Melihat Peninggalan Era Hindu-Buddha di Kulon Progo, Penuh Misteri yang Belum Terpecahkan
Sebagian besar peninggalan kuno itu sudah tak utuh dan hanya meninggalkan sebuah teka-teki.
Tak banyak yang tahu kalau wilayah Kabupaten Kulon Progo di Daerah Istimewa Yogyakarta menyimpan peninggalan Hindu-Buddha. Selama ini peninggalan Hindu-Buddha di DIY kebanyakan hanya ditemukan di wilayah Kabupaten Sleman bagian timur. Namun faktanya, ditemukan beberapa peninggalan Hindu-Buddha di Kulon Progo. Sayangnya sebagian besar sudah tak utuh dan hanya meninggalkan sebuah teka-teki.
Endraswara dalam buku “Keistimewaan Yogyakarta dalam Perspektif Arkeologi” menulis bahwa Dinas Kebudayaan Kulon Progo dan Balai Pelestari Cagar Budaya pernah menginventarisasi sejumlah penemuan benda bernilai arkeologis di Kulon Progo pada tahun 2018.
Selain itu, benda-benda peninggalan Hindu pun pernah ditemukan pada sejumlah tempat di Kulon Progo. Beberapa sudah diamankan oleh pemerintah, namun sisanya dibiarkan saja sehingga tak jelas nasibnya kini.
Berikut ulasan selengkapnya:
Penemuan di Situs Tirto
Pagi itu, Selasa, 3 Juli 2018, Danang Indra Prayudha, seorang arkeolog dari Cagar Budaya, tengah sibuk mengidentifikasi beberapa temuan lingga yang berada di Situs Tirto. Situs tersebut merupakan salah satu lokasi ditemukannya beberapa peninggalan kuno di Kulon Progo. Selain lingga, di sana juga ditemukan batu lumping, antan, arca, batu jambangan, dan tempat peripih.
Situs Tirto berada di tengah pekarangan warga yang banyak ditanami pohon nira. Di sana pula ditemukan salah satu nisan bertuliskan aksara Jawa kuno yang sudah aus. Aksara Jawa itu bertuliskan “Wagiswara” yang kalau diterjemahkan artinya perwujudan Dewa Siwa. Namun sampai sekarang belum ada keterangan lebih lanjut mengenai penemuan tersebut.
Dikeramatkan Masyarakat
Penemuan benda purbakala lainnya berada di Dusun Sambiroto, Desa Banyuroto, Kecamatan Nanggulan. Di sana terdapat sebuah situs bernama Candi Sambiroto. Namun sesungguhnya tak ada bangunan candi di sana. Yang tersisa hanyalah reruntuhannya saja.
Mengutip buku “Keistimewaan Yogyakarta dalam Perspektif Arkeologi”, bangunan candi di situs Candi Sambiroto terbuat dari batu bata dengan ukuran lebih besar dari batu bata yang beredar di pasaran saat ini. Reruntuhan Candi Sambiroto belum bisa dipastikan apa unsur keagamaannya karena tidak ada artefak-artefak lain yang ditemukan di situs itu.
Hingga kini, masyarakat setempat mengeramatkan tempat itu. Tak jauh dari reruntuhan itu terdapat sebuah batu berlubang yang terbuat dari batu putih. Bentuk batu itu kurang jelas apakah sebuah yoni atau sebuah umpak bangunan.
Ajaran Seksologi Jawa
Mengutip buku “Keistimewaan Yogyakarta dalam Perspektif Arkeologi”, sebagian besar peninggalan prasasti dan candi yang ditemukan di Kulon Progo bercorak ajaran seksologi Jawa. Baik disengaja atau tidak, pundak candi, candi, dan prasasti di kawasan Yogyakarta bagian barat itu banyak yang bercorak seksualitas budaya.
Menurut antropolog Suwardi Edraswara, dalam perspektif etnobotani kawasan Menoreh memiliki banyak tumbuhan yang khas dan sejuk. Itulah sebabnya, menurut Endraswara, bukan hal aneh bila di wilayah itu banyak muncul peninggalan etnoarkeologi seksualitas budaya Keyogyakartaan.