Menteri Haji Takziah ke Maros, Wujud Tanggung Jawab Pemerintah untuk Jamaah Wafat di Tanah Suci

Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf takziah ke Maros, Sulawesi Selatan, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga jamaah haji yang wafat di Tanah Suci, sekaligus menyoroti peningkatan kewaspadaan di tengah cuaca ekstrem.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Menteri Haji Takziah ke Maros, Wujud Tanggung Jawab Pemerintah untuk Jamaah Wafat di Tanah Suci
Menteri Haji dan Umrah RI Mochamad Irfan Yusuf takziah ke Maros, Sulawesi Selatan, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga jamaah haji yang wafat di Tanah Suci, sekaligus menyoroti peningkatan kewaspadaan di tengah cuaca ekstrem. (AntaraNews)

Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf, mengunjungi keluarga almarhum Sangkala, seorang jamaah haji asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, yang meninggal dunia saat menunaikan ibadah haji di Arab Saudi. Kunjungan ini berlangsung di rumah duka di Desa Bori Kamase, Kecamatan Maros Baru, Maros, pada Minggu (14/6).

Dalam kesempatan tersebut, Gus Irfan menyampaikan belasungkawa mendalam serta memberikan dukungan moral kepada keluarga yang ditinggalkan. Kehadiran pemerintah ini menjadi bentuk penghormatan dan tanggung jawab moral negara kepada para "tamu Allah" yang wafat saat menjalankan ibadah haji, ujarnya.

Almarhum Sangkala merupakan jamaah haji kelompok terbang (Kloter) 20 yang wafat pada Sabtu (6/6) pukul 14.24 waktu Arab Saudi. Kunjungan takziah ini menegaskan komitmen pemerintah dalam mendampingi keluarga jamaah yang berpulang ke Rahmatullah.

Tanggung Jawab Moral Pemerintah dalam Penyelenggaraan Haji

Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf, atau yang akrab disapa Gus Irfan, menegaskan bahwa kehadiran pemerintah di tengah keluarga jamaah yang meninggal dunia adalah wujud penghormatan. Ini juga merupakan bentuk tanggung jawab moral negara kepada para "tamu Allah" yang wafat saat menjalankan ibadah haji, ujarnya. Pernyataan ini disampaikan saat takziah di Maros.

Gus Irfan didampingi oleh Bupati Maros Chaidir Syam, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Sulawesi Selatan Ikbal Ismail, serta Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Maros Ahmad Ihyadin. Beliau juga menginstruksikan seluruh kepala kantor haji di Indonesia untuk menyampaikan takziah kepada keluarga jemaah yang meninggal di Tanah Suci. Langkah ini memastikan bahwa setiap keluarga jamaah yang berduka mendapatkan perhatian dari pemerintah.

Komitmen ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada keberangkatan dan pelaksanaan ibadah haji, tetapi juga pada pendampingan pasca-kejadian. Hal ini penting untuk memberikan ketenangan dan dukungan psikologis bagi keluarga yang ditinggalkan. Pelayanan prima diharapkan terus berlanjut hingga seluruh rangkaian ibadah haji selesai.

Peningkatan Kewaspadaan di Tengah Cuaca Ekstrem

Dalam kunjungannya, Gus Irfan juga menyampaikan perkembangan penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026, khususnya terkait angka kematian jamaah. Berdasarkan laporan terakhir yang diterimanya, jumlah jemaah haji Indonesia yang meninggal dunia di Arab Saudi mencapai sekitar 290 orang. Meski jumlah tersebut masih lebih rendah dibandingkan musim haji tahun lalu, pihaknya tetap meningkatkan kewaspadaan karena tren kematian dalam beberapa hari terakhir menunjukkan peningkatan, ujarnya.

Pemerintah terus memantau kondisi kesehatan jemaah yang masih berada di Arab Saudi. Seluruh petugas kesehatan dan petugas haji telah diminta memperketat pengawasan, terutama di tengah cuaca panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah. Suhu udara yang mencapai sekitar 45 derajat Celsius dinilai berpotensi memicu gangguan kesehatan, khususnya bagi jemaah lanjut usia maupun mereka yang memiliki penyakit penyerta.

“Jamaah harus terus dipantau dan dijaga kesehatannya karena suhu di Arab Saudi sangat panas,” katanya. Pemantauan ketat ini diharapkan dapat meminimalisir risiko kesehatan bagi jamaah, terutama mereka yang memiliki penyakit penyerta atau kondisi fisik yang rentan.

Kondisi Almarhum dan Proses Pemulangan Jamaah

Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Maros Ahmad Ihyadin mengungkapkan bahwa almarhum Sangkala memiliki riwayat gangguan paru-paru sebelum berangkat ke Tanah Suci. Kondisi kesehatan almarhum disebut telah menjadi perhatian sejak dalam perjalanan menuju Arab Saudi. Ini menunjukkan pentingnya pemeriksaan kesehatan menyeluruh sebelum keberangkatan.

Dua hari sebelum meninggal dunia, kesehatan almarhum sempat menurun dan mengalami penurunan nafsu makan. “Dua hari terakhir sebelum meninggal, beliau mengeluhkan berkurangnya nafsu makan,” ujar Ihyadin. Meski demikian, almarhum tetap mendapat dukungan dan semangat dari rombongan karena dijadwalkan kembali ke Maros pada 15 Juni 2026.

Sementara itu, proses pemulangan jemaah haji Indonesia ke Tanah Air terus berjalan. Hingga saat ini, hampir separuh jemaah haji Indonesia telah kembali ke Indonesia, sedangkan sisanya akan dipulangkan secara bertahap sesuai jadwal. Pemerintah berkomitmen untuk memastikan kelancaran dan keamanan seluruh proses kepulangan jamaah.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi