Survei: Warga AS Terbelah Soal Penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro
Mayoritas warga AS menolak keterlibatan negara mereka lebih jauh di Venezuela.
Amerika Serikat kembali menuai sorotan internasional setelah Presiden Venezuela Nicolas Maduro diculik dalam operasi militer pasukan khusus AS.
Dilansir Aljazeera, Selasa (6/1), jajak pendapat terbaru yang digelar Reuters/Ipsos menunjukkan warga Amerika terbelah hampir seimbang dalam menyikapi langkah kontroversial tersebut di tengah meningkatnya kekhawatiran keterlibatan Washington di Venezuela.
Survei mencatat, 33 persen warga AS mendukung penculikan Maduro, sementara 34 persen menentangnya. Sebanyak 32 persen responden mengaku belum menentukan sikap.
Pendukung Trump Dominan Dukung Operasi Militer
Hasil survei menunjukkan dukungan terbesar datang dari pendukung Partai Republik. Sebanyak 65 persen pemilih Partai Republik mendukung operasi penculikan Maduro, jauh lebih tinggi dibandingkan pemilih Partai Demokrat yang hanya 11 persen serta pemilih independen sebesar 23 persen.
Meski demikian, mayoritas warga AS menolak keterlibatan lebih jauh di Venezuela. Sebanyak 43 persen menentang AS mengambil alih pemerintahan Venezuela hingga terbentuk pemerintahan baru di Caracas. Selain itu, 47 persen responden juga menolak penempatan pasukan AS di wilayah tersebut.
Penolakan juga terlihat pada rencana penguasaan ladang minyak Venezuela. Sebanyak 46 persen warga AS menentang gagasan pemerintahan Trump mengambil alih sektor minyak negara itu.
Maduro Diadili
Maduro telah menjalani sidang perdananya di pengadilan federal AS di New York pada Senin. Ia menghadapi dakwaan narkoterorisme, perdagangan narkoba, dan kepemilikan senjata. Dalam sidang tersebut, Maduro menyatakan tidak bersalah dan menyebut dirinya sebagai korban penculikan.
“Saya masih presiden negara saya,” ujar Maduro melalui penerjemah di hadapan hakim.
Sementara itu, di Venezuela, Wakil Presiden Delcy Rodríguez telah dilantik sebagai presiden sementara.
Survei juga mencatat 72 persen warga AS khawatir negaranya akan menjadi terlalu terlibat dalam konflik Venezuela.
Reporter Magang: Mochamad Aidil Akbar