Ole Romeny Jelang Duel Timnas Indonesia vs China, Cerita Gol, Nasi Goreng, dan Persahabatan dengan Marselino
Ole Romeny berbagi kisah tentang gol penting di SUGBK, kedekatan dengan Marselino, dan kecintaannya pada nasi goreng.
Menjelang laga penting antara Timnas Indonesia melawan China pada 5 Juni 2025 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, nama Ole Romeny kembali jadi sorotan. Penyerang keturunan Indonesia-Belanda ini tidak hanya dikenal karena gol kemenangannya atas Bahrain, tetapi juga karena kisah hangat di balik lapangan.
Mulai dari persahabatannya dengan Marselino Ferdinan di klub Oxford United, kecintaannya pada kuliner Indonesia, hingga dukungan dari sang kekasih, Romeny menunjukkan bahwa cintanya pada Indonesia bukan hanya soal seragam dan stadion, tapi juga soal rasa, kedekatan, dan tekad membela Merah Putih.
Artikel ini akan mengulas sisi lain dari Ole Romeny yang membuatnya begitu cepat dicintai publik Indonesia.
Persahabatan Sejati: Ole dan Marselino
Kehadiran Ole Romeny di klub Oxford United di Inggris tidak hanya membawa babak baru dalam kariernya, tetapi juga mempertemukannya dengan Marselino Ferdinan, salah satu pemain muda paling bersinar di skuad Garuda. Marselino sudah lebih dulu bergabung dengan Oxford sejak Agustus 2024, setelah sebelumnya bermain di KMSK Deinze, Belgia. Sementara Romeny datang dari FC Utrecht pada Januari 2025.
Dalam podcast “The Haye Way” yang dibawakan oleh Thom Haye, Romeny mengungkap bahwa sejak hari pertama dirinya merasa langsung cocok dengan Marselino.
“Sejak hari pertama masuk ruang ganti di Oxford, dia sangat bahagia. Aku langsung merasa dia seperti adikku sendiri,” ujar Romeny.
Kedekatan mereka bukan sekadar hubungan profesional di klub. Romeny bahkan mengenang betapa Marselino sangat membantunya saat awal bergabung. Kala itu, Romeny belum memiliki kendaraan pribadi, dan Marselino rela menunggu berjam-jam hanya untuk mengantarnya pulang usai latihan atau pertandingan. Ini adalah bentuk solidaritas dan kehangatan yang jarang ditemukan, terutama di kompetisi sepak bola profesional yang kompetitif.
Kebersamaan mereka juga terjalin dalam aktivitas sehari-hari di luar lapangan. Mereka kerap menghabiskan waktu bersama untuk berburu makanan Indonesia di kota Oxford, berbagi cerita, dan saling memberi dukungan emosional di tengah tekanan sebagai pemain asing di liga Eropa. Persahabatan ini menjadi fondasi kuat bagi chemistry mereka di lapangan, yang tentunya berdampak positif saat memperkuat Timnas Indonesia.
Rindu Masakan Indonesia: Dari Abid hingga Nasi Goreng
Selain ikatan emosional dengan rekan satu tim, Romeny juga mulai terikat secara kultural dengan Indonesia, salah satunya lewat kuliner Nusantara. Makanan menjadi jembatan yang mempererat identitasnya sebagai bagian dari bangsa ini.
Meski tinggal di Inggris, Romeny tidak melewatkan kesempatan mencicipi cita rasa kampung halaman neneknya. Bersama Marselino, ia berencana mengunjungi restoran Indonesia di Oxford. Namun, sebelum sempat melakukannya, Marselino sudah lebih dulu berkenalan dengan masakan khas Indonesia berkat seorang teman bernama Abid, yang istrinya sering memasak makanan Indonesia di rumah.
Dari semua masakan yang pernah ia coba, Romeny punya satu favorit mutlak:
“Aku suka nasi goreng. Mungkin terdengar klise, tapi aku benar-benar menyukainya. Bumbunya, rasanya—mereka tahu apa yang mereka lakukan. Aku suka banget,” katanya penuh antusias.
Nasi goreng, salah satu ikon kuliner Indonesia, telah menjadi simbol ikatan emosional Romeny terhadap tanah leluhurnya. Ungkapan spontan dan penuh semangat tentang makanan ini menunjukkan bahwa cintanya pada Indonesia bukan sekadar formalitas administratif, melainkan tumbuh dari pengalaman sehari-hari yang autentik.
