Ilmuwan Temukan Danau dan Sungai Purba di Gurun Pasir Arab, Kedalamannya Setara Gedung 14 Lantai
Sekitar 11.000 sampai 5.500 tahun lalu gurun Arab mengalami masa hijau.
Gurun yang kita lihat saat ini di Arab dulunya merupakan wilayah yang berulang kali mengalami “periode hijau” pada masa lalu. Sekitar 9.000 tahun lalu, periode tersebut hadir akibat curah hujan yang tinggi dan mengakibatkan terbentuknya danau dan sungai.
Dilansir Phys.org, Senin (7/4), inilah temuan utama dari tim interdisipliner internasional yang mendokumentasikan bentang alam purba yang dibentuk oleh air di Empty Quarter, salah satu gurun terbesar dan terkering di dunia saat ini.
Makalah “Jejak monsoon pada bentang alam akhir Kuarter di Gurun Rub’al Khali” diterbitkan di Communications Earth & Environment.
Tim yang dipimpin oleh Dr. Abdallah Zaki dan Profesor Sebastien Castelltort dari Universitas Jenewa, Swiss, dan Profesor Abdulkader Afifi dari Universitas Sains dan Teknologi Raja Abdullah (KAUST), termasuk Profesor Michael Petraglia dari Universitas Griffith mendokumentasikan keberadaan danau purba, sungai, dan lembah besar yang terbentuk oleh air.
“Berdasarkan serangkaian usia, tampaknya danau tersebut mencapai puncaknya sekitar 9.000 tahun lalu, selama periode Arabia Hijau lembab yang berlangsung antara 11.000 hingga 5.500 tahun lalu,” kata penulis pertama, Dr. Abdallah Zaki.
Danau tersebut diperkirakan memiliki ukuran yang sangat besar, luasnya mencapai 1.100 meter persegi dan kedalaman 42 meter.
“Karena curah hujan yang meningkat, danau tersebut akhirnya jebol dan menyebabkan banjir besar, membentuk lembah sepanjang 150 km di dasar gurun,” kata Profesor Sebastien Castelltort.
Ilmuwan meyakini sumber hujan monsun berasal dari monsun Afrika. Bukti tersebut ditunjukkan oleh sedimen yang dapat dilacak hingga jarak 1.100 km, membentang dari pegunungan Asir di sepanjang Laut Merah, di dekat Afrika.
Profesor Petraglia mengatakan, “Pembentukan lanskap danau dan sungai, bersama dengan padang rumput dan kondisi sabana akan menyebabkan perluasan kelompok pemburu dan pengumpul, serta populasi penggembala di tempat yang sekarang menjadi gurun kering dan tandus.”
Ia mengatakan curah hujan saat itu tidaklah lemah, melainkan sangat kuat dan intensif sehingga mengubah lanskap dengan cepat dan berskala besar.
Temuan ini didukung dengan adanya bukti arkeologi yang melimpah di Empty Quarter dan di sepanjang jaringan danau dan sungai purba.
“Pada 6.000 tahun lalu, Empty Quarter mengalami penurunan curah hujan yang kuat, sehingga menciptakan kondisi kering dan gersang, sehingga memaksa populasi untuk pindah ke tempat yang lebih ramah dan mengubah gaya hidup populasi nomaden.”
Reporter Magang: Devina Faliza Rey