Para peneliti mengungkap penemuan tak terduga di aliran sungai pegunungan yang terisolasi di Andes, Chili. Spesies amfibi tersebut dianggap punah selama lebih dari 120 tahun. Amfibi ini bernama Alsodes vittatus, katak kecil yang hanya diketahui dari catatan lama dan satu spesimen.
Dikutip dari Daily Galaxy, Kamis (27/3), katak endemik Chili tersebut hilang dari pantauan sains selama satu abad. Pertama kali dideskripsikan oleh naturalis kelahiran Jerman Rudolph Amandus Philippi pada 1902. Ia mencatat ciri khasnya memiliki garis kekuningan yang membentang di sepanjang punggungnya.
Namun, setelah deskripsi Philippi, katak tersebut menghilang tanpa jejak. Meskipun telah dilakukan berbagai upaya antara 1995 dan 2002 untuk menemukan katak tersebut.
Kisah penemuan kembali katak tersebut lebih banyak berkaitan dengan pekerjaan detektif historis dari pada biologi. Tim peneliti ini dipimpin oleh Dr. Claudio Correa dari Universidad de Concepcion. Ia bertugas untuk menyusun petunjuk-petunjuk dari masa lalu.
Tim peneliti tersebut mempelajari catatan perjalanan dari Philibert Germain, entomolog Prancis yang mengumpulkan spesimen asli pada 1893. Ia memetakan perjalanannya melintasi Andes ke Hacienda San Ignacio de Pemehue, yang kini terletak di perbatasan antara wilayah Biobio di Chili dan La Araucania.
Penyelidikan historis mereka mengarah ke lembah-lembah tertentu di kaki bukit Andes. Dari tahun 2015 hingga 2024, tim peneliti memulai ekspedisi lapangan, terutama pada malam hari saat katak-katak aktif. Kegigihan mereka membuahkan hasil pada 2023 dan 2024, saat mereka menemukan lima populasi katak Alsodes yang sebelumnya tidak diketahui.
Dari kelima katak tersebut, tiga di antaranya dipastikan sebagai A vittatus yang lama hilang dan menghuni sungai terpencil pada ketinggian antara 1.421 dan 1.610 meter.
Advertisement
Sungai-sungai ini dingin dan berbatu, terletak di antara hutan beriklim sedang yang memiliki pohon-pohon teka-teki monyet yang ikonik. Peneliti mengamati variasi tampilan katak, terutama garis kekuningan yang dianggap sebagai ciri khas spesies tersebut.
Pada beberapa individu, garis ini menonjol, sementara pada yang lain, garis ini sama sekali tidak ada. Variasi ini belum pernah terdokumentasikan sebelumnya, sehingga memberikan penjelasan mengapa pencarian sebelumnya gagal menemukan spesies tersebut.
Analisis DNA juga membawa perubahan yang tak terduga. Populasi Alsodes vittatus ditemukan secara genetik dekat dengan Alsodes neuquensis (spesies yang terkenal di Argentina). Anehnya, satu spesimen A. vittatus secara genetic lebih dekat dengan A. neuquensis dari pada A. vittatus lainnya di lokasi yang sama.
Hal ini menimbulkan pertanyaan menarik tentang apakah kedua spesies tersebut sebenarnya merupakan spesies Tunggal yang membentang di kedua sisi Andes, sehingga memerlukan revisi pada status taksonomi mereka.
Advertisement
Meskipun penemuan ini menarik, masa depan katak tersebut masih belum pasti. Habitatnya sangat terbatas, hanya seluas sekitar delapan kilometer persegi, dan terus menerus terancam oleh penggundulan hutan dan perluasan lahan penggembalaan ternak.
Spesies invasif seperti ikan trout (pemangsa kecebong) dan bahaya perubahan iklim juga mengancam perluasan habitat katak kecil ini.
Selama survei, tim peneliti mengamati keragaman yang mencolok pada warna katak tersebut. Warna katak Jantan dewasa berkisar dari coklat muda dengan corak kuning dan hijau hingga coklat zaitun, sementara beberapa katak muda memiliki warna coklat tua.
Reporter magang: Devina Faliza Rey