Harga Senjata Meroket, Benarkah AS Mulai Kewalahan Hadapi Konflik Iran?
Persediaan senjata milik AS mungkin tidak akan habis selama konflik di Iran.
Pada tanggal 28 Februari 2026, Amerika Serikat melancarkan serangan yang dikenal sebagai "Operation Epic Fury" terhadap Iran.
Serangan ini melibatkan ribuan serangan yang dilakukan secara bersamaan di seluruh wilayah Iran dengan menggunakan lebih dari 20 sistem persenjataan dari laut dan udara.
Dalam gelombang pertama serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel, pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, dilaporkan tewas.
Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa perang ini akan berlangsung lama, diperkirakan sekitar empat hingga lima minggu, dan menekankan bahwa AS memiliki kemampuan untuk bertahan lebih lama dari itu.
Pemerintahan Trump menunjukkan keyakinan terhadap kekuatan militer AS.
"Kami tidak kekurangan amunisi," ungkap Menteri Pertahanan Pete Hegseth saat melakukan kunjungan ke Komando Pusat AS (CENTCOM) di Florida.
Dikutip dari DW.com, pada Kamis (12/3/2026), ia menambahkan, "Persediaan senjata defensif dan ofensif kami memungkinkan kampanye ini berlanjut selama yang kami perlukan."
Hal serupa juga dinyatakan oleh Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Dan Caine, yang menyatakan bahwa mereka memiliki amunisi presisi yang cukup untuk melaksanakan serangan dan pertahanan yang diperlukan.
Perhitungan Biaya Perang
Sejak awal konflik, serangan besar-besaran diluncurkan oleh AS, Israel, dan Iran di kawasan Teluk. CENTCOM melaporkan bahwa AS telah menyerang lebih dari 3.000 target di Iran dalam tujuh hari pertama.
Iran pun tidak tinggal diam, meluncurkan ribuan drone Shahed-136 dan ratusan misil ke target AS di kawasan tersebut. Mari kita hitung biaya yang terlibat.
Biaya produksi satu drone Shahed diperkirakan antara USD 20.000 - 50.000 (sekitar Rp 337 juta - Rp 843 juta), sementara metode pencegatan oleh AS jauh lebih mahal, dengan pesawat tempur yang menembakkan misil AIM-9 memerlukan sekitar USD 450.000 per tembakan (sekitar Rp 7,6 miliar).
Belum termasuk biaya operasional pesawat yang mencapai sekitar USD 40.000 (sekitar Rp 675 juta) per jam.
"Biaya mengoperasikan pesawat tempur selama satu jam setara dengan harga satu drone Shahed," kata Grieco.
"Itu tidak efisien. Ini perbandingan biaya yang tidak menguntungkan," tambahnya.
Menurutnya, AS seharusnya belajar dari pengalaman Ukraina yang menggunakan metode lebih murah, seperti drone pencegat yang lebih terjangkau dibandingkan dengan Shahed.
"Amerika Serikat sudah menguji teknologi itu, hanya saja belum membelinya dalam jumlah yang cukup," tambah Grieco.
Sementara itu, misil pertahanan Patriot yang jauh lebih mahal, sekitar USD 3 juta (sekitar Rp 50,6 miliar) per misil, digunakan untuk mencegat misil balistik Iran.
Kekhawatiran muncul terkait persediaan misil ini. Mark Cancian, penasihat senior di Center for Strategic and International Studies (CSIS), memperkirakan bahwa stok misil Patriot mulai terkuras dengan cepat.
"Di awal konflik, mungkin ada sekitar 1.000 misil Patriot, dan saya kira kita sudah menggunakan cukup banyak dari inventaris itu," ujarnya.
Dia memperkirakan bahwa sekitar 200-300 misil Patriot telah digunakan, dan senjata kelas tinggi seperti ini memerlukan waktu lama untuk diproduksi.
Lockheed Martin hanya mengirim sekitar 620 interceptor PAC-3 sepanjang tahun 2025.
"Jika hari ini Anda memesan satu Patriot lagi, kemungkinan butuh setidaknya dua tahun sebelum sistem itu tersedia," kata Cancian.
Untuk senjata jarak pendek seperti bom, kit JDAM, dan misil Hellfire, situasinya berbeda.
"Secara militer, saya kira kita bisa mempertahankan operasi ini untuk waktu yang sangat lama. Kita memiliki amunisi darat untuk itu," pungkas Cancian.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4406762/original/094363400_1682493585-000_33DT82C.jpg)
Trump Bertemu Perusahaan Pertahanan
Pada tanggal 6 Maret 2026, Donald Trump mengadakan pertemuan dengan sejumlah perusahaan di sektor pertahanan.
Setelah pertemuan tersebut, dia mengunggah di platform Truth Social bahwa para produsen sepakat untuk meningkatkan produksi senjata kelas tertinggi hingga empat kali lipat.
