Advertisement
Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon, atau UNIFIL, melaporkan insiden penembakan terhadap personel penjaga perdamaiannya di Lebanon selatan. Peristiwa ini terjadi pada Jumat, 3 Januari 2026, di dekat Kafer Shouba.
Penembakan tersebut berasal dari posisi militer Israel, yang terletak di selatan Garis Biru. Meskipun tidak ada korban luka atau kerusakan, UNIFIL menyatakan keprihatinannya atas insiden berulang ini.
Misi PBB tersebut telah mengirimkan permintaan penghentian tembakan melalui jalur penghubung resmi. Insiden ini menambah daftar panjang tindakan kekerasan yang kerap menargetkan patroli perdamaian di wilayah tersebut.
Advertisement
Advertisement
UNIFIL merinci dua insiden terpisah yang terjadi dalam waktu kurang dari 20 menit. Patroli pertama melaporkan sekitar 15 tembakan senjata ringan yang mengenai area tidak lebih dari 50 meter dari posisi mereka.
Tak lama kemudian, patroli kedua di wilayah yang sama melaporkan sekitar 100 peluru senapan mesin menghantam area berjarak sekitar 50 meter. Kedua insiden ini secara konsisten diidentifikasi berasal dari posisi militer Israel.
Pihak UNIFIL menegaskan bahwa patroli tersebut telah dikoordinasikan sebelumnya dengan Pasukan Pertahanan Israel. Prosedur ini merupakan praktik standar untuk area sensitif di sekitar Garis Biru guna menghindari kesalahpahaman.
Advertisement
Advertisement
UNIFIL menyatakan bahwa insiden penembakan pasukan perdamaian UNIFIL ini terjadi terlalu sering dan mulai menjadi tren yang mengkhawatirkan. Misi PBB tersebut menggarisbawahi bahwa serangan terhadap atau di sekitar pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius.
Pelanggaran ini merujuk pada Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701, yang bertujuan menjaga perdamaian dan stabilitas di sepanjang Garis Biru. UNIFIL menyerukan kepada militer Israel untuk segera menghentikan perilaku agresif tersebut.
Seruan ini juga mencakup penghentian serangan terhadap atau di sekitar pasukan penjaga perdamaian yang bertugas. Hingga berita ini diturunkan, belum ada komentar resmi dari militer Israel terkait pernyataan UNIFIL.
Advertisement
Advertisement
Patroli pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon selatan memang kerap menjadi sasaran tindakan kekerasan Israel. Insiden sebelumnya mencakup pembidikan laser dan tembakan peringatan yang dianggap sangat berbahaya oleh juru bicara Sekjen PBB, Stephane Dujarric.
Gencatan senjata di Lebanon telah diberlakukan sejak November 2024, menyusul lebih dari setahun serangan yang menewaskan lebih dari 4.000 orang dan melukai sekitar 17.000 lainnya di tengah perang Israel di Gaza.
Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat setidaknya 335 orang tewas dan 973 lainnya terluka akibat serangan Israel sejak gencatan senjata berlaku. Ini menunjukkan bahwa situasi di lapangan masih sangat rentan.
Advertisement
Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata, militer Israel seharusnya menarik diri sepenuhnya dari Lebanon selatan pada Januari 2025. Namun, penarikan tersebut baru dilakukan sebagian, dan Israel masih mempertahankan kehadiran militernya di lima pos perbatasan.
Sumber: AntaraNews