Pria Ini Mengaku Tidak Bisa Tidur Selama Dua Tahun, Begini Faktanya
Apa yang menjadi faktor penyebab gangguan tidur yang dialami oleh pria dari Inggris ini?
Bayangkan jika Anda harus menjalani hidup tanpa tidur selama dua tahun. Itulah pengalaman menyakitkan yang dialami seorang pria asal Inggris, Oliver Alvis, yang mengklaim terjebak dalam keadaan terjaga meskipun telah mengonsumsi obat penenang dalam dosis tinggi. Beberapa tahun yang lalu, kehidupan Alvis berjalan dengan normal. Ia bekerja sebagai kondektur kereta dan baru saja membeli apartemen dengan empat kamar, seperti yang dikutip dari laman Oddity Central, Rabu (27/8/2025). Namun, segalanya berubah ketika suatu malam ia mendapati dirinya tidak bisa tidur.
Awalnya, ia berpikir bahwa ia hanya mengalami insomnia sementara, tetapi kondisi tersebut terus berlanjut hingga saat ini, membuat hidupnya tak lagi tenang.
"Saya bukan cuma kurang tidur; ini benar-benar tidak tidur sama sekali," ungkap Alvis kepada Mail Online. "Saya tidak ngantuk sama sekali. Saya selalu terjaga. Siang yang tak berujung berubah menjadi malam yang tak berujung, dan itu benar-benar menyiksa. Bukan hanya rasa lelah, tetapi juga menghancurkan jiwa," tambahnya. Pengalaman ini menggambarkan betapa beratnya beban yang harus ditanggungnya setiap hari.
"Saya sudah kehilangan hampir segalanya. Diri saya yang dulu sudah hilang," ujarnya. Ia juga mengekspresikan rasa frustasinya, "Bagaimana bisa sesuatu yang begitu alami, begitu penting seperti tidur, benar-benar direnggut dari saya? Dulu saya bertanya-tanya, rasa sakit seperti apa yang bisa bikin orang ingin mati. Sekarang saya paham. Saya tidak ingin mati, tapi saya tidak bisa menahan siksaan ini lebih lama. Saya rela memberikan setiap uang yang sudah saya hasilkan hanya untuk bisa menutup mata dan tidur," tambahnya.
Gejala yang dialaminya sangat serius. Rasa sakit pada otot dan tulangnya tak kunjung reda, tubuhnya terasa seperti dibungkus dengan besi, matanya seolah-olah ingin keluar dari tengkorak, dan tekanan di kepalanya hampir tidak tertahankan.
Alvis bahkan mengalami kesulitan untuk berjalan dengan lurus, penglihatannya semakin memburuk, dan sistem pencernaannya juga terganggu akibat kurang tidur yang ekstrem. Dalam keadaan putus asa, ia menjual rumah barunya dan kembali tinggal bersama ibunya. Ia melakukan perjalanan ke berbagai negara, seperti India, Italia, Turki, dan Kolombia, untuk mencari solusi. Berbagai terapi, obat, dan bahkan ramuan halusinogen telah dicobanya, namun tak satu pun dari itu yang berhasil memberinya tidur yang diinginkan. "Saya sering berjalan sendirian di malam hari, iri melihat para tunawisma bisa tidur di emperan toko," kata Alvis. "Saya bahkan rela bertukar tempat dengan mereka, hanya supaya bisa tidur, sesuatu yang rela saya tukar dengan semua harta saya," tambahnya. Ia juga menyatakan bahwa meskipun dokter memberinya obat penenang yang paling kuat, tetap saja ia tidak bisa tidur. Kini, harapannya hanya tertuju pada ilmuwan atau dokter yang memahami apa yang sebenarnya ia alami.
Kisahnya menjadi viral di media sosial dan memicu perdebatan di kalangan masyarakat. Beberapa orang percaya dengan klaimnya, sementara yang lain meragukan, karena secara biologis tidak mungkin manusia dapat bertahan tanpa tidur selama dua tahun. Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa anjing yang terus dipaksa melek akan mati dalam waktu 17 hari, sedangkan tikus hanya mampu bertahan selama 32 hari. Beberapa dokter menduga Alvis mungkin mengalami paradoxical insomnia, yaitu kondisi di mana pasien merasa terjaga meskipun otaknya sebenarnya berada dalam tahap tidur ringan. Namun, meskipun diagnosis ini mungkin benar, penderitaan yang dialami Alvis tetap nyata: ia merasa telah hidup tanpa tidur selama dua tahun.