Israel Hancurkan Kamera Pengawas UNIFIL di Lebanon, PBB Hanya Protes Keras
Peristiwa ini menimbulkan ketegangan baru antara Israel dan upaya misi perdamaian internasional di wilayah tersebut.
Tentara Israel dilaporkan telah menghancurkan semua kamera pengawas yang mengarah ke markas besar pasukan penjaga perdamaian PBB di Naqoura, Lebanon selatan. Tindakan ini telah memicu ketegangan baru antara Israel dan misi perdamaian internasional di kawasan tersebut.
Juru Bicara Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL), Kandice Ardiel, menyatakan pada Sabtu (4/4/2026) bahwa kamera-kamera tersebut memiliki peran krusial dalam menjaga keselamatan dan keamanan personel militer maupun sipil yang berada di dalam markas UNIFIL. Penghancuran perangkat pengawasan ini menimbulkan kekhawatiran serius dari pihak PBB.
UNIFIL menilai bahwa tindakan tersebut dapat membahayakan keselamatan personel dan mengganggu operasi penjaga perdamaian di wilayah yang kerap mengalami konflik. Sebagai langkah balasan, UNIFIL berencana untuk mengajukan protes resmi kepada Israel terkait insiden ini.
Ardiel juga menegaskan bahwa tentara Israel memiliki tanggung jawab untuk memastikan keselamatan personel PBB dan menghormati fasilitas yang dimiliki oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ketegangan yang muncul akibat insiden ini menunjukkan pentingnya pengawasan dan perlindungan terhadap misi perdamaian internasional.
Israel Bunuh Tiga Anggota TNI
Tiga prajurit TNI kehilangan nyawa dan beberapa lainnya mengalami cedera saat melaksanakan misi perdamaian yang di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon selatan. Kejadian ini berlangsung di tengah situasi konflik yang semakin meningkat antara Israel dan kelompok bersenjata di sepanjang perbatasan Lebanon.
Prajurit TNI yang tergabung dalam UNIFIL menjadi korban dalam dua insiden terpisah pada tanggal 29 dan 30 Maret 2026. Salah satu prajurit, Praka Farizal Rhomadhon, dilaporkan tewas akibat ledakan proyektil yang terjadi di dekat posisi pasukan di Desa Adchit al-Qusayr, Lebanon selatan. Keesokan harinya, dua prajurit TNI lainnya kembali gugur setelah konvoi logistik UNIFIL terkena ledakan di wilayah Bani Hayyan, yang juga mengakibatkan beberapa personel lainnya terluka.
Situasi keamanan semakin memburuk setelah ledakan kembali terjadi pada tanggal 3 April 2026, yang melukai tiga prajurit TNI, dua di antaranya mengalami luka parah. Ledakan tersebut terjadi di fasilitas PBB yang terletak dekat El Adeisse, Lebanon selatan. Para korban segera dilarikan ke rumah sakit dan dilaporkan dalam keadaan stabil, sementara penyebab ledakan masih dalam tahap penyelidikan.
Secara keseluruhan, insiden ini mengakibatkan sedikitnya delapan prajurit TNI menjadi korban, dengan rincian tiga gugur dan lima lainnya mengalami luka-luka. Peristiwa ini tercatat sebagai salah satu insiden paling mematikan bagi kontingen Indonesia dalam misi UNIFIL dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah Indonesia pun mengeluarkan kecaman keras terhadap serangan yang membahayakan nyawa pasukan penjaga perdamaian dan mendesak agar dilakukan penyelidikan menyeluruh.
Indonesia juga meminta kepada PBB untuk meningkatkan perlindungan bagi personel UNIFIL yang bertugas di daerah konflik yang semakin berbahaya. Pada tanggal 4 April 2026, jenazah tiga prajurit TNI yang gugur dipulangkan ke Indonesia dan disambut dengan upacara militer sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian mereka dalam misi perdamaian dunia.
Israel Lagi-lagi Langgar Gencatan Senjata
UNIFIL telah beroperasi di wilayah selatan Lebanon sejak tahun 1978, dan kehadirannya diperluas berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan 1701 setelah terjadinya perang antara Israel dan Hizbullah pada tahun 2006. Meskipun gencatan senjata telah diterapkan sejak November 2024, Israel tetap melancarkan serangan udara dan operasi darat di Lebanon selatan, yang dipicu oleh serangan lintas batas yang dilakukan oleh Hizbullah pada 2 Maret.
Otoritas Lebanon melaporkan bahwa setidaknya 1.422 orang telah kehilangan nyawa dan 4.294 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan yang dilakukan oleh Israel. Informasi ini disampaikan oleh Antara.