Penyebab Cuaca Jabodetabek Terik pada Siang Hari, Sore hingga Malam Hujan Deras
Kondisi ini sudah terjadi lebih kurang dua pekan terakhir.
Cuaca di wilayah Jabodetabek akhir-akhir ini tak menentu. Siang hari matahari terasa sangat terik dengan kisaran suhu 31-32 derajat celcius. Bahkan sinar matahari tampak sudah 'merona' sejak pagi hari.
Sementara jelang sore awan mendadak gelap. Beberapa saat, kemudian turun hujan deras disertai angin. Tak jarang hujan mengguyur sampai malam hari meski volume airnya tak banyak di sore.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) penyebab kondisi yang terjadi dampak dari cuaca ekstrem. Fenomena ini tidak hanya terjadi di satu wilayah, tetap beberapa daerah lainnya di Indonesia.
BMKG menjelaskan ada beberapa faktor yang menyebabkan kondisi perebahan cuaca di beberapa wilayah Indonesia.
Antara lain, peralihan musim atau pancaroba. Lalu, minimnya pertumbuhan awan di siang hari. Selain itu, posisi matahari yang semakin dekat dengan wilayah Indonesia, pengaruh El Nino, juga dampak jangka panjang pemanasan global.
Kondisi-kondisi di atas menyebabkan atmosfer labil. Akbatnya, memicu pembentukan awan Cumulonimbus yang menghasilkan hujan lebat, petir, angin kencang, bahkan hujan es. Sementara itu, minimnya awan di siang hari menyebabkan radiasi matahari langsung ke permukaan bumi, sehingga suhu udara terasa sangat panas.
Bukan Fenomena Gelombang Pans
BMKG menegaskan bahwa fenomena ini bukan gelombang panas (heatwave). Meskipun beberapa negara lain di Asia sedang mengalami gelombang panas ini.
Meskipun demikian, masyarakat tetap diimbau untuk waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan dampaknya. Seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang.
Suhu udara maksimum yang mencapai 32 derajat Celcius dan pola hujan yang cenderung terjadi di sore hari dengan disertai petir merupakan indikator kuat akan datangnya cuaca ekstrem.
Prediksi Musim Kemarau
Prediksi musim kemarau dimulai pada bulan April hingga Juni. Namun ada juga beberapa wilayah yang masih mengalami hujan deras di bulan Mei. Hal ini disebabkan karena bulan Mei masih merupakan masa peralihan musim (pancaroba), ditandai dengan cuaca panas pada pagi dan siang hari serta potensi hujan di sore atau malam hari.
Dinamika atmosfer yang kompleks, seperti munculnya bibit siklon tropis, juga berkontribusi terhadap tingginya curah hujan di beberapa wilayah.
BMKG menekankan pentingnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem. Pemantauan informasi cuaca terkini dari BMKG sangat penting untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi.