Heboh di Media Sosial, Perempuan Ini Dikabarkan Tinggal di Bandara Kuala Lumpur Selama Setahun
Sebuah video yang menjadi viral menunjukkan seorang wanita duduk di terminal Bandara Kuala Lumpur, dikelilingi oleh beberapa koper dan troli.
Mirip dengan kisah dalam film "The Terminal," seorang wanita diduga telah tinggal di Bandara Kuala Lumpur Internasional (KLIA), Malaysia, selama satu tahun. Pihak kepolisian mengonfirmasi penangkapan wanita tersebut setelah video viral menunjukkan dirinya membuat keributan di Terminal 1 bandara.
Menurut laporan dari Says pada Rabu (24/12/2025), Inspektur Albany Hamzah, Wakil Kepala Kepolisian Distrik KLIA, menyatakan bahwa wanita ini ditahan setelah insiden keributan yang terjadi pada Kamis, 18 Desember 2025, seperti yang dilaporkan oleh Harian Metro.
"Keributan itu melibatkan wanita tersebut dan beberapa individu lainnya. Petugas segera mendatangi lokasi untuk mengambil tindakan yang diperlukan sebelum membawanya ke kantor polisi," ungkap Albany.
Dalam pemeriksaan, terungkap bahwa wanita tersebut adalah seorang warga negara Malaysia yang diperkirakan berusia 40-an dan memiliki kartu kesehatan mental. Polisi kemudian merujuknya ke Rumah Sakit Kajang untuk pemeriksaan lebih lanjut, tetapi mereka tidak memberikan informasi mengenai berapa lama wanita itu telah berada di KLIA.
"Kami tidak memiliki informasi tambahan mengenai situasi ini. Tindakan telah diambil setelah keributan terjadi, dan saat ini, polisi belum membuka berkas penyelidikan. Wanita tersebut sudah diserahkan ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut," jelasnya.
Sebelumnya, sebuah video menunjukkan wanita itu—yang mengenakan atasan biru cerah dan legging hitam—menegur beberapa orang setelah anak-anak terlihat bermain dan membuat kebisingan di sekitarnya. Klip lain memperlihatkan wanita tersebut duduk di terminal bandara dikelilingi beberapa koper dan troli.
Memicu Perdebatan
Klip yang beredar mengklaim bahwa seorang perempuan telah menjadikan terminal bandara sebagai tempat tinggalnya selama satu tahun terakhir. Ia disebut-sebut "mengandalkan fasilitas bandara seperti air gratis, WiFi, dan pendingin udara."
Video-video ini memicu perdebatan di media sosial, di mana banyak pengguna mempertanyakan durasi tinggal wanita tersebut di bandara serta apakah pihak berwenang menyadari situasi yang terjadi. Menanggapi hal ini, KLIA menyatakan bahwa pihak berwenang telah diberitahu mengenai masalah tersebut dan polisi sedang mengambil langkah-langkah yang diperlukan, serta meminta masyarakat untuk tidak berspekulasi.
Bulan lalu, sebuah video viral lainnya juga menyoroti insiden "air terjun dadakan" di KLIA. Bandara tersebut kemudian mengonfirmasi adanya kebocoran air di Terminal 1 pada 14 November 2025, setelah badai petir melanda kawasan tersebut. Pihak bandara menegaskan bahwa tim teknik, operasional, dan keamanan segera dikerahkan untuk menangani situasi yang muncul akibat kebocoran tersebut.
Kebocoran air terjadi di KLIA
Dalam pernyataan resmi, pihak bandara mengungkapkan, "Kami mengetahui adanya kebocoran air akibat badai yang memengaruhi sebagian wilayah KLIA sore ini. Tim kami bersiaga penuh dan memprioritaskan keselamatan penumpang, upaya penanggulangan, dan perlindungan sistem kelistrikan," demikian pernyataan pihak bandara, seperti dilansir dari New Straits Times, 15 November 2025. Hal ini menunjukkan komitmen mereka terhadap keselamatan dan kenyamanan para penumpang.
KLIA juga terus berkomunikasi dengan mitra maskapai secara intensif untuk mengurangi dampak pada operasional. Mereka mengklaim bahwa kebocoran air yang terjadi di Terminal 1 disebabkan oleh kelalaian dalam prosedur yang dilakukan oleh kontraktor saat melakukan restorasi atap yang sedang berlangsung.
Pihak bandara menjelaskan bahwa kejadian ini berlangsung saat dilakukan pemeliharaan waterproofing dan drainase terjadwal di atap terminal utama. Ketika badai petir semakin kuat di area KLIA, kontraktor diinstruksikan untuk segera menghentikan pekerjaan dan mengevakuasi lokasi sesuai dengan protokol keselamatan yang telah ditetapkan.
Pengelola bandara bertanggung jawab
Dalam keadaan terburu-buru saat meninggalkan lokasi, kontraktor tidak berhasil melepaskan penutup kayu lapis yang berfungsi melindungi titik drainase. Akibatnya, satu sistem drainase mengalami penyumbatan. Ketika hujan deras turun, penyumbatan tersebut menghalangi aliran air dari atap, sehingga menyebabkan penumpukan air yang bocor melalui langit-langit ke aula keberangkatan.
Tim tanggap darurat KLIA segera mengamankan dan membersihkan area yang terdampak dalam waktu 90 menit, sehingga operasional di area tersebut dapat kembali normal.
Manajemen bandara mengungkapkan bahwa kegagalan kontraktor dalam mengikuti prosedur kerja yang mendasar adalah "tidak dapat diterima" dan tidak memenuhi standar yang diharapkan untuk infrastruktur bandara yang penting. "KLIA memiliki standar tertinggi yang dipegang teguh oleh masyarakat yang bepergian, dan kami berkomitmen untuk memastikan kontraktor dan mitra kami memenuhi standar yang sama," demikian pernyataan resmi dari pihak bandara.