Cerita Heroik Pasukan KKO Selamatkan Sukarno di Wisma Yaso
Rencana mereka adalah membawa Soekarno ke markas KKO di Surabaya.
Korps Komando Angkatan Laut (KKO) adalah salah satu pasukan unggulan dalam jajaran TNI. Pasukan yang identik dengan baret ungu ini dikenal memiliki loyalitas tinggi terhadap Presiden Soekarno.
Ketika Jenderal Soeharto menempatkan Soekarno dalam tahanan di Wisma Yasoo, KKO mengerahkan satu regu pasukan elit mereka untuk berupaya membebaskan sang proklamator.
Rencana mereka adalah membawa Soekarno ke markas KKO di Surabaya.
Korps Komando Angkatan Laut (KKO) awalnya diperbesar untuk mendukung Operasi Pembebasan Irian Barat (Trikora) dan dilanjutkan dalam rangka Konfrontasi Malaysia (Dwikora).
Sebagai pasukan elit yang memiliki hubungan dekat dengan Presiden Sukarno, KKO mendapatkan perhatian khusus dalam pengembangannya. Selama persiapan Trikora, pendanaan KKO sebagian besar berasal dari kredit Uni Soviet.
Menurut sejarawan Hermawan Sulistyo dalam bukunya Palu Arit di Ladang Tebu: Sejarah Pembantaian Massal yang Terlupakan (1965–1966), Uni Soviet menjadi penyokong senjata terbesar kedua bagi KKO, setelah Angkatan Udara.
Loyalitas Hartono
Dominasi ini memicu persaingan antar angkatan, terutama antara Angkatan Laut dan Angkatan Darat, yang sering kali kurang akur bahkan bersaing tajam.
Di tengah perubahan politik pasca-Peristiwa G30S, ketika sebagian besar perwira TNI mulai menjauhi Sukarno, KKO tetap setia kepada Presiden Sukarno.
Siapa di antara pasukan KKO yang paling setia kepada Sukarno? Ia adalah Hartono. Letnan Jenderal KKO Hartono merupakan komando pasukan khusus di Korps Komando (KKO) Angkatan Laut.
Loyalitasnya tergambar dari ucapannya pada November 1965, "Putih kata Bung Karno, putih kata KKO. Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO".
Hartono terus mendukung Sukarno sebagai pemimpin tertinggi yang sah, bahkan ketika kekuasaan Sukarno mulai melemah.
Ketika Sukarno kehilangan kekuasaan dan menjadi tahanan rumah, Hartono bersama pasukan KKO mencoba menyelamatkan sang proklamator dengan rencana membawa Sukarno ke Surabaya.
Dijaga Ketat Pasukan Soeharto
KKO mengirimkan pasukan elitnya untuk mencoba menyusup ke Wisma Yaso dan membawa Sukarno keluar dari rumah tahanan tersebut.
“Ketika Bung Karno ada di Wisma Yaso dijaga ketat oleh pasukannya Soeharto, ada satu regu pasukan KKO, pasukan KIPAM, yang berhasil menyusup ke dalam dan mengajak Bung Karno untuk keluar dan menempati basis mereka di Surabaya,” ungkap Hendi Jo, seorang sejarawan, dikutip dari kanal YouTube MerdekaDotCom.
Namun, Sukarno memilih untuk tetap berada di Wisma Yaso karena ia tidak ingin ada pertumpahan darah terjadi antara KKO dan TNI AD. Kemudian, kekuasaan Sukarno semakin tergerus dan Soeharto naik ke tampuk kekuasaan.
Naiknya Soeharto maka melemahkan pengaruh KKO dan Hartono, karena mereka dianggap sebagai ‘orang Sukarno’.
Reporter Magang: Yulisha Kirani Rizkya Pangestuti