Apa Itu Pareidolia? Saat Melihat Wajah pada Benda Mati
Pareidolia dapat menyebabkan seseorang mengenali bentuk atau pola tertentu, seperti wajah, pada benda mati.
Apakah Anda pernah melihat wajah di makanan atau di sebuah bangunan? Jika iya, maka Anda sedang mengalami pareidolia.
Apa Itu Pareidolia? Saat Melihat Wajah pada Benda Mati
Pareidolia adalah sebuah fenomena psikologis yang melibatkan stimulus samar-samar dan acak, sering kali dalam bentuk sebuah gambar atau suara. Pareidolia dapat menyebabkan seseorang mengenali bentuk atau pola tertentu, biasanya wajah, padahal yang dilihat sebenarnya adalah benda mati.Kata ini berasal dari bahasa Yunani para-- “samping”, “dengan”, atau “bersama”-- dan eidolon-- “gambar” atau "bentuk".
Penyebab pareidolia belum diketahui secara pasti, tetapi studi menunjukkan bahwa kondisi ini berkaitan dengan cara kerja otak dalam memproses dan mengartikan rangsangan visual. Otak manusia memiliki area yang bertanggung jawab terhadap pengenalan dan persepsi akan wajah, yaitu bagian depan (frontal) dan samping (temporal).
Pada beberapa orang, otak mereka memiliki kecenderungan untuk langsung memproses suatu benda mati menjadi bagian-bagian wajah tertentu. Pareidolia tidak selalu berbahaya, karena kondisi ini normal terjadi dan dapat dialami oleh siapa saja.
Namun, dalam beberapa kasus, pareidolia bisa menjadi tanda penyakit tertentu, terutama yang berhubungan dengan sistem saraf pusat, seperti Lewy body dementia atau penyakit Parkinson.
Mengapa pareidolia bisa terjadi?
Ada sejumlah teori tentang penyebab fenomena ini. Para ahli mengatakan pareidolia memberikan determinasi psikologis untuk banyak delusi yang melibatkan indera.
Carl Sagan, ahli kosmologi dan penulis Amerika, menyatakan bahwa pareidolia adalah alat bertahan hidup. Dalam bukunya tahun 1995, "The Demon-Haunted World – Science as a Candle in the Dark," dia berpendapat bahwa kemampuan untuk mengenali wajah dari jarak jauh atau dalam jarak pandang yang buruk adalah teknik bertahan hidup yang penting.
Meski naluri ini memungkinkan manusia untuk langsung menilai apakah orang yang datang adalah teman atau musuh, Sagan mencatat bahwa hal itu dapat menyebabkan salah tafsir gambar acak atau pola cahaya dan bayangan sebagai wajah.
"Jika Anda melihat dinding mana pun dengan bintik-bintik noda atau dengan campuran berbagai jenis batu, jika Anda hendak menciptakan suatu pemandangan, Anda dapat melihat di dalamnya kemiripan dengan berbagai lanskap berbeda yang dihiasi dengan pegunungan, sungai, bebatuan, pohon, dataran, lembah yang luas, dan berbagai kelompok bukit,"
Leonardo da Vinci, di salah satu buku catatannya
Pareidolia dalam Seni
Terkadang seniman memanfaatkan fenomena ini dengan menyematkan gambar tersembunyi dalam karya mereka. Pengamat sering melihat objek lain dalam lukisan bunga Georgia O'Keeffe, misalnya.
Pada tahun 1971, penulis dan intelektual Latvia Konstantīns Raudive merinci apa yang dia yakini sebagai penemuan fenomena suara elektronik (EVP). EVP digambarkan sebagai "pareidolia pendengaran." Adanya pesan tersembunyi dalam musik populer juga digambarkan sebagai pareidolia pendengaran.
Pareidolia dalam psikologi
Beberapa psikolog mengandalkan pareidolia dalam pemeriksaan psikologis. Terkadang, psikolog akan menggunakan tes bercak tinta Rorschach untuk menafsirkan emosi tersembunyi seseorang.
Tes tersebut mencakup gambar yang dibuat dengan menjatuhkan tinta di atas kertas, dan melipat kertas menjadi dua. Psikolog kemudian meminta pasiennya untuk menginterpretasikan gambar yang dihasilkan. Secara teori, pasien memproyeksikan pikiran terdalam mereka ke gambar acak. Namun, metode terapi ini banyak diperdebatkan oleh para psikolog, karena tidak memiliki landasan fakta.