedatangan Paus. Ketika itu di Keuskupan Agung Jakarta, kami sudah merumuskan satu semboyan dinamika untuk umat katolik di Keuskupan Agung Jakarta. Semakin beriman semakin bersaudara semakin berbela rasa. Itu tiga kalimat yang merumuskan dinamika umat Keuskupan Agung Jakarta.
Intinya mudah. Salah satu indikator yang amat penting dari iman adalah persaudaraan. Kalau mengatakan orang beriman tetapi mana-mana membuat konflik, imannya mesti diberi tanda tanya besar. Persaudaraan yang sejati itu indikatornya adalah bela rasa. Nah kata bela rasa itu terjemahan dari kata bahasa latin compassion. Nah itulah yang dipakai diusulkan waktu itu saya sebagai ketua KWI mengusulkan dinamika Gereja Keuskupan Agung Jakarta menjadi semboyan kunjungan apostolik Paus Fransiskus tahun 2020 faith fraternity compassion. Itu langsung diterima oleh Paus. Ternyata gagal kedatangannya.
Ketika beliau datang dan akhirnya tahun 2024, saya bukan ketua KWI lagi. Tapi saat itu saya usulkan lewat ketua KWI Bapak Uskup Anton, Uskup Bandung langsung diterima juga. Mungkin dinamika gereja yang seperti inilah yang dihargai oleh Paus Fransiskus. Karena persis itu kalah kata-kata yang sering dipakai oleh Paus Fransiskus kemudian. Dan ketika saya ditunjuk sebagai Kardinal salah satu surat pribadi yang saya terima itu menyebut kata compassion itu.
Salah satu kata yang langsung masuk ke diri saya. Saat itu Paus Fransiskus ketika mengingat Anda sekalian adalah kata compassion. Mungkin keselarasan seperti itu. Tapi sungguh saya tidak pernah ditanya. Orang lain juga saya kira tidak pernah ditanya, yang saya tahu Duta Besar juga tidak ditanya.
Bapak senang menjadi seorang Kardinal?
Kalau tahu pakaian Kardinal, kan merah itu lambang apa? Bukan hanya keberanian. Kesetiaan sampai mati, kesetiaan sampai menumpahkan darah. Mengerikan kan? Jadi meskipun saya tidak berharap akan menumpahkan darah, tapi kalau perlu harus ditempuh, maka harus ditempuh. Jadi itu bukan status yang mesti dipamerkan. Itu adalah tanggung jawab iman yang sangat besar.
Apakah ada momen-momen berkesan Bapak Kardinal selama menuju kursi Kardinal?
Menuju kursi Kardinal menuju itu tidak ada, tiba-tiba ditunjuk. Pasti kaget sama seperti waktu saya ditunjuk sebagai uskup. Itu pun saya sudah sangat kaget.
Saya itu orang yang sulit menangis. Tetapi sejak saya ditunjuk sebagai Uskup Semarang, saya gembeng (menangis). Saya mudah sekali menangis. Karena waktu itu saya ditunjuk bulan April tahun 1997, saya ditahbiskan 22 Agustus. Sepanjang waktu itu dari April sampai Agustus saya tidak boleh omong kepada siapapun mengenai penunjukan saya. Itu rahasia, tidak boleh. Jadi tidak boleh cerita-cerita ke sana kemari. Sebab beban saya itu terangkat harus ditanggung sendiri. Dan itu membuat saya, sejak saat itu saya gampang menangis.
Sama ketika ditunjuk menjadi Kardinal, saya tidak diberitahu. Hanya telepon saya bunyi terus, oh ini ada apa. Sampai akhirnya Duta Besar Vatikan menelepon saya, saya pun tidak percaya. Tetapi ya tinggal menerima hati bergejolak ya itu terus menangis.
Tapi ya itu tadi, kalau semuanya ditempatkan di dalam panggilan yang saya tanggapi, bahwa saya menempatkan diri saya di bawah pimpinan saya, apapun yang dia putuskan untuk saya itulah yang harus saya jalani. Akhirnya semuanya bisa dipertimbangkan dengan keyakinan itu. Sudah sekarang dijalani saja dengan tenang.
Menyikapi Intoleransi dengan Kepala Dingin
Kita sudah punya Paus baru. Apa harapan Bapak Kardinal, dan juga doa-doa yang disampaikan kepada Paus Leo ke-14?
Harapannya itu bukan harapan saya tetapi harapan dari para Kardinal yang ikut memilih beliau. Jadi waktu Konklaf itu didahului oleh masa pra-Kongklaf. Sejak Paus Fransiskus meninggal, sampai beliau dimakamkan itu kan sembilan hari. Selama sembilan hari itu, para Kardinal semakin banyak berdatangan ke Roma. Itu setiap hari mengadakan pertemuan untuk membicarakan satu, dunia sekarang ini dalam keadaan seperti apa. Kalau dunia seperti ini dengan tanda-tanda zaman tertentu, gereja macam apa yang diharapkan tetap relevan bermakna bagi zamannya. Kalau gerejanya mau seperti ini, Paus macam apa yang kita harapkan dapat memimpin gereja supaya bisa menanggapi tanda-tanda zaman.
Sejauh saya tangkap, yang diharapkan oleh para peserta Kongklaf itu adalah, Paus yang menjalankan peranannya sebagai pastor. Gembala bukan akademisi, bukan yang lain-lain. Tapi gembala yang dekat dengan umat. Bahasanya simbolik-simbolik hidupnya bisa dipahami oleh umat.
