Lika-Liku Penjual Jamu Tradisional di Kudus Tetap Bertahan di Era Modern, Dapat Apresiasi dari BRI
Cerita ini membuktikan jika pelaku usaha tradisional seperti jamu herbal tetap bisa bertahan dan tumbuh di tengah gempuran era modern dan digitalisasi.
Jamu tradisional merupakan minuman herbal khas Indonesia yang diracik dari bahan-bahan alami. Minuman yang terbuat dari rimpang dan rempah-rempah ini diperkirakan sudah ada sejak 1300 M.
Dalam laman jalurrempah.kemdikbud.go.id disebutkan bahwa tradisi minum jamu sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram. Hal ini dibuktikan dalam relief-relief yang terdapat di Candi Borobudur dan Prambanan.
Tradisi minum jamu sejak berabad-abad lalu pun terus berlangsung hingga masa kolonial. Namun seiring berkembangnya zaman, tradisi tersebut mengalami pasang surut terlebih saat ilmu modern masuk ke Indonesia.
Kendati demikian, tradisi minum jamu yang dibuat secara tradisional dengan resep turun temurun tetap dilestarikan hingga kini. Salah satu pedagang jamu tradisional yang masih eksis hingga sekarang adalah Gema Nur Hidayat.
Mulai Bisnis Jamu Sejak 20 Tahun Lalu
Ia adalah pemilik usaha Jamu Tradisional Herbal Kaliwungu yang dulunya dirintis sang ibu sejak 2005 lalu. "Ibu mulai produksi jamu saat pertama kali merantau ke Kudus sekitar 20 tahun lalu." ungkap Gema saat ditemui di kedai jamu miliknya.
Meski usaha jamu sudah dimulai puluhan tahun lalu, Gema mengaku baru membuka warung Jamu Tradisional Herbal Kaliwungu pada 2014. Ia membuka warung pertamanya di Jalan Jetak, Desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu, Kudus hingga saat ini ditempati.
Kemudian melihat peminat jamu tradisional yang cukup tinggi membuat Gema ingin mengembangkan usaha dengan membuka cabang warung jamu di daerah Menara Kudus. Namun karena keterbatasan tenaga, cabang kedua harus Ia tutup.
"Buka di sini itu kok ramai, pembeli jamu juga banyak terus akhirnya buka cabang di Menara tapi gak lama tak tutup karena gak ada tenaganya." ungkap Gema menjelaskan kondisinya saat itu.
Lika-liku Usaha Jamu Tradisional
Saat berbisnis jamu tradisional tentu banyak lika-liku yang dihadapi Gema. Tantangnya pun semakin beragam ketika membuka warung Jamu Tradisional Herbal Kaliwungu.
Arus modernisasi yang kini serba digital membuat Gema harus segera beradaptasi. Salah satu upaya yang dilakukan agar usaha warung jamu miliknya tetap bertahan di tengah era modern adalah dengan menerima metode pembayaran digital seperti Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS.
Meski telah 11 tahun membuka warung, Ia mengaku baru melakukan digitalisasi pembayaran pada Maret 2025 lalu. "Saat itu dapat tawaran (QRIS) dari BRI Kaliwungu, yaudah saya terima apalagi sekarang zamannya serba digital, banyak pelanggang yang pilih bayar pakai QRIS" jelas Gema.
Penggunaan QRIS BRI di warungnya juga membawa dampak positif. Proses pembayaran jadi lebih cepat dan meminimalisir risiko salah hitung sehingga salah memberi kembalian.
Jumlah pelanggan Jamu Tradisional Herbal Kaliwungu yang memilih membayar menggunakan QRIS pun cukup banyak. Mengingat saat ini banyak orang yang hanya membawa ponsel pintar saat keluar rumah.
"Sekarang kan banyak orang keluar cuma bawa HP doang, bahkan ada yang gak bawa dompet. Pembayaran QRIS ini bisa jadi solusi pas minum jamu di sini." papar Gema.
Gema berharap, sistem pembayar QRIS BRI yang telah Ia siapkan dapat dapat mempermudah pelanggan. Selain itu warung jamu tradisional miliknya juga semakin berkembang dan dapat bertahan di era modern yang kini serba digital.
QRIS BRI memang menjadi solusi pembayaran digital dari BRI yang memberikan kemudahan dan fleksibilitas bagi para merchant dalam menerima pembayaran. Selain itu juga mempermudah para pembeli karena cukup melakukan scan QR.
Pembayarana dapat dilakukan dengan menggunakan aplikasi pembayaran yang terdaftar, seperti mobile banking atau aplikasi e-money yang telah terinstal di ponsel pintar. Sistem standarisasi pada QRIS juga mengurangi risiko kesalahan transaksi.
Mendapat Apresiasi dari BRI Kaliwungu
Upaya Gema memanfaatkan teknologi digital untuk mempermudah transaksi di warung jamu miliknya mendapat apresiasi dari BRI. "Kami sangat mengapresiasi usaha Jamu Tradisional Herbal Kaliwungu yang telah beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital." ungkap Kepala BRI Unit Kaliwungu Kudus, Arif Gunawan kepada para wartawan.
Lebih lanjut Arif menyebutkan berbagai keuntungan dan kemudahan saat menggunakan QRIS BRI baik untuk pembeli maupun pedagang. Menurut penjelasannya, penggunaan QRIS BRI tidak hanya memberikan kemudahan bagi pelanggan dalam bertransaksi, tetapi juga membantu pelaku UMKM dalam mengelola keuangan mereka dengan lebih efisien.
Digitalisasi yang dilakukan para UMKM juga akan berkontribusi pada pertumbuhan daerah. “Dengan semakin banyaknya UMKM yang beralih ke transaksi digital, diharapkan roda perekonomian daerah semakin bergerak maju." paparnya.
Selain itu, sebagai lembaga perbankan, BRI berkomitmen untuk mendukung para pelaku UMKM dan siap memberikan solusi finansial terbaik untuk mengembangkan usaha. "Kami (BRI) siap mendukung mereka (pelaku UMKM) melalui program pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk membantu pengembangan usaha." pungkas Arif.
Bentuk dukungan itu juga dirasakan manfaatnya oleh Gema dan keluarga. Sang ibu yang lebih dulu memulai usaha jamu tradisional ini mendapat pinjaman KUR BRI.
“Dulu ibu pernah dapat pinjaman dari BRI untuk mengembangkan usaha ini, sampai saat ini masih proses pelunasan. Semoga segera selesai ya” harapan Gema kedepannya.
Cerita Gema membuktikan jika pelaku usaha tradisional seperti jamu herbal tetap bisa bertahan dan tumbuh di tengah gempuran era modern dan digitalisasi. Selama pelaku usaha mau belajar dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital seperti menerima pembayaran QRIS maka akan terbuka peluang baru agar lebih dikenal lebih luas lagi.