Menurut Ilmuwan Jupiter Punya Cara Pertahankan Bentuknya hingga Kini, Kalau tidak Bisa Berubah

Planet gas seperti Jupiter mampu mempertahankan bentuknya karena memiliki tekanan internal yang sangat tinggi.

Switzy Sabandar
Oleh Switzy Sabandar - Reporter
Menurut Ilmuwan Jupiter Punya Cara Pertahankan Bentuknya hingga Kini, Kalau tidak Bisa Berubah
Planet Jupiter (Sumber: dreamstime.com) (© 2025 Liputan6.com)

Planet gas seperti Jupiter memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan planet berbatu seperti Bumi atau Mars.

Tidak memiliki permukaan padat yang jelas, planet ini tersusun atas lapisan gas yang sangat tebal, seolah-olah mengambang di ruang angkasa.

Namun, pertanyaannya adalah bagaimana planet raksasa ini dapat mempertahankan bentuknya tanpa kehilangan atmosfer ke luar angkasa?

Mengutip dari laman NASA pada Kamis (30/1), Planet Jupiter memiliki kombinasi gravitasi, tekanan gas, dan efek rotasi yang berbeda.

Gravitasi menarik materi menuju pusat planet, sementara tekanan dari gas dan energi internalnya berfungsi untuk mencegahnya runtuh sepenuhnya.

Selain itu, rotasi planet juga berkontribusi terhadap bentuknya, sering kali membuat planet ini sedikit pepat di kutub dan lebih lebar di ekuator.

Berikut adalah beberapa alasan mengapa planet gas seperti Jupiter dapat mempertahankan bentuknya. Pertama, ada peran gravitasi.

Setiap objek yang memiliki massa, termasuk planet gas raksasa, akan menghasilkan gaya gravitasi. Meskipun sebagian besar terdiri dari gas, massa yang sangat besar dari planet-planet ini menghasilkan gravitasi yang kuat.

Gaya gravitasi inilah yang berfungsi untuk menahan gas-gas penyusun planet agar tetap bersatu dan membentuk struktur yang stabil.

Sebagai ilustrasi, Jupiter memiliki massa sekitar 318 kali massa Bumi, yang menghasilkan gravitasi yang sangat kuat untuk menahan atmosfer tebalnya.

Kedua, tekanan internal juga memainkan peran penting dalam mempertahankan bentuk planet gas.

Di dalam planet seperti Jupiter, gas hidrogen dan helium yang menjadi komponen utama terkompresi sedemikian rupa sehingga menciptakan tekanan yang sangat tinggi.

Tekanan ini berfungsi untuk mencegah gas-gas tersebut tercerai-berai ke ruang angkasa, sehingga planet tetap dapat mempertahankan bentuknya.

Dengan kombinasi gravitasi yang kuat dan tekanan internal yang tinggi, planet gas seperti Jupiter mampu bertahan sebagai entitas yang stabil di alam semesta.

Planet gas raksasa berbeda dari planet berbatu karena tidak memiliki permukaan padat. Mereka terdiri dari lapisan-lapisan dengan komposisi dan fase materi yang beragam.

Pada lapisan terluar, terdapat atmosfer yang sebagian besar terdiri dari hidrogen dan helium dalam bentuk gas.

Seiring dengan kedalaman, tekanan dan suhu meningkat, yang mengubah hidrogen gas menjadi hidrogen metalik cair yang dapat menghantarkan listrik. Di bagian inti, kemungkinan terdapat inti padat yang terdiri dari elemen berat.

Planet Gas Raksasa dapat didefinisikan sebagai planet yang sebagian besar komposisinya terdiri dari gas, seperti hidrogen dan helium, dengan inti berbatu yang relatif kecil.

Selain Jupiter, terdapat beberapa planet gas lain di tata surya, seperti Uranus dan Neptunus. Saturnus memiliki kesamaan dengan Jupiter dalam hal komposisi atmosfer, yang juga didominasi oleh hidrogen dan helium.

Namun, Saturnus dibedakan oleh sistem cincinnya yang luas dan kompleks, yang sebagian besar terdiri dari kombinasi partikel es dan puing-puing batu.

Interaksi gravitasi antara Saturnus dan bulan-bulannya menghasilkan cincin-cincin ini. Seperti Jupiter, struktur interior Saturnus sebagian besar terdiri dari gas, dengan inti berbatu yang dikelilingi oleh hidrogen metalik cair.

Hidrogen cair ini akan berubah menjadi hidrogen gas di ketinggian yang lebih tinggi.

Sementara itu, Uranus juga mengandung banyak hidrogen dan helium serta memiliki kandungan "es" yang mencolok, termasuk air, amonia, dan metana.

Senyawa-senyawa ini memberikan rona kebiruan yang khas pada Uranus, karena metana menyerap cahaya merah dari matahari. Warna ini membedakan Uranus dari planet lain dalam tata surya kita.

Atmosfer Uranus ditandai oleh pola cuaca ekstrem dan angin berkecepatan tinggi yang dapat mencapai 900 kilometer per jam.

Berbeda dengan Jupiter dan Saturnus, Uranus memiliki sumbu rotasi miring sekitar 98 derajat, yang menyebabkan variasi musiman yang ekstrem di seluruh orbitnya.

Kemiringan sumbu ini juga memicu fenomena atmosfer unik, termasuk badai kutub yang dapat berlangsung selama bertahun-tahun.

Planet gas terakhir dalam tata surya adalah Neptunus. Atmosfer Neptunus mirip dengan Uranus, terdiri dari hidrogen, helium, dan amonium.

Rekomendasi