Ini Menu Kuliner Malam di Kota Bandung Zaman Kolonial Belanda
Ternyata sudah sejak zaman Belanda, Bandung dikenal sebagai surganya kuliner.
Penulis: Arsya Muhammad
Kota Bandung terkenal dengan kelezatan kulinernya. Ternyata sudah sejak zaman Belanda, Bandung dikenal sebagai surganya kuliner.
Di tahun 1920-1930an, Bandung adalah kota di Hindia Belanda yang memiliki jumlah rumah makan terbanyak.
Meningkatnya perjalanan kereta api juga menambah semarak kota ini. Daerah sekitar Alun-Alun dan Stasiun Bandung hidup 24 jam, lengkap dengan aneka kulinernya.
“Pasar Baru yang terletak di pusat kota, tidak jauh dari Stasion, di zaman baheula (dulu), jadi pangkalan ‘manusia kalong’ yang suka begadang malam. Segala jenis makanan mentah dan matang, ada di situ,”
tulis Haryoto Kunto dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe.
Pasar Baru saat itu rapi dan bersih. Tidak ada pedagang yang berani jualan bukan di tempatnya atau orang yang membuang sampah sembarangan. Pasar ini pun buka 24 jam. Tempat yang nyaman untuk menghabiskan malam sambil kulineran.
“Ini berkat Tuan Van Broks yang galak. Belanda totok itu adalah kepala Pasar Baru yang sangat dipatuhi oleh para pedagang,” beber Haryoto.
Saking bersihnya, Pasar Baru Bandung pernah menjadi contoh bagi pengelolaan pasar-pasar induk lainnya se-pulau Jawa di zaman Belanda.
Menu Kuliner
Bagi para pecinta kuliner, Pasar Baru saat itu adalah surga. Aneka makanan lezat tersedia. Harganya pun terjangkau oleh kalangan pribumi.
Porsinya melimpah, cukup untuk mengganjal perut di tengah dinginnya udara Kota Bandung saat itu.
Pertama ada soto dengan kerupuk Cikoneng, yang besar dan tebal menggugah selera. Harganya hanya dua sen semangkok.
Sate 10 tusuk saat itu harganya delapan sen. Uniknya kalau lagi sepi masih bisa ditawar sampai 3 benggol saja. 1 Benggol adalah uang koin senilai 2,5 sen di era Hindia Belanda.
“Sedangkan nasi harganya hanya 5 sen sepiring sudah tumpah ruah kuahnya,” tulis Haryoto.
Di Pasar Baru, beli nasi sepiring sudah gratis dibanjur pakai gulai tempe cabai yang rasa serehnya sangat terasa. Gurih, dan sedikit pedas. Ada juga sayur kentang dengan irisan tahu dan petai yang sedap.
Macam-macam sayur ditampung dalam baskom besar, diciduk dengan ciduk kaleng gagang bambu.
Lauk pauknya pun banyak tersedia. Tinggal ambil dan bayar setelah makan. Ada telur asin, goreng ikan emas, goreng belut, dendeng, telor mata sapi dengan bumbu bali, tahu tempe.
“Ada juga semur jengkol bagi yang suka,” kata Haryoto.
Di ujung batang pikulan tukang nasi pun bergelantungan daun lalapan dan pete bakar atau direbus yang harganya satu benggol satu papan.
Sementara untuk kalangan Eropa, tentu Jalan Braga jadi pilihan. Salah satunya ada Maison Bogorijen, Restoran yang jadi langganan
Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Aneka makanan dan minuman Eropa tersedia, lengkap dengan minuman keras.
Apa saja menunya? Lengkap. Ada kalkun panggang, ayam, bebek. Ikan, dan aneka daging.
Tersedia juga aneka roti manis dan kue yang menggugah selera seperti poffertjes, risoles yang gurih dan aneka pasta.
Di sinilah orang-orang Eropa berpesta jika merayakan sesuatu. Atau ada kawan dan kerabat yang hendak berpisah. Mereka bisa berpesta semalam suntuk.