Roket SpaceX Meledak Saat Uji Terbang, Elon Musk Ungkap Penyebabnya
Saat memasuki atmosfer di atas Karibia, roket meledak menjadi serpihan.
Uji coba peluncuran roket Starship milik SpaceX berlangsung pada 16 Januari lalu meledak pada peluncuran yang ketujuh. Roket tersebut terlihat hancur menjadi serpihan puing-puing saat memasuki atmosfer di atas Karibia. Meskipun demikian, wahana antariksa setinggi 123 meter ini berhasil lepas landas dan mencapai pemisahan tahap.
Pendorong tahap pertama yang dikenal sebagai Super Heavy berhasil kembali ke Starbase dan ditangkap secara dramatis oleh lengan "sumpit" menara peluncurannya. Namun, sekitar delapan menit setelah peluncuran, SpaceX kehilangan kontak dengan bagian atas Starship yang disebut Ship.
Menurut laporan dari laman Space pada Senin (20/1), pesawat luar angkasa setinggi 52 meter itu meledak di atas Samudra Atlantik, dekat kepulauan Turks dan Caicos, sekitar 8,5 menit setelah peluncuran. Peristiwa ini menciptakan pertunjukan langit yang spektakuler, disaksikan oleh banyak orang di sekitar lokasi. Seandainya tidak terjadi ledakan, Ship seharusnya masih bisa meluncur cukup jauh sebelum jatuh kembali ke Bumi di Samudera Hindia, di pantai barat Australia, sekitar 66 menit setelah peluncuran, seperti yang terjadi pada tiga uji peluncuran sebelumnya.
Uji ketujuh ini sebenarnya dirancang untuk menunjukkan kemampuan baru dari Ship, di mana sekitar 17,5 menit setelah lepas landas, roket bagian atas tersebut seharusnya melepaskan 10 dumi satelit.
Satelit-satelit tersebut dibuat dengan ukuran dan bobot yang setara dengan generasi Starlink berikutnya. Rencananya, dumi satelit itu akan mengikuti trayek suborbital Ship dan terjun ke Samudera Hindia. Ship yang diluncurkan kali ini lebih panjang hampir 2 meter berkat beberapa pembaruan dan modifikasi. Sebelumnya, enam kali uji peluncuran Starship telah dilakukan antara April-November 2023 serta Maret, Juni, Oktober, dan November tahun lalu. Pada uji keenam, SpaceX menguji penangkapan kembali Super Heavy, tetapi terjadi masalah komunikasi dengan menara peluncuran, sehingga uji penangkapan Super Heavy dibatalkan dan roket dialihkan untuk jatuh di perairan Teluk Meksiko.
CEO SpaceX, Elon Musk, memberikan penjelasan mengenai insiden kegagalan uji terbang roket Starship melalui laman X pribadinya. Ia menyatakan penyelidikan awal menunjukkan adanya kebocoran bahan bakar di rongga di atas sekat api mesin yang cukup besar untuk menciptakan tekanan melebihi kapasitas ventilasi.
"Kami akan menambahkan pencegah kebakaran pada volume tersebut dan mungkin menambah area ventilasi. Sejauh ini belum ada yang menunjukkan peluncuran berikutnya akan ditunda hingga bulan depan," tulis Musk pada Kamis (16/1/2025).
Musk mengatakan, versi perbaikan dari Ship dan Booster sudah siap untuk peluncuran selanjutnya, meskipun jadwal pasti untuk uji coba berikutnya belum diumumkan.
Sementara itu, Administrator NASA Bill Nelson mengucapkan selamat kepada SpaceX setelah peluncuran Booster, sambil mengakui tantangan yang dihadapi dalam penerbangan antariksa melalui platform X.
"Selamat kepada SpaceX atas uji terbang Starship yang ketujuh dan keberhasilan kedua dalam menangkap pendorong roket. Penerbangan antariksa tidaklah mudah," tulis Nelson.
Saat ini, SpaceX tengah mengembangkan Starship, roket terbesar dan terkuat yang pernah ada, yang akan digunakan untuk membantu manusia menetap di bulan dan Mars, serta misi antariksa lainnya.