Kurang lebih 16.000 umat Katolik di Keuskupan Agung Kupang menghadiri misa pemakaman Uskup Emeritus Keuskupan Agung Kupang Mgr Petrus Turang di Katedral Kristus Raja Kupang, Selasa (8/4).
Misa pemakaman dipimpin oleh Uskup Agung Kupang Mgr Hironimus Pakaenoni dan dihadiri juga oleh tujuh Uskup baik dari NTT, maupun dari wilayah NTT, serta ribuan pastor, frater dan suster.
Jenazah Mgr Petrus Turang dimakamkan di pelataran gereja Katedral Kristus Raja Kupang, berdampingan dengan makam pendahulunya yakni mendiang Mgr Gregorius Monteiro SVD.
Sejumlah pejabat daerah juga terlihat hadir mengikuti misa pemakaman, seperti Gubernur NTT Melki Laka Lena, Kapolda NTT Irjen Pol Daniel Tahi Monang Silitonga, serta Wali Kota Kupang Christian Widodo.
Ketua KWI yang juga Uskup Bandung Mgr Antonius Bunjamin Subianto OSC dalam renungannya mengatakan, mendiang Mgr Petrus Turang merupakan sosok yang keras terhadap diri sendiri.
Sehingga mendiang tampak keras kepala, keras hati untuk menuntut orang lain ikut keras terhadap dirinya sendiri. Dia berpesan kepada 19 imam saat tahbisan untuk tidak mencari dirinya sendiri tetapi menghidupi identitas imamat-nya.
"Mgr Petrus Turang tidak pernah mencari dirinya sendiri. Mau disebut galak, mau disebut keras, mau disebut otoriter tidak apa-apa yang penting dia mengabdi. Dia setia kepada Allah dan mengabdikan diri secara total kepada umat dan masyarakat yang dipercayakannya," ungkap Mgr Antonius Bunjamin Subianto OSC.
Gubernur NTT Melki Laka Lena dalam sambutannya mengatakan, almarhum selain melaksanakan tugas kegembalaan sebagai rohaniawan tetapi juga melaksanakan benih-benih cinta kasih dalam pemberdayaan ekonomi umat, dan masyarakat baik di bidang pertanian, peternakan pariwisata, kelautan, perikanan dan perkebunan.
"Mgr Petrus Turang selalu mengutamakan dan mengedepankan agar pelayanan Keuskupan Agung Kupang sungguh terarah pada keseluruhan dan kesejahteraan umat," ungkapnya.
Menurut Melki Laka Lena, Mgr Petrus Turang selalu membuka dialog bersama pemimpin umat agama lain, pemerintah daerah serta seluruh pemangku kepentingan di NTT, untuk bersama-sama menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.
"Kepergian Mgr Petrus Turang bukan saja menjadi duka mendalam bagi umat Katolik di Keuskupan Agung Kupang, namun umat beragama lain. Hal ini ditandai dengan adanya umat beragama Muslim, Protestan, Hindu, Budha dan Konghucu yang ikut menyambut jenazahnya dari Bandara hingga gereja Katedral," ungkapnya.
"Saya mengenal Mgr Petrus Turang sebagai pribadi yang apa adanya. Beliau tidak akan basa basi berurusan dengan orang, berbicara apa adanya tapi semuanya dalam kasih, selamat jalan Bapak Uskup menuju surga," tutup Melki Laka Lena sambil menahan tangisnya.
Untuk diketahui, Uskup Emeritus Mgr Petrus Turang tutup usia di usianya yang ke 78. Ia meninggal dunia di RS Pondok Indah, Jakarta Selatan, Jumat (4/4), Pukul 6.20 Wib.
Mgr. Petrus Turang ditahbiskan menjadi imam diosesan Keuskupan Manado pada 18 Desember 1974. Ia sempat memegang jabatan sebagai Sekretaris Eksekutif Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Konferensi Waligereja Indonesia.
Selama memegang jabatan tersebut, ia ditunjuk sebagai Uskup Agung Koajutor Keuskupan Agung Kupang pada 21 April 1997. Ia ditahbiskan pada 27 Juli 1997 di Arena Promosi Hasil Kerajinan Tangan Rakyat NTT, Kelurahan Fatululi, Kecamatan Kelapa Lima, Kupang.