Awalnya Dikira Bisu, Ilmuwan Ungkap Suara Hiu Bisa Sekeras Ledakan Senapan
Selama puluhan tahun para ilmuwan beranggapan hiu rig bisu atau tak mengeluarkan suara.
Selama beberapa dekade, para ilmuwan meyakini bahwa hiu sebenarnya benar-benar hewan yang bisu atau tak bersuara. Sampai suatu hal tak terduga muncul dari kedalaman.
Penemuan mengejutkan yang berasal dari Selandia Baru menantang asumsi itu. Studi terbaru mengungkapkan bahwa hiu rig (Mustelus Lenticulatus) dapat menghasilkan suara klik yang dapat didengar, suara tersebut berpotensi sebagai bentuk tekanan atau pertahanan hiu.
Penemuan itu muncul secara tidak sengaja, selama eksperimen perilaku di Laboratorium Kelautan Leigh di Universitas Auckland.
Seperti dikutip Daily Galaxy, Jumat (28/3), ketika peneliti sedang menangani sepuluh hiu ring muda di bawah air, mereka merekam serangkaian klik yang keras dan jelas. Suara-suara ini konsisten di semua individu. Namun tampak berkurang seiring berjalannya eksperimen.
"Hiu memiliki sistem sensorik yang lebih canggih daripada pendengarannya, seperti elektroreseptor, penciuman, dan cara mereka mendorong diri di dalam air," jelas Carolin Neider, peneliti di Woods Hole Oceanographic Institution dan penulis utama penelitian ini.
Hiu rig tidak memiliki kantung renang, struktur yang biasa digunakan oleh banyak ikan untuk menghasilkan suara. Pemindaian CT juga tidak menunjukkan anatomi sonic yang jelas.
Peneliti berspekulasi suara itu berasal dari rahang yang mengatup atau gigi yang beradu. Hiu rig memiliki gigi khusus seperti pelat yang dikenal sebagai gigi trotoar, yang biasa digunakan untuk menghancurkan krustasea.
Struktur yang sama ini mungkin juga menghasilkan bunyi klik yang keras saat rahang menutup dengan cepat. Namun, dikarenakan gerakan rahang tidak diamati secara langsung selama produksi suara, teori ini masih bersifat hipotesis.
Setiap bunyi klik yang terekam berlangsung sekitar 48 milidetik dan dalam beberapa kasus, terukur lebih dari 155 desibel yang berarti setara dengan ledakan senapan.
Hiu-hiu tersebut kebanyakan mengeluarkan bunyi klik tunggal dari pada klik ganda. Sekitar 70 persen suara dihasilkan dalam gerakan tubuh yang tenang dan bergoyang. Beberapa terekam tanpa ada gerakan yang terlihat, hal ini menunjukkan perilaku tersebut mungkin bersifat halus atau refleksif.
Bukan Alat Komunikasi
Jangkauan pendengaran hiu sendiri berada di bawah satu kilohertz, sehingga membuat bunyi ini tidak mungkin digunakan untuk berkomunikasi antara satu dan yang lainnya.
Namun predator mereka, seperti anjing laut berbulu Selandia Baru (Arctocephalus Forsteri) dapat mendeteksi frekuensi yang lebih tinggi. Peneliti meyakini suara tersebut dapat berfungsi sebagai sinyal kaget yang memberi sedikit waktu untuk hiu muda agar melarikan diri.
Hal ini sejalan dengan perilaku yang terlihat pada ikan tulang rawan lainnya seperti ikan pari dan ikan gertak yang diamati dapat mengeluarkan bunyi klik ketika diganggu oleh penyelam.
Reporter magang: Devina Faliza Rey