Ilmuwan Ungkap Usia Cincin Saturnus Lebih Tua daripada Planetnya
Namun para ilmuwan menyarankan dilakukannya penelitian lebih lanjut untuk menentukan usia cincin secara lebih akurat.
Saturnus, salah satu planet tertua di Tata Surya, diperkirakan terbentuk sekitar 10 juta tahun setelah Matahari lahir. Planet ini terkenal dengan cincin-cincinnya yang luar biasa, terdiri dari es dan batu. Selama bertahun-tahun, ilmuwan percaya bahwa cincin ini berusia sama dengan Saturnus, yaitu sekitar 4,5 miliar tahun.
Namun, data dari wahana antariksa Cassini milik NASA, yang tiba di Saturnus pada 2004, memberikan bukti sebaliknya. Cincin Saturnus terlihat sangat bersih, dengan 98 persen isinya berupa es air murni. Hal ini dianggap tidak wajar karena benda-benda di Tata Surya biasanya akan tertutup debu seiring waktu.
"Hampir mustahil untuk menghasilkan sesuatu yang begitu bersih," kata Sascha Kempf dari Universitas Colorado Boulder, penulis utama salah satu studi yang mencoba menentukan usia cincin Saturnus.
"Bayangkan cincin itu seperti karpet di rumah Anda. Jika Anda memiliki karpet bersih, Anda tinggal menunggu. Debu akan menempel di karpet Anda. Hal yang sama berlaku untuk cincin," tambahnya.
Para ilmuwan turut menghitung bahwa jumlah debu yang menumpuk di cincin setiap tahun adalah sekitar 166 miliar ton. Berdasarkan jumlah ini, mereka memperkirakan usia cincin tersebut sekitar 400 juta tahun, jauh lebih muda dibandingkan usia dari Saturnus sendiri.
Melansir dari IFLScience, Jumat (20/12), sebuah penelitian baru mengungkap bahwa kebersihan cincin Saturnus mungkin tidak ada kaitan langsung dengan usianya. Saat mikrometeoroid bertabrakan dengan partikel cincin pada kecepatan tinggi (30 km/detik), material non-es dari penumbuk tidak langsung menempel pada cincin. Sebaliknya, material ini bisa menguap atau membentuk nanopartikel yang terlempar keluar oleh gravitasi Saturnus atau medan elektromagnetiknya.
"Kami menemukan bahwa penguapan dan pemuaian lengkap material penumbuk non-es pada tabrakan energik dengan partikel cincin menyebabkan pembentukan nanopartikel dan ion bermuatan yang kemudian dikeluarkan dari cincin melalui tabrakan dengan Saturnus, lepasnya gravitasi, atau tarikan elektromagnetik ke atmosfer Saturnus," tulis tim peneliti dalam makalah mereka.
Mereka juga menambahkan, "konsep usia paparan, yang menunjukkan bahwa cincin Saturnus masih muda berdasarkan akumulasi kumulatif material mikrometeoroid gelap, tidak boleh dijadikan satu-satunya acuan untuk memperkirakan usia cincin secara meyakinkan."
Dengan kata lain, meskipun cincin terlihat bersih, itu tidak selalu berarti cincin tersebut muda. Cincin Saturnus bisa jadi setua planetnya sendiri.
Para ilmuwan menyarankan dilakukannya penelitian lebih lanjut untuk menentukan usia cincin secara lebih akurat. Misalnya, mengamati faktor seperti porositas dan struktur partikel cincin bisa memberikan pengetahuan baru tentang pembentukan dan evolusi cincin.
Penelitian ini juga bisa memberikan pemahaman yang lebih baik tentang cincin di planet lain seperti Uranus dan Neptunus.
"Dampak kecepatan tinggi yang mengarah pada pembentukan nanopartikel dan ion bermuatan berpotensi terjadi di tempat-tempat seperti cincin Uranus dan Neptunus serta bulan-bulan es di sekitar planet raksasa," kata tim peneliti.
"Meskipun mekanisme ini mungkin tidak mengubah komposisi massal target yang terdampak, mekanisme ini menunjukkan bahwa komposisi permukaan dapat berubah," tutupnya.
Reporter magang: Nadya Nur Aulia