Siapkan Modifikasi Cuaca, Begini Cara BPBD DIY Atasi Kekeringan pada Musim Kemarau
Operasi Modifikasi Cuaca dilakukan untuk mengoptimalkan pertumbuhan awan hujan pada periode transisi sebelum memasuki puncak musim kemarau
Operasi Modifikasi Cuaca dilakukan untuk mengoptimalkan pertumbuhan awan hujan pada periode transisi sebelum memasuki puncak musim kemarau
Siapkan Modifikasi Cuaca, Begini Cara BPBD DIY Atasi Kekeringan pada Musim Kemarau
Memasuki bulan Juli, sejumlah daerah di Indonesia sudah dilanda kekeringan. Hal ini membuat daerah lain ikut was-was. Mereka mulai mempersiapkan diri bila kekeringan terjadi di wilayah mereka.
Hal itu pula yang dilakukan oleh BPBD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Mereka menyiapkan operasi modifikasi cuaca untuk mengantisipasi dampak kekeringan pada musim kemarau di wilayah tersebut.
“Rencana kami kalau itu memang darurat kekeringan betul akan dibuat modifikasi cuaca atau hujan. Nanti kalau modifikasi kurang, bisa untuk mengajukan dana terkait dengan dropping air ke kabupaten,” kata Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD DIY Edhy Hartana dikutip dari ANTARA pada Rabu (31/7).
Dilansir dari Bmkg.go.id, kegiatan Operasi Modifikasi Cuaca dilakukan untuk mengoptimalkan pertumbuhan awan hujan pada periode transisi sebelum memasuki puncak musim kemarau sehingga bisa mengisi tampungan air atau waduk di daerah yang mengalami kekeringan.
BMKG sendiri melakukan modifikasi cuaca dengan cara mengisi air pada 35 waduk guna mengamankan pasokan air terutama pada jaringan irigasi pertanian sehingga dapat mencukupi kebutuhan air pada musim kemarau.
Berdasarkan perkiraan BMKG Yogyakarta, musim kemarau di DIY bisa berlangsung hingga Bulan September. Mengantisipasi dampaknya, BPBD DIY telah mengajukan surat penetapan status siaga darurat kekeringan ke Gubernur DIY Sri Sultan Hamengkubuwono X pada Jumat (26/7) lalu. Status siaga darurat ini khususnya telah diberlakukan di Kabupaten Gunungkidul dan Kulon Progo.
Edhy mengatakan, hingga saat ini pihaknya masih memantau situasi serta penanganan dampak kemarau di level kabupaten. Menurutnya, meski dua kabupaten telah berstatus siaga darurat, namun pemenuhan kebutuhan air bersih, khususnya di Kulon Progo dan Gunungkidul, masih aman. Dari 1.000 tangki air bersih yang disiapkan di Gunungkidul, hingga saat ini belum sampai 50 persen yang disalurkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Sementara di Kabupaten Sleman, kebutuhan air bersih masih bisa dipenuhi warga secara mandiri dan belum sampai mengajukan bantuan pasokan air bersih kepada pemerintah.
Sedangkan di Kabupaten Bantul, permintaan air bersih sempat diajukan oleh sekelompok warga. Namun itu bukan karena dampak kekeringan, melainkan akibat kerusakan pompa sumur yang mengaliri sejumlah dusun di wilayah tersebut.
Sebelumnya Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas menyebut puncak musim kemarau 2024 di DIY diprediksi berlangsung antara Juli hingga Agustus 2024. Untuk mengantisipasi kekeringan pada periode waktu tersebut, Edy berharap masyarakat bisa menghemat air sehingga tidak sekadar bergantung pada bantuan pemerintah.
“Kami mengimbau kepada warga yang khususnya terdampak kekeringan, berhematlah menggunakan air. Setelah digunakan air bisa disalurkan ke tanaman jadi jangan terbuang-buang,” kata Edy.