Trump Ngeluh Eskalator Mati dan Teleprompter Tidak Berfungsi di Sidang Umum PBB
Eskalator yang membawa Trump menuju mimbar tiba-tiba berhenti sesaat setelah ia menginjaknya.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluhkan soal eskalator yang mati dan teleprompter yang tidak berfungsi saat membuka pidato di Sidang Umum PBB kemarin.
Eskalator yang membawa Trump menuju mimbar tiba-tiba berhenti sesaat setelah ia menginjaknya, memaksanya untuk berjalan kaki menaikinya. Kemudian, setelah sampai di podium, Trump mengungkapkan bahwa teleprompternya tidak berfungsi.
“Saya tidak keberatan menyampaikan pidato ini tanpa teleprompter, karena teleprompternya tidak bekerja,” kata Trump dengan wajah sedikit kesal, disambut tawa hadirin, seperti dilansir NDTV, Selasa (23/9).
“Saya merasa sangat senang bisa berada di sini bersama Anda semua, bagaimanapun juga — dan dengan begitu Anda bisa berbicara lebih dari hati — yang bisa saya katakan hanyalah siapa pun yang mengoperasikan teleprompter ini akan berada dalam masalah besar,” tambahnya, yang kembali disambut tawa.
Sekitar satu menit kemudian, tampaknya teks pidato Trump akhirnya muncul di teleprompter, dan ia pun mulai melanjutkan — namun gangguan teknis itu tampaknya sudah mengganggunya.
Sekitar 10 menit dalam pidatonya, yang berfokus pada sederet pencapaian kebijakan domestik dan luar negeri, Trump kembali menyinggung masalah teknis yang ia hadapi.
“Bertahun-tahun yang lalu, seorang pengembang real estat yang sangat sukses di New York bernama Donald J. Trump — saya mengajukan penawaran untuk renovasi dan pembangunan kembali kompleks Perserikatan Bangsa-Bangsa ini,” kenangnya. “Saya ingat itu dengan sangat baik.”
Pada awal 2000-an, Trump pernah mendorong untuk merenovasi markas besar PBB yang memiliki 39 lantai di Manhattan. Pada akhirnya, ia tidak dipilih, dan proyek senilai USD 2,3 miliar itu selesai tiga tahun terlambat dengan kelebihan biaya lebih dari USD 400 juta, menurut Associated Press.
“Saat itu saya bilang bisa melakukannya dengan USD 500 juta — membangun ulang, semuanya,” ia mengingatkan. “Itu akan indah. Saya dulu sering bicara bahwa saya akan memberi kalian lantai marmer.”
“Tapi mereka memutuskan untuk mengambil arah lain, yang saat itu jauh lebih mahal,” lanjutnya. “Saya sadar mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan soal konstruksi, dan konsep bangunan mereka benar-benar salah.”
Merasa mendapat pembenaran, Trump menyindir bahwa konstruksi itu tidak pernah benar-benar selesai dengan baik.
“Sejauh yang saya lihat, jujur saja, melihat gedung itu dan terjebak di eskalator, mereka masih belum menyelesaikan pekerjaannya,” katanya. “Itu sudah bertahun-tahun lalu.”
Trump pernah berbicara kepada Komite Pengawas DPR pada 2005 tentang apa yang salah dengan renovasi markas PBB tersebut.
Video menangkap momen ketika eskalator tiba-tiba berhenti saat Trump menginjaknya.
“Kalau saja Ibu Negara tidak dalam kondisi fisik yang baik, dia pasti akan jatuh,” ujarnya.
Pidato Trump di PBB penuh kritik tajam. Ia menegur PBB karena gagal menangani sejumlah perang yang berkecamuk di berbagai belahan dunia, termasuk beberapa konflik yang diklaimnya telah ia bantu mediasi.
Pada satu titik, ia bertanya secara retoris, “Apa tujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa?” Kemudian, ia menuduh badan internasional itu “mendanai serangan terhadap negara-negara Barat.”
“Dua hal inilah yang saya dapat dari Perserikatan Bangsa-Bangsa: eskalator yang buruk dan teleprompter yang buruk,” selorohnya di momen lain.
Belakangan, di Truth Social, presiden itu menulis bahwa “kedua kejadian itu mungkin membuat pidato lebih menarik daripada seandainya berjalan lancar.”
“Selalu merupakan suatu kehormatan untuk berbicara di Perserikatan Bangsa-Bangsa, bahkan jika peralatan mereka agak bermasalah,” tambahnya.