Cara Gubernur Pramono Anung Benahi Sumber Daya Manusia di Jakarta
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengatakan sejak awal pemerintahannya fokus utama yang menjadi pembenahan adalah sumber daya manusia.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung mengatakan sejak awal pemerintahannya fokus utama yang menjadi pembenahan adalah sumber daya manusia. Ia mengakui bahwa dalam setiap perubahan zaman dan teknologi, Indonesia selalu tertinggal dalam banyak hal, terutama sumber daya manusia.
“Maka untuk itu, di awal-awal pemerintahan, saya betul-betul konsentrasi melakukan pemenahan sumber daya manusia di Jakarta,” ujar dia saat membuka acara Road to Congress of Indonesia Diaspora 8 di Balaikota DKI Jakarta, Kamis (10/7).
Bentuk konkretnya, lanjut Pramono, adalah membagi Kartu Jakarta Pintar (KJP) ke seluruh siswa DKI Jakarta. Besarannya bisa mencapai Rp300 hingga Rp400 ribu per bulan. Jumlah tersebut dibagikan ke 707.622 siswa.
“Kurang lebih total Rp1,6 triliun. Kenapa itu diberikan? Inilah yang saya lakukan untuk memotong garis ketidakberuntungan dari keluarga yang tidak mampu di Jakarta,” jelas dia.
Sebab tanpa itu, persoalan utama yakni disparitas di Jakarta sulit diatasi. Pasalnya, persoalan disparitas dari waktu ke waktu terus mengalami peningkatan. Sehingga itulah yang menjadi konsentrasi di awal pemerintahannya.
Kemudian soal ijazah siswa yang tertahan gara-gara tidak bisa membayar uang iuran. Hampir semuanya terjadi di sekolah swasta. Pemerintah DKI Jakarta hadir untuk mengatasi persoalan itu.
“Jakarta ini masih banyak ijazah yang tertahan. Kurang lebih 6.652 ijazah. Maka itulah yang kemudian saya putihkan. Karena saya merasa bahwa semua yang sudah lulus berhak untuk mendapatkan ijazah,” kata Pram.
Lalu, program berikutnya adalah memperbaiki SDM di Jakarta dengan Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU). KJMU ini memberikan kesempatan bagi warga untuk melanjutkan jenjang Pendidikan yang lebih tinggi.
“Yang dulunya hanya sampai dengan S1, sekarang kami memberikan kesempatan sampai dengan S2 dan S3,” ungkap Pram.
“Karena dengan demikian saya meyakini kalau ada anak dari keluarga yang tidak beruntung bisa sampai dengan S3, maka anak ini bisa memperbaiki garis ketidakberuntungan dalam keluarga tersebut,” tambahnya.