Hari Buruh dan Hari Pendidikan yang Beriringan: Semangat Perjuangan Kakak Beradik RM Suryopranoto dan Ki Hajar Dewantara
Peringatan Hari Buruh dan Hari Pendidikan Nasional mengingatkan kita pada semangat juang RM Suryopranoto dan Ki Hadjar Dewantara, dua saudara kandung.
Setiap 1 Mei, Indonesia merayakan Hari Buruh untuk menghormati perjuangan pekerja dalam memperjuangkan hak-hak mereka, seperti upah yang adil dan kondisi kerja yang layak. Sehari setelahnya, 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional, yang bertepatan dengan kelahiran Ki Hadjar Dewantara, tokoh yang dianggap sebagai Bapak Pendidikan Indonesia. Menariknya, salah satu tokoh Indonesia yang erat kaitannya dengan hari buruh adalah RM Suryopranoto yang merupakan kakak dari RM Suwardi Suryaningrat atau Ki Hadjar Dewantara.
Raden Mas Suryopranoto dan Raden Mas Soewardi Soerjaningrat (kemudian dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara) adalah kakak-adik dari keluarga bangsawan Pakualaman di Yogyakarta. Meskipun lahir dalam kemewahan, keduanya memilih untuk berjuang demi rakyat jelata. Suryopranoto menjadi pelopor gerakan buruh, sementara Ki Hadjar Dewantara mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan. Perjuangan mereka saling melengkapi, memperkuat semangat nasionalisme menuju kemerdekaan.
RM Suryopranoto si Raja Mogok dan Perlawanan Buruh
Raden Mas Suryopranoto—juga dieja Soerjopranoto—lahir 11 Januari 1871 dan menempuh sekolah dasar di Europeesche Lagere School (ELS) sebelum melanjutkan ke Middelbare Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) di Yogyakarta. Dari situ ia memahami bahasa dan kerangka pikir Belanda, keterampilan yang kelak ia gunakan untuk mengorganisasi buruh serta berkomunikasi dengan pemerintah kolonial.
Meski berasal dari kalangan priyayi, hatinya tertaut pada nasib rakyat jelata. Berbekal pemahaman hukum kolonial, ia kerap mengadvokasi upah layak dan keselamatan kerja, meski nyawanya terancam masuk penjara berkali-kali.
Pada 1915, ia mendirikan Personeel Fabriek Bond (PFB), serikat buruh pertama di Hindia Belanda yang berafiliasi dengan Sarekat Islam. Julukan "Raja Mogok" melekat padanya karena keberaniannya memimpin pemogokan buruh pabrik gula dan tembakau demi menuntut upah layak.
Pada 1923, Suryopranoto memimpin pemogokan besar-besaran di pabrik gula di Jawa Tengah. Ribuan buruh menuntut pengurangan jam kerja dari 14 jam menjadi 8 jam sehari. Meski berakhir dengan penangkapan oleh Belanda, aksi ini menjadi cikal bakal gerakan buruh modern di Indonesia.
Ki Hajar Dewantara dan Perjuangan di Bidang Pendidikan
Raden Mas Soewardi Soeryaningrat lahir 2 Mei 1889, mengenyam ELS, Kweekschool (sekolah keguruan), dan kemudian masuk STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputra), meski tidak menyelesaikannya karena kondisi kesehatan. Paparan terhadap model pendidikan Barat dan pengalaman jurnalistiknya di Belanda memperluas wawasan, menumbuhkan gagasan agar pendidikan dibuka untuk seluruh rakyat, tidak hanya elit .
Setelah pulang dari Belanda pada 1919, Soewardi bersama saudaranya mendirikan Taman Siswa pada 3 Juli 1922 untuk menyediakan pendidikan bagi pribumi yang tidak terjangkau sekolah Belanda. Pengaruh pemikiran Fröbel dan Montessori, serta semangat nasionalisme yang ia kembangkan selama bergabung di Insulinde dan Indische Partij, mengilhami kurikulum Taman Siswa yang menekankan kebebasan belajar, karakter, dan cinta tanah air.
Lahir sebagai Raden Mas Soewardi Soeryaningrat pada 2 Mei 1889, Ki Hadjar memilih melepas gelar kebangsawanannya pada 1922. "Gelar bangsawan hanya membatasi saya untuk merangkul rakyat," tulisnya dalam surat kepada sahabatnya, Ernest Douwes Dekker 5. Keputusan ini menjadi titik baliknya mendirikan Taman Siswa, sekolah pertama yang membuka akses pendidikan bagi rakyat biasa, melawan sistem diskriminatif Belanda yang hanya mengizinkan bangsawan dan Eropa bersekolah.
Pada 1913, Ki Hadjar menulis artikel legendaris "Als ik een Nederlander was" (Seandainya Aku Seorang Belanda) di koran De Expres. Tulisan ini mengecam rencana Belanda memungut dana dari rakyat Jawa untuk perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Prancis. "Bagaimana mungkin kami merayakan kemerdekaan di tanah yang kami jajah?" tulisnya dengan nada sarkastik. Akibatnya, ia diasingkan ke Belanda bersama Douwes Dekker dan Tjipto Mangunkusumo—trio yang dikenal sebagai Tiga Serangkai.
Semangat Perlawanan yang Sama
Meski berbeda fokus, Suryopranoto dan Ki Hadjar saling mendukung. Suryopranoto kerap menggunakan jaringan Taman Siswa untuk menyebarkan pamflet gerakan buruh, sementara Ki Hadjar memasukkan kurikulum tentang keadilan sosial di sekolahnya. "Pendidikan tanpa kesadaran akan penindasan hanyalah alat penjinakan," kata Ki Hadjar dalam pidato di Kongres Taman Siswa 1928.
Pada masa pendudukan Jepang, Keduanya terlibat dalam Putera (Pusat Tenaga Rakyat) bentukan Jepang pada 1943. Suryopranoto mengorganisasi buruh untuk sabotase halus terhadap Jepang, sementara Ki Hadjar menggunakan posisinya untuk menyelipkan materi kebangsaan dalam kurikulum sekolah.
Latar bangsawan dan pendidikan kolonial membekali Suryopranoto dan Ki Hajar Dewantara dengan alat intelektual untuk menentang ketidakadilan sosial, namun justru membentuk panggilan hati yang berbeda: Suryopranoto sebagai pembela hak buruh, dan Dewantara sebagai bapak pendidikan rakyat. Dari keraton Pakualaman ke jalan perjuangan, jejak mereka menegaskan bahwa akses dan pengalaman—bukan saja status—yang membentuk pemikiran dan aksi sosial.
Perayaan hari buruh dan hari pendidikan yang berdampingan dan disimbolkan oleh kedua kakak beradik ini juga seakan menegaskan tidak terpisahnya kedua gerakan ini untuk mencapai cita-cita kesejahteraan bagi semua orang.