Ratusan Warga di Madrid Gelar Protes Operasi Militer AS Venezuela, Desak Spanyol Bertindak
Ratusan demonstran di Madrid menyuarakan Protes Operasi Militer AS Venezuela, mengecam intervensi dan mendesak pemerintah Spanyol untuk meninjau kembali hubungan dengan Washington.
Ratusan warga dan aktivis berkumpul di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Madrid, Spanyol, pada Minggu (4/1). Mereka menggelar aksi Protes Operasi Militer AS Venezuela yang dinilai melanggar hukum internasional dan kedaulatan sebuah negara berdaulat.
Aksi ini dipicu oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump sehari sebelumnya mengenai serangan besar ke Venezuela. Trump mengklaim telah menangkap Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, serta membawa mereka keluar dari negara tersebut.
Para pengunjuk rasa menyuarakan penolakan keras terhadap kebijakan luar negeri AS. Mereka menuntut hak setiap bangsa untuk menentukan masa depannya tanpa campur tangan pihak eksternal, khususnya terkait Protes Operasi Militer AS Venezuela.
Kecaman Terhadap Intervensi AS di Venezuela
Para demonstran di Madrid menegaskan bahwa tindakan Amerika Serikat di Venezuela merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional. Mereka menilai intervensi semacam itu hanya akan memperburuk situasi dan meninggalkan luka yang lebih dalam bagi rakyat Venezuela.
Orlando Salas, seorang warga Venezuela yang telah lama menetap di Spanyol, mengungkapkan keprihatinannya. "Apa yang terjadi di negara kami merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional dan campur tangan urusan dalam negeri negara berdaulat. Serangan AS akan meninggalkan luka yang jauh lebih dalam dibandingkan masalah yang mereka klaim ingin perbaiki," ujarnya.
Eric Briceno, peserta aksi lainnya yang berasal dari Kuba, menambahkan bahwa Protes Operasi Militer AS Venezuela ini bukan hanya soal mendukung tokoh politik tertentu. Melainkan, ini adalah penolakan terhadap tindakan kekerasan dan penangkapan lintas wilayah yang dilakukan oleh pihak luar.
Briceno juga memperingatkan bahwa langkah Washington dapat menjadi preseden berbahaya bagi negara-negara di Amerika Latin. Ini menunjukkan kekhawatiran akan meluasnya campur tangan AS dan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) di kawasan tersebut.
Reaksi Politik dan Internasional Terkait Situasi Venezuela
Aksi unjuk rasa di Madrid turut dihadiri oleh perwakilan kekuatan politik sayap kiri Spanyol. Pemimpin partai Podemos, Ione Belarra, mendesak otoritas Spanyol dan lembaga Uni Eropa untuk merespons secara tegas perkembangan di Venezuela.
Belarra juga menyerukan agar Spanyol dan Uni Eropa meninjau kembali hubungan mereka dengan Washington menyusul insiden Protes Operasi Militer AS Venezuela. Hal ini menunjukkan adanya tekanan politik internal di Spanyol untuk mengambil sikap yang lebih kritis terhadap AS.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Venezuela menyatakan akan mengajukan keberatan ke berbagai organisasi internasional terkait tindakan Washington. Mereka juga meminta digelarkan pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB yang dijadwalkan pada 5 Januari untuk membahas isu ini.
Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan solidaritasnya terhadap Venezuela dan mengungkapkan kekhawatiran mendalam. Moskow menuntut pembebasan Nicolas Maduro dan istrinya, serta langkah-langkah untuk mencegah eskalasi lebih lanjut di sekitar Venezuela.
Kronologi dan Klaim Operasi Militer AS
Pada Sabtu, Presiden AS Donald Trump secara mengejutkan menyatakan bahwa AS telah melancarkan serangan besar ke Venezuela. Klaim ini termasuk penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, yang kemudian dibawa keluar dari negara tersebut.
Sejumlah media melaporkan adanya ledakan di Caracas dan mengaitkan operasi tersebut dengan unit Delta Force AS. Harian The New York Times, mengutip seorang pejabat senior Venezuela, bahkan melaporkan sedikitnya 40 orang tewas, termasuk personel militer dan warga sipil.
Otoritas Venezuela sendiri menyatakan tidak mengetahui keberadaan Maduro dan menuntut bukti bahwa ia masih hidup. Trump kemudian membagikan sebuah foto yang, menurutnya, memperlihatkan Maduro berada di atas kapal USS Iwo Jima.
Media AS juga menayangkan pendaratan sebuah pesawat di Negara Bagian New York, yang disebut-sebut membawa Maduro dan istrinya dengan pengawalan puluhan aparat penegak hukum. Meski demikian, sejumlah anggota Kongres AS mengecam operasi tersebut sebagai tindakan ilegal, sementara pemerintahan AS menegaskan Maduro akan diadili.
Sumber: AntaraNews