Gedung Putih menegaskan bahwa pertemuan itu sebenarnya telah dijadwalkan beberapa minggu sebelumnya. Namun, Grieco meragukan keaslian pengumuman tersebut.
"Bagi saya itu seperti bukan pengumuman baru, karena sebagian besar rencana itu sudah diumumkan beberapa bulan lalu," ujarnya.
Kesepakatan antara Lockheed Martin untuk meningkatkan produksi interceptor Patriot PAC-3 dari 600 menjadi 2.000 unit per tahun sebenarnya sudah diumumkan sejak bulan Januari.
Setelah pertemuan di Gedung Putih, tidak ada jadwal baru yang diungkapkan, dan targetnya masih tetap tahun 2030. Meskipun ada upaya untuk mempercepat produksi, proses tersebut tetap kompleks.
"Ada banyak titik kemacetan dalam rantai produksi. Bahkan jika Anda menggelontorkan banyak uang, tidak semudah menyalakan sakelar untuk langsung memproduksi. Tetap membutuhkan waktu," kata Grieco.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4244861/original/026184800_1669793970-20221130-Latihan-Tempur-Militer-Amerika-Serikat-India-AP-4.jpg)
Masa Depan Senjata Militer Amerika Serikat
Para analis sepakat bahwa Amerika Serikat (AS) tidak akan kehabisan senjata selama konflik di Iran. Namun, kekhawatiran muncul terkait masa depan persediaan senjata tersebut.
"Saya tidak akan mengatakan kita akan kehabisan," ujar Grieco.
"Namun, masalahnya adalah kita bisa berakhir dengan persediaan yang sangat menipis, dan itu akan membatasi pilihan strategis AS dalam beberapa tahun ke depan di Indo-Pasifik, Eropa, bahkan Timur Tengah," tambah dia.
Kondisi ini juga menarik perhatian Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, yang menyuarakan kekhawatiran serupa.
"Ada kekhawatiran bahwa jika perang berlangsung lama, Amerika mungkin mengurangi pasokan sistem pertahanan udara dan misil pertahanan udara ke Ukraina," katanya dalam wawancara dengan penyiar nasional Italia, RAI.
Mantan Menteri Luar Negeri, Antony Blinken, juga memberikan peringatan yang sejalan. Dalam wawancaranya dengan Bloomberg, ia menyatakan bahwa operasi berkepanjangan di Iran dapat membuat AS lebih rentan terhadap ancaman dari Rusia dan Cina.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2773335/original/075523100_1554783407-IRGC_naval_execise-2015__11_.jpg)
Amerika Serikat Terlalu Remehkan Iran
Jenderal Dan Caine melaporkan bahwa peluncuran misil balistik Iran mengalami penurunan sebesar 86 persen dibandingkan dengan hari pertama pertempuran. Washington menganggap hal ini sebagai indikasi kemajuan yang signifikan.
Meskipun demikian, sulit untuk mengetahui penyebab pasti dari penurunan jumlah peluncuran misil tersebut.
Salah satu kemungkinan adalah bahwa AS telah berhasil melemahkan kemampuan misil balistik Iran secara drastis.
Di sisi lain, untuk drone Shahed, estimasi jumlahnya menjadi sangat sulit karena proses produksinya yang tersebar.
"Bahkan sebelum perang, kita tidak benar-benar punya estimasi yang baik tentang jumlahnya," ungkap Grieco.
Dia juga menilai bahwa AS mungkin telah meremehkan kemampuan Iran.
"Jika tujuannya adalah perubahan rezim, kekuatan udara saja tidak akan cukup untuk menjatuhkan rezim," tambahnya.
Menurutnya, sikap Iran yang sebelumnya cenderung menahan diri terhadap serangan dari AS dan Israel mungkin telah disalahartikan sebagai tanda kelemahan, yang pada akhirnya menyebabkan kegagalan dalam strategi pencegahan yang diterapkan.
"Mereka bertarung demi kelangsungan rezim. Mereka punya insentif untuk bertarung keras dan menanggung biaya besar," jelasnya.
Cancian pun setuju dengan pandangan tersebut. "Kita telah memukul mereka cukup keras dan mereka belum meminta perdamaian," katanya. "Mungkin itu tidak diantisipasi."
Keberhasilan cepat AS dalam menangkap mantan pemimpin Venezuela, Nicols Maduro, sebelumnya meningkatkan kepercayaan diri Washington terhadap hasil Operation Epic Fury.
Namun, sejarah menunjukkan bahwa AS pernah salah dalam memperkirakan durasi dan biaya perang di masa lalu.
Meskipun persediaan senjata AS mungkin tidak akan habis dalam konflik di Iran, pertanyaan yang masih tersisa adalah berapa banyak yang akan tersisa setelah perang itu berakhir.