Waktu pra kongklaf nama Paus Fransiskus masih terus disebut. Tentu berdasarkan itu dan Kardinal Prevost juga ada di dalam pertemuan-pertemuan itu, jadi beliau pasti seperti yang lain-lain mendengarkan ya pasti beliau mendengarkan. Dan sesudah Kongklaf beliau terpilih pun, Paus ini masih mengumpulkan kami lagi untuk mendengarkan apa yang diharapkan lagi.
Jadi dalam diri Paus Leo ini akan dilanjutkan semangat gereja yang terbuka, semangat gereja yang berjalan bersama-sama, tidak menunjukkan kekuasaan, tetapi kebersamaan. Menjadi suara bagi saudara-saudara kita yang tidak punya suara. Itu pasti akan dilanjutkan atau saya yakin akan dilanjutkan oleh Paus Leo ke-14.
Tetapi Paus Leo ke-14 ini bukan titisan Fransiskus, karena masing-masing pribadi mempunyai gaya sendiri. Paus Leo ini pasti akan lebih teratur organisasinya, tidak ke sana kemari. Kalau Paus Fransiskus itu kan kalau kita omong itu kan mengikuti gerakan roh.
Tapi kita belum melihat, apa rencana beliau jangka panjang. Karena biasanya seorang Paus yang mulai menjalankan pelayanannya, akan menulis buku, namanya Ensiklik, Anjuran Apostolik dan sebagainya. Di situlah ia menyampaikan gagasan-gagasannya. Ya beliau pasti akan menulis.
Kalau kita bicara soal tantangan yang dimiliki Indonesia, termasuk yang baru-baru ini, barangkali Bapak Kardinal juga mendengar ada kasus perusakan rumah retret. Nah, menghadapi banyak tantangan intoleransi di Indonesia, bagaimana seharusnya umat katolik bersikap dan memandang hal ini?
Ya mesti dengan kepala dingin dan hati yang lapang. Maksud saya begini, kita tidak terpancing dengan peristiwa-peristiwa seperti itu. Lalu membuat video macam-macam sebagai kritik, sebagai enggak lah, kita sudah terbiasa mengalami hal seperti itu. Kita fokus saja ini adalah, kalau saya akan mengajak umat untuk tidak memandang peristiwa ini sebagai peristiwa agama. Tetapi sebagai peristiwa sosial perusakan rumah atau penganiayaan sudah. Enggak usah pakai agama. Dan itulah yang dilakukan oleh polisi, saya kira dalam hal ini saya setuju dengan yang dipikirkan oleh Polisi meskipun ada saudara-saudara kita yang spontan macam-macam sih reaksi, saya enggak.
Kita mesti berpikir dingin berhati lapang di tengah-tengah masyarakat yang memang kesenjangan sosialnya masih sangat tinggi. Kesenjangan pendidikan kesadaran keagamaan masih sangat tinggi, kita jangan ikut-ikut masuk ke situ. Ada penegak hukum, serahkan kepada yang berwenang.
Bagaimana Bapak Kardinal melihat politik Indonesia dan geopolitik internasional dunia di tengah saat ini kita punya 2 kekuatan besar ada Amerika Serikat kemudian ada China atau Tiongkok. Bagaimana sikap umat katolik untuk melihat isu-isu semacam ini?
Ya saya terus terang saja, saya tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Di Keuskupan Agung Jakarta ini ada 1 lingkaran terdiri dari kaum awam, masalah politik itu bukan masalah bukan wewenangnya uskup bukan pemenangnya pastor, bukan kompetensinya. Itulah kompetensi kaum awam. Oleh karena itu Romo Adi, Sekretaris Keuskupan Agung Jakarta ini mempunyai lingkaran-lingkaran tempat para awam katolik berkumpul untuk menilai tanda-tanda zaman.
Lalu ketika mereka berkumpul, saya ikut mendengarkan. Saya hanya mengatakan secara sangat umum ajaran gereja mengenai politik politik. Itu kan artinya bagus ya. Politik itu yang jahat, itu yang sedang terjadi. Apa-apa dipolitisasi itu tanda-tanda bahwa keadaan dunia atau keadaan negara tidak baik-baik saja.
Karena pada dasarnya politik itu adalah jalan yang mesti ditempuh agar kebaikan bersama itu dipastikan dapat diwujudkan, itulah tanggung jawab negara. Jadi tanggung jawab utama negara itu adalah menjamin kepastian kebaikan bersama. Sila kelima Pancasila. Sekarang lihat saja realitasnya kayak apa.
Maaf saya menggunakan istilah yang digunakan oleh seorang pengamat politik. Soal korupsi. Negara itu terdiri dari legislatif, eksekutif, yudikatif. Trias politika itu pilar-pilar untuk demokrasi. Ada seorang pengamat politik yang mengatakan ini trias politika ini sudah berubah sekarang menjadi trias koruptika mengerikan kan? bukan saya mengatakan, saya mengutip karena itu bukan kepentingan saya.
Tanggung jawab awam katolik, bukan uskup, bukan imam. Awam katolik untuk terjun di dalam politik dan berpolitik dengan moral katolik. Tetapi dengan sistem politik seperti sekarang ini apakah moralitas katolik bisa dipraktikan atau enggak? sistem politik partai. Saya hanya bertanya saja.