Dikenal Sebagai Permata Tata Surya karena Keindahannya, Sinar Matahari Butuh 80 Menit untuk Sampai ke Planet Ini
Planet ini dikenal sebagai "Permata Tata Surya" karena keindahan dan ciri khasnya.
Saturnus adalah planet yang terkenal karena cincin yang mengelilinginya. Merupakan planet keenam dari matahari, Saturnus termasuk dalam kategori planet besar. Disebut sebagai "Permata Tata Surya," planet ini telah menjadi objek penelitian para ilmuwan selama berabad-abad. Meskipun menarik, para astronom berpendapat bahwa Saturnus tidak cocok untuk mendukung kehidupan manusia. Berdasarkan informasi yang dirilis oleh laman Space, terdapat beberapa alasan mengapa Planet Saturnus tidak bisa dihuni.
1. Terlalu Jauh dari Matahari
Jarak sebuah planet dari bintang yang diorbitnya merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan kemampuannya untuk mendukung kehidupan. Dalam konteks tata surya, kita mengenal istilah zona Goldilocks, yang sering digunakan sebagai sinonim untuk zona layak huni. Menurut laman NASA yang dikutip pada Senin (02/12/2024), jarak Saturnus dari matahari mencapai sekitar 1,4 miliar km atau setara dengan 9,5 astronomical unit (satuan yang digunakan untuk mengukur jarak dari Bumi ke matahari). Jarak yang begitu jauh ini menyebabkan sinar matahari memerlukan waktu hingga 80 menit untuk mencapai Saturnus. Selain itu, jarak yang jauh juga berdampak pada suhu rata-rata planet ini.
2. Dipenuhi Gas Berbahaya
Planet Saturnus didominasi oleh gas hidrogen dan helium. Selain itu, di atmosfernya juga terdapat kristal amonia, air, metana, dan berbagai senyawa lainnya. Meskipun para peneliti menemukan jejak oksigen di atmosfer Saturnus, gas yang ada di permukaan planet ini sangat berbahaya dan tidak dapat dihirup oleh makhluk hidup. Di samping itu, Saturnus juga kekurangan pasokan air, dengan keberadaan air yang sangat minim. Air hanya dapat ditemukan dalam bentuk awan yang mengandung kristal air.
Saturnus tidak memiliki permukaan padat yang dapat diinjak oleh manusia. Planet ini terutama terdiri dari gas dan hidrogen cair, menjadikannya memiliki kepadatan yang bahkan lebih rendah daripada air. Meskipun para ilmuwan berusaha menemukan permukaan padat di Saturnus, yang ada hanyalah lapisan hidrogen logam dalam bentuk padat. Tanpa adanya tempat yang kokoh untuk berpijak, tidak mungkin makhluk hidup dapat bertahan di planet ini. Kehidupan hanya dapat berkembang dengan baik di atas permukaan padat yang mendukung ekosistem yang sesuai.
Cuaca di Saturnus sangat ekstrem. Pesawat ruang angkasa Cassini NASA yang mengorbit Saturnus dari tahun 2004 hingga 2017 mencatat fenomena kilat yang terjadi di planet ini pada siang hari, menunjukkan kekuatan petir yang luar biasa. Diperkirakan, petir di Saturnus 10 ribu kali lebih kuat dibandingkan dengan petir di Bumi. Selain melihat kilat, NASA juga mampu mendengarnya. Di Saturnus, terdapat badai besar yang dapat membentang lebih dari 300 ribu kilometer, dan badai petir ini melingkupi hampir seluruh planet. Angin di daerah khatulistiwa Saturnus dapat mencapai kecepatan 1.800 km per jam. Di kutub utara, terdapat badai heksagonal yang sangat besar. Selain itu, planet ini dikelilingi oleh sabuk radiasi yang terdiri dari elektron dan proton, yang berpotensi merusak segala bentuk kehidupan. (Tifani)