Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi potensi hujan sedang hingga lebat akan terus melanda wilayah Jabodetabek selama seminggu ke depan. Kondisi ini meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir dan genangan di berbagai titik ibu kota.
Prakirawan BMKG, Jatmiko, menyatakan bahwa penguatan Monsun Asia dan seruakan dingin dari daratan Asia menjadi pemicu utama peningkatan konvergensi angin di atas Jawa. Dinamika atmosfer ini berkontribusi pada pembentukan awan hujan yang lebih intens dan meluas.
Menyikapi prediksi cuaca ekstrem ini, Pemerintah Provinsi Jakarta telah mengimbau perusahaan untuk menerapkan kebijakan kerja fleksibel atau bekerja dari rumah (WFH). Kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi dampak banjir yang meluas dan menjaga keselamatan warga.
Advertisement
Advertisement
BMKG secara resmi mengumumkan bahwa potensi hujan sedang hingga lebat akan berlanjut di sebagian besar wilayah Jabodetabek selama satu minggu ke depan. Penguatan Monsun Asia dan seruakan dingin dari daratan Asia menjadi faktor dominan yang mempengaruhi kondisi cuaca ini. Peningkatan konvergensi angin di atas Jawa turut memperkuat intensitas hujan yang terjadi.
Tim meteorologi BMKG mengonfirmasi bahwa dinamika atmosfer tersebut memicu pertumbuhan awan hujan yang lebih intens dan meluas. Wilayah Jabodetabek telah mengalami curah hujan berkepanjangan dalam beberapa hari terakhir, menunjukkan pola cuaca yang tidak biasa.
Selain Jabodetabek, potensi cuaca ekstrem juga diperkirakan terjadi di sebagian wilayah selatan Indonesia. Area yang perlu diwaspadai meliputi Sumatera bagian selatan, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Masyarakat di wilayah-wilayah ini diminta untuk meningkatkan kewaspadaan.
Advertisement
Advertisement
Hasil pemantauan BMKG menunjukkan bahwa Jabodetabek telah mengalami curah hujan ringan hingga ekstrem selama sepuluh hari terakhir. Volume curah hujan tertinggi tercatat pada 18 Januari 2026, mencapai 267 milimeter per hari, sebuah angka yang signifikan.
Pada hari Jumat, 23 Januari 2026, hingga pukul 15.00 waktu setempat, curah hujan telah mencapai 189 milimeter. Angka ini menunjukkan bahwa intensitas hujan masih sangat tinggi dan berpotensi menyebabkan genangan serta banjir di berbagai area.
BMKG mendesak masyarakat untuk tetap waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi dampak hujan. Dampak yang mungkin terjadi termasuk genangan, banjir, dan gangguan aktivitas sehari-hari, terutama di daerah-daerah yang rentan terhadap bencana hidrometeorologi. Kesiapan dini sangat penting untuk meminimalkan risiko.
Advertisement
Advertisement
Menanggapi potensi cuaca ekstrem dan dampaknya, Pemerintah Provinsi Jakarta telah mengambil langkah proaktif. Melalui Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi Provinsi Jakarta, imbauan dikeluarkan kepada perusahaan-perusahaan di ibu kota. Imbauan ini mendorong penerapan kebijakan kerja fleksibel atau bekerja dari rumah (WFH).
Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Nomor e-0001/SE/2026. Surat edaran ini diterbitkan pada 22 Januari 2026, dan secara spesifik mengatur tentang penerapan sistem kerja fleksibel dan WFH akibat cuaca ekstrem. Tujuannya adalah untuk mengurangi kepadatan lalu lintas dan meminimalisir risiko bagi pekerja.
Perusahaan-perusahaan di Jakarta diminta untuk melaporkan penyesuaian sistem kerja mereka kepada Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi Provinsi Jakarta. Pelaporan dapat dilakukan melalui tautan https://bit.ly/HimbauanKerjaFleksibel. Langkah ini diharapkan dapat membantu pemerintah dalam memantau dan mengkoordinasikan upaya mitigasi dampak cuaca buruk.
Advertisement
Sumber: AntaraNews