Jejak Karier dan Darah Indonesia dari Medan
Ole Romeny bukan pemain sembarangan. Sebelum membela Timnas Indonesia, ia meniti karier di Eropa dengan serius. Sebelum bergabung dengan Oxford United, ia bermain di FC Utrecht dan sempat mencatat penampilan impresif di Eredivisie. Keputusannya untuk berganti kewarganegaraan bukan karena kehabisan peluang di Eropa, tetapi karena keinginan untuk membela negara asal neneknya yang berasal dari Medan, Sumatera Utara.
Kebanggaan Romeny terhadap garis keturunannya terlihat jelas dalam wawancara dan tindak-tanduknya. Ia tidak hanya mencatat sejarah dengan mencetak gol kemenangan melawan Bahrain dalam Kualifikasi Piala Dunia, tapi juga memupuk hubungan yang hangat dengan para suporter dan rekan tim.
Dengan nomor punggung 10, Romeny tampil sebagai penyerang yang tidak hanya tajam secara teknik, tetapi juga tajam secara emosional—membangkitkan semangat, harapan, dan nasionalisme baru bagi jutaan pendukung Timnas Indonesia. Penampilannya pada laga-laga awal bersama skuad Merah Putih dianggap sebagai permulaan yang menjanjikan menuju cita-cita lolos ke Piala Dunia 2026.
Sosok Kekasih dan Dukungan di Tribun
Di balik sosok Romeny yang penuh semangat di lapangan, ada satu figur penting yang tampaknya turut menjadi sumber motivasinya—Katy Esistia, seorang aktris dan penyanyi yang belakangan ini dikabarkan menjalin hubungan asmara dengan Romeny. Hubungan ini makin mencuri perhatian publik ketika Katy terlihat hadir langsung di tribun SUGBK saat pertandingan Indonesia melawan Bahrain.
Tak hanya hadir, Katy bahkan mengenakan jersey Timnas Indonesia dengan nama “Romeny” dan nomor punggung 10, menunjukkan dukungan total terhadap kekasihnya. Gambar itu sempat viral di media sosial dan memperkuat citra Romeny sebagai pemain yang tidak hanya tampil profesional, tetapi juga punya kehidupan personal yang hangat dan mendukung.
Bagi banyak penggemar, hal ini menambah sisi humanis dari seorang Ole Romeny. Sosoknya tak lagi hanya dikenal karena perannya sebagai penyerang tajam, tetapi juga karena cerita hidupnya yang penuh warna dan kedekatannya dengan budaya serta orang-orang Indonesia.
Menatap Laga Lawan China dengan Harapan Tinggi
Laga melawan Timnas China pada 5 Juni 2025 akan menjadi ujian krusial bagi Timnas Indonesia dalam lanjutan Kualifikasi Piala Dunia. Di tengah persiapan yang intens, sosok Ole Romeny menjadi tumpuan harapan masyarakat. Golnya ke gawang Bahrain memberi bukti bahwa ia mampu tampil besar di momen penting.
Lebih dari sekadar pertandingan, laga ini menjadi simbol dari mimpi besar bangsa. Romeny, dengan semangat dan darah Indonesia yang mengalir dalam dirinya, menjadi wajah baru perjuangan Merah Putih di panggung dunia. Keberadaannya membawa energi segar, menyatukan semangat pemain diaspora dengan semangat lokal.
Dengan dukungan penuh dari rekan setim, keluarga, kekasih, dan masyarakat, Ole Romeny diharapkan mampu kembali menunjukkan performa terbaiknya. Laga ini bukan hanya soal tiga poin, tetapi soal identitas, mimpi kolektif, dan rasa bangga terhadap Indonesia.
Ole Romeny adalah bukti bahwa nasionalisme tidak mengenal batas geografis. Dari ruang ganti di Oxford, sepiring nasi goreng di Inggris, hingga stadion penuh semangat di Jakarta, kisahnya membentang dari Eropa hingga Nusantara. Ia bukan hanya pemain yang mencetak gol, tetapi juga simbol harapan baru bagi Timnas Indonesia—pemain yang bermain dengan hati, membela dengan cinta, dan mencintai budaya tempat ia berpijak.
Laga melawan China mungkin hanya satu dari sekian banyak pertandingan dalam perjalanan menuju Piala Dunia, tetapi dengan sosok seperti Romeny di lini depan, publik Indonesia punya alasan kuat untuk terus percaya dan bermimpi lebih